Dengan Anggaran Terbatas, Dinas LH Natuna Baru Mampu Kelola Sampah di Empat Kecamatan

44

WARTAKRPRI.co.id, NATUNA – Peningkatan sampah di Kabupaten Natuna dari waktu ke waktu terus naik. Sementara Keterbatasan anggaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna, berdampak kurang maksimal dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Natuna.

Pada tahun ini, DLH Natuna hanya memiliki anggaran sebesar Rp 1,9 miliar khusus diperuntukan dalam pengelolaan sampah, sementara pertahun hasil sampah di kabupten Natuna mencapai kisaran 100 ton.

Dengan anggaran sebesar itu, DLH Natuna baru bisa mengelola dan melayani pembuangan sampah disekitar ibu kota, meliputi kecamatan Bunguran Timur, Kecamatan Pulau Tiga, Pulau Tiga Barat dan Sedanau, sementara untuk kecamatan Serasan, Miadai dan Subi masih belum bisa ditangani.

Afriyudi Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (DLH) Kabupaten Natuna

Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas (DLH) Kabupaten Natuna, Afriyudi membenarkan dengan anggaran sebesar Rp. 1,9 miliar dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) masih mengalami kendala dalam pengelolaan sampah secara menyeluruh.

“Secara keseluruhan pengelolaan sampah Natuna masih belum bisa kita maksimalkan, ini secara keseluruhan untuk kabupaten Natuna, akan tetapi untuk kecamatan kota khususnya kecamatan Bunguran Timur, dengan anggaran sebesar itu bisa kita maksimalkan kisaran 80 persen. Ada beberapa desa yang belum bisa tangani, salah satunya desa Sungai Ulu,” tutur Afriyudi kepada media ini.

Afriyudi juga mengatakan, DLH juga telah melakukan pengelolaan sampah di pulau terluar, seperti Pulau Tiga, Pulau Tiga Barat dan Pulau Sedanau.

“Kita dari pihak DLH telah melayani penangan sampah utuk Pulau Terluar, seperti pulau tiga, pulau Tiga Barat dan pulau Sedanau, namun baru mampu mengangkut sampah di pulau-pulau itu sebesar 40 persen saja,” terangnya.

Selain itu, Afriyudi juga menjelaskan kendala apa saja yang dialami oleh DLH untuk pengelolaan sampah di kecamatan Serasan, Midai dan Subi.

“Untuk pengelolaan sampah di kecamatan Serasan, Midai dan Subi belum bisa kita tata dan kelola sama sekali, karena untuk pengelolaan sampah di tiga kecamatan terluar ini, kita membutuhkan biaya yang sangat besar,” sebutnya.

Afriyudi menguraikan, sebab tidak memungkinkan sampah yang dari tiga kecamatan ini kita angkut dengan armada laut, mengingat letak tiga kecamatan ini yang cukup jauh, butuh Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), sedangkan rujukan dari peraturan Permen PUPR nomor 3 tahun 2015, untuk membuka TPST kita harus memiliki areal atau lahan paling kecil 2 hektar.

“Sementara untuk pembebasan lahan sudah dipastikan akan memakan dana yang cukup besar,” terang Afriyudi.

Untuk saat ini DLH terus berupaya menyediakan TPST di tiga kecamatan terluar melalui surat minat dari Bupati yang ditujukan untuk tingkat Provinsi maupun melalui APBN.

“kita telah mengajukan anggaran ketingkat Provinsi sampai Pusat, dalam ajuan kita ketingkat provinsi diperuntukan Serasan dan Midai, melalui surat minat Bupati yang telah kita layangkan ke Kementerian PUPR,” tutur Afriyudi.

Afriyudi berharap untuk kedepannya, DLH memiliki anggaran yang cukup untuk mendukung segala sarana dan prasarana dalam pengngelolaan sampah dikabupaten Natuna, sehingga masalah sampah bisa diatasi lebih efisien lagi.

Walau dengan kondisi anggran terbatas Dalam penanganan sampah, sebut Boy Wijanarko tidak ilang akal, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Natuna mempunyai konsep atau program berupa Tacil Natalin, Milih, dan Gemas Milih.

Program Tacil Natalin atau tangan kecil menata lingkungan kata Boy Wijanarko, merupakan program pendekatan pelajar siswa/siswi Sekolah Dasar untuk peduli lingkungan secara dini.

Kemudian ujar Boy Wijanarko, melalui program Milih atau milenial peduli sampah, yang merupakan program untuk pendekatan ke pelajar siswa/siswi SLTA dan Sederajat agar lebih mencintai lingkungan.

Sedangkan program Gemas Milih atau gerakan masyarakat peduli sampah tambah Boy Wijanarko, merupakan program untuk pendekatan ke masyarakat.

“Konsep ini untuk untuk menuju Kabupaten Natuna bebas sampah,” kata Boy Wijanarko.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Natuna saat ini ujar Boy Wijanarko, sangat gencar memotifasi masyarakat untuk mengelola sampah menjadi nilai ekonomis.

Salah satunya bekerja sama dengan pihak Bank Syariah Mandiri. Yaitu dengan membuka rekening khusus untuk pembayaran hasil penjualan botol plastik, dan juga dari pihak bank sampah.

Untuk Mendukung Gerakan Budaya Bersih Dihadapan ratusan para pegawai instansi Pemerintah Kabupaten Natuna, Sekretaris Daerah Kabupaten Natuna Hendra Kesuma dalam sambutannya pada Upacara 17 hari bulan yang disejalankan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menekankan kepada seluruh pegawai agar selalu menjaga lingkungan hidup dengan tidak membiasakan membuang sampah sembarangan.

“Dalam rangka hari lingkungan hidup ini ada beberapa hal yang harus disampaikan. Namun pada intinya kita menjaga lingkungan hidup, baik itu terumbu karangnya, sampah jangan dibuang dimana-mana, dan kebersihan secara umumnya”, ujar Hendra Kesuma dalam sambutannya.

Hendra juga menyampaikan, dalam menjaga lingkungan hidup tidak hanya merupakan tugas lembaga terkait, akan tetapi merupakan tugas bersama mulai dari hal kecil yang dapat dilakukan yaitu dengan membuang sampah pada tempatnya.

Dan sebagai Aparat Sipil Negara (ASN) harus memberikan contoh kepada masyarakat, menyampaikan  serta mengajak masyarakat agar selalu menjaga lingkungan hidup dimulai dari diri sendiri dan lingkungan masing-masing. (Rky/adv)

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel