
WARTAKEPRI.co.id – Terminal Tanjung Uban, yang dulunya hanya berperan sebagai titik distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji (LPG), kini telah menjelma menjadi pusat logistik energi yang semakin kompleks dan strategis.
Dengan implementasi program Supplier Head Stock (SHS), terminal ini tidak hanya meningkatkan volume kargo yang ditangani, tetapi juga memperluas jangkauan bisnisnya ke berbagai jenis produk energi lainnya.
Salah satu kunci keberhasilan Terminal Tanjung Uban adalah transformasi digital yang dilakukan secara masif.
Melihat potensi pasar yang sangat besar di kawasan Asia Tenggara, Terminal Tanjung Uban terus berupaya untuk memperluas bisnisnya. Selain menjadi pusat distribusi untuk pasar domestik, terminal ini juga mengincar pasar ekspor ke negara-negara tetangga.
Dengan dukungan fasilitas yang lengkap dan kapasitas penyimpanan yang besar, Terminal Tanjung Uban siap menjadi hub energi yang menghubungkan produsen dan konsumen di kawasan ini.
Sejalan dengan komitmen Pertamina dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan, Terminal Tanjung Uban juga terus berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan. Berbagai inisiatif telah dilakukan, seperti penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah yang baik, dan penerapan standar lingkungan yang ketat.
Melalui program SHS yang dimulai pada 2002, telah terdapat penerimaan kargo SHS sebanyak 13 kapal, dengan kapasitas 4,83 juta barel. Fase berikutnya yakni pada akhir 2023 hingga Juli 2024 sebanyak 18 kapal, dengan kapasitas 5,3 juta barel.
Peningkatan performa dan operasional terminal strategis ini dipastikan langsung oleh Direktur Keuangan PIS Diah Kurniawati, pada rangkaian kunjungan Management Walkthrough (MWT) ke Tanjung Uban (18/7/2024).
Selain berperan sebagai pusat logistik energi, terminal ini juga menjadi contoh nyata bagaimana investasi dalam keselamatan dapat menjadi kunci keberlanjutan bisnis.
Sebagai bentuk mitigasi risiko, Terminal Tanjung Uban telah dilengkapi buffer zone seluas 205 hektare yang memisahkan area operasional dengan pemukiman warga. Hutan dan rawa di dalam buffer zone ini tidak hanya berfungsi sebagai penyangga alami, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati.
Komitmen terhadap keselamatan dan lingkungan telah menjadikan Integrated Terminal Tanjung Uban sebagai salah satu terminal energi paling aman di kawasan Asia Tenggara.
Direktur Manajemen Risiko PIS Muhamad Resa menambahkan, sebagai bagian dari mitigasi risiko, Integrated Terminal Tanjung Uban juga telah dilengkapi buffer zone sebagai jarak aman antara area operasional dengan pemukiman warga sepanjang 1675 m.
Buffer zone tersebut berisi hutan dan rawa seluas 205 hektare atau 83% dari luas area. PET juga telah memasang Lightning Protection System sebanyak 18 titik di seluruh area operasional.
Direktur Manajemen Risiko PIS Muhammad Resa menambahkan, “Berbagai safety measure ini kami terapkan mengingat peran vital Integrated Terminal Tanjung Uban sebagai penyangga ketahanan energi nasional. Hal ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan PIS terhadap kesejahteraan pekerja dengan standar HSSE global, yang dicapai pada 2023 dengan zero fatality dan 40,5 juta jam kerja aman.” urainya.
Sedangkan Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso menambahkan, keandalan PET sebagai anak usaha SH IML sejalan dengan target transformasi organisasi Pertamina saat membentuk subholding-subholding energi. PET, salah satu portofolio Pertamina Group yang dapat bergerak lebih lincah, kompetitif dan mandiri.
“Kami mengapresiasi dan mendukung langkah SH IML serta anak-anak usahanya dalam meningkatkan kinerjanya. Dengan pertumbuhan bisnis, kami meyakini SH IML akan menjadi layanan distribusi energi yang terbaik di Indonesia, serta kompetitif sebagai pemain global,” tambah Fadjar.
Integrated Terminal Tanjung Uban memiliki luas lebih dari 250 hektar dengan kapasitas penyimpanan sebesar 402,413 kiloliter (KL) untuk bahan bakar minyak dan 93,500 Metric Tons (MT) untuk LPG. Melalui tujuh dermaga yang bisa menampung kapal-kapal berukuran antara 600 hingga 100,000 DWT, distribusi bahan bakar minyak dan LPG hingga kargo lainnya dapat dilakukan secara efisien.
Integrated Terminal Tanjung Uban menjadi satu dari enam terminal energi strategis yang dikelola oleh PIS melalui PET, dimana PET mengelola beberapa terminal utama di Indonesia, antara lain Terminal LPG Refrigerated Tanjung Sekong (Banten), Fuel Terminal Pulau Sambu (Kepulauan Riau), Fuel Terminal Kotabaru (Kalimantan Selatan), Fuel Terminal Baubau (Sulawesi Tenggara), dan Terminal LPG Refrigerated Tuban (Jawa Timur).
(Rky)



























