
BATAM – Perkumpulan Rempang Galang Bersatu (PRGB) menawarkan solusi untuk persoalan Rempang dengan membangun Kawasan Budaya Rempang. Kawasan Budaya Rempang adalah pemukiman baru yang dibangun dengan desaian perkampungan Melayu.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Rempang Galang Bersatu, Osman Hasyim kepada wartawan, Rabu (15/5/2024).
Seperti diketahui masalah pergeseran masyarakat Melayu di Rempang masih menyimpan sejumlah masalah. Dari target 800 KK masyarakat yang tinggal di Sembulang, Rempang yang mau di geser, baru sekitar 100 KK yang mau pindah.
BP Batam pun telah membangun empat unit rumah contoh di Tanjung Banon untuk lokasi relokasi warga yang terdampak proyek Rempang Eco City.
Namun pembangunan rumah contoh itu tetap tidak menarik masyarakat yang akan digeser mau mendaftar.
Ada banyak alasan warga tidak mau direlokasi. Mulai dari soal ganti rugi, soal komunikasi yang kurang antara BP Batam dengan masyarakat tempatan hingga soal kehilangan identitas suku Melayu.

“Kami hadir sebagai penengah antara kebijakan pemerintah dengan masyarakat. Kami tawarkan konsep baru untuk mencari solusinya,” kata Osman.
Konsep yang ditawarkan dimulai dengan membangun kembali komunikasi dari awal antara pemerintah dengan masyarakat, membicarakan ulang soal ganti rugi hingga soal konsep Kawasan Budaya Rempang untuk pemukiman masyarakat dengan nuansa Melayu.
“Inilah yang kami inginkan. Tempat tinggal masyarakat yang baru tanpa menghilangkan identitas Melayu kami,” kata Sani, Ketua PRGB.
Bangunan sekarang itu, tambah Sani, bakal menghilangkan identitas kebangsaan Melayu.
“Perkampungan tua kami digusur, tentu kami tidak mau kehilangan identitas ke-Melayu-an kami di tempat baru. Jika konsep Kawasan Budaya Rempang ini dipakai, saya yakin banyak masyarakat yang bersedia untuk pindah,” tambah Sani.
PRGB tidak saja berbicara saran dan usul. Tapi mereka sudah melangkah jauh dengan konsep dan animasi Kawasan Budaya Rempang.
Dalam video animasi yang diperlihatkan itu memang terlihat nuansa Kampung Melayunya sangat menonjol. Rumah-rumah dibangun dengan khas Melayu. Tertata rapi di lokasi baru.
“Pembangunan Kawasan Budaya Rempang ini tetap di lokasi yang sudah disediakan BP Batam, Tanjung Banon. Bedanya, rumah yang dibangun bukan mirip rumah ‘posyandu’ seperti sekarang ini,” ucap Osman.
“Kita sarankan konsep perumahan perkampungan melayu. Kalau konsep ini diterima, kita tidak saja dapat rumah tinggal, tapi juga dapat mewarisi budaya melayu. Cara hidupnya tidak jauh dari tradisi yang ada. Kita juga menciptakan pusat ekonomi baru, pusat wisata. Dia menjadi perkampungan budaya, sehingga dengan anggaran yang sama, kita dapat tujuh manfaat, kalau konsep sekarang, kita hanya dapat rumah tinggal,” tambah Osman lagi.
Sementara Tokoh Pemuda Melayu Bang Along juga setuju dengan konsep yang ditawarkan Perkumpulan Rempang Galang Bersatu.
“Memang inilah yang kita suarakan dari kemarin. Dari dulu kita tidak menolak investasi. Tapi pemerintah harus juga mendengar keinginan masyarakat. Jangan hanya mendengar segelintir tokoh saja,” ujar Bang Long.
Penulis: Denni Risman































