Home Batam Tips dan Trik Menjadi Pengusaha UMKM Ekspor dan Go Global di Batam

Tips dan Trik Menjadi Pengusaha UMKM Ekspor dan Go Global di Batam

TALK SHOW - Para narasumber dalam talkshow Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2025 dengan tema UMKM Ekspor yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) Kepri di One Mall Batam pada Sabtu (23/8/2025). Foto Dedy Suwadha
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Kegiatan Gebyar Melayu Pesisir (GMP) sangat membantu promosi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Kepri terkhusus di Kota Batam. Even expo tahunan Bank Indonesia Kepulauan Riau (BI Kepri) yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kepri, selalu ramai dikunjungi masyarakat. Ragam kegiatan dihadirkan mulai dari bazar kuliner, talk show, penampilan minat bakat seni, olahraga, hingga hadirkan artis ibukota.

Terbaru even GMP yang digelar 21 hingga 24 Agustus 2025 lalu tidak saja mengelar bazar dan pameran UMKM, penyelenggara meningkatkan mutu even Gebyar Melayu Pesisir dengan menggelar talk show setiap harinya. Tujuannya, agar mitra UMKM dan masyarakat mendapatkan ilmu baru dari narasumber-narasumber kelas nasionl dan internasional.

Adapun, pihak yang sangat berkepentingan akan suksesnya UMKM di Batam adalah Adik Afrinaldi, Kepala Tim Implementasi, Klaster Ekonomi Kreatif dan Digital Ekonomi (KEKDA) Bank Indonesia Perwakilan Kepri.

Dalam Talk Show dengan tema UMKM Ekspor pada Sabtu 23 Agustus 2025, Adik menerangkan letak Kota Batam sangatlah menjanjikan untuk menciptakan banyak bidang UMKM yang bisa produknya orientasi Ekspor ke Singapura maupun ke Malaysia.

” Letak Batam sangat strategis dibandingkan ketia saya tugas di Aceh, Jakarta, Jogja, Bali, dan Sulawesi Tenggara dan terbaru di Batam. Untuk ciptkan UMUM ekspor terbuka peluang besar di Batam. Berbeda ketika di Sulawesi Tenggara. Saya pernah mengundang calon pemeli “bayer” dari Malaysia dan Australia ke Sulawesi Tenggara. Pada akhirnya biaya mahal untuk pengiriman produk dan tidak effisien, maka tidak terjadi bisnis placing atau penempatan produk di negara yang dituju. Beda dengan Batam, saya melihat potensi produk UMKM baru untuk bisnis placing berpotensi besar, terutama ke Singapura dan Malaysia,” kata Adik Afrinaldi dalam sambutannya acara Talk Show UMKM Ekspor di One Mall Batam.

Ditambahkan Adik, data tahun sebelumnya menjelaskan UMKM telah menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi lebih dari 61.1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penerapan tenaga kerja mencapai 97,1 persen dari total tenaga kerja nasional.

Jadi disini, UMKM berperan penting dalam menstabilkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Peran bank Indonesia untuk UMKM ada tiga pilar, pertama ada pilat kooporatisasi untuk peningkatan daya saing, pilar kedua adalah kapabilitas untuk meningkatkan produktivitas, dan ketiga pilar pembiayaan untuk mendorong nilai investasi lebih baik lagi.

“Bagi BI terciptanya banyak UMKM ekspor di Kepri dan Batam Khusus merupakan target tertinggi. Semoga narasumber khusus untuk UMKM Ekspor dapat memberikan tips dan trik agar bisa menjadi pengusaha UMKM Ekspor,” harapan Adik.

Gebyar Melayu Pesisir dan UMKM bersama Bank Indonesia Kepri ok
Adik Afrinaldi, Kepala Tim Implementasi, Klaster Ekonomi Kreatif dan Digital Ekonomi (KEKDA) Bank Indonesia Perwakilan Kepri (tengah) bersama Narasumber dan Moderator Talk Show UMKM Ekspor. Foto Dedy Suwadha

Produk Dibutuhkan Global

Menyambut harapan itu, Bonnie Susilo, Bisnis Facility dan Mentor UMKM di Indonesia menyampaikan sejumlah tips agar produk UMKM di Kota Batam dapat dijual di luar negeri. Menurut Bonnie, pasar produk UMKM di luar negeri terpengaruh paska pandemi covid-19.

Produk dengan pasar terbuka itu berjenis produk Wellness revolution yang trend atau banyak diminati di luar negeri. Produk Wellness yang dapat peningkatan Kesehatan, seperti produk suplemen kesehatan. Produk itu ada bernilai protein tinggi, lokal Indonesia bisa aneka bahan jamu dan madu.

” Jadi prodik kesehatan herbal itu cukup diminati hingga sekarang di luar negeri,” kata Bonnie yang juga Co Founder Chief Marketing Officer Ultra.

Adapun produk kedua yang diminati pasar global adalah produk berbasis nabati. Produk nabati atau vegan pengganti daging, keju atau susu.

” Produk pengganti daging seperti vegan daging dibutuhkan di Singapura, Malaysia dan Thailand,” tambah Bonnie.

Agar produk bisa tembus pasar global, perhatikan kemasan produk yang digunakan. Apakah kemasan sudah ramah lingkungan atau tidak. Dan terpenting juga bagaimana cara pengolahan produknya. Itu juga diperhatikan oleh bayer luar negeri.

Cara pengolahan baik dari tempat, penggunaan mesin dan karyawan harus benar benar teliti. Karena pembeli luar negeri memperhatikan itu, dan pastikan setiap produk dibuat ada sertifikasi dan labelisasinya.

Pasar di Singapura

Untuk membuktikan apakah produk UMKM Indonesia dapat terserap dan terjual di Singapura, pihak penyelenggara langsung menghadirkan Evelin, Owner Minimarket Toko Indo di Singapura. Memiliki beberapa cabang di Singpara, Toko Indo dikenal menyediakan aneka produk UMKM dari Indonesia dan terkhusus didatangkan dari Kota Batam.

” Toko Indo sendiri dimulai sangat sederhana dari tahun 2021, dari toko kecil di daerah Beauty World atah ke barat Singapura. Tahun 2023 kami melebarkan sayap dan branding Toko Indo di cabang baru Lucky Plaza Orchard Road di tahun yang sama,” terang Evelin disambut tepuk tangan peserta.

Ditambahkan Evelin, di Toko Indo hampir seluruh produk yang dijual adalah produk Indonesia. Hanya 0,5 persen bukan produk Indonesia. Semua produk di impor langsung dari Indonesia.

Adapun produk yang digemari dan tetap dicari oleh pembeli adalah produk simpel yaitu permen asam pedas bukan dari Indonesia.

” Produk ini asam pedas ini sempat tidak mau kami pasarkan lagi, tapi minat sangat tinggi kembali kami pasarkan. Sederhana, permen manis tapi ada pedasnya. Inilah peluang bagi UMKM di Batam.

Untuk mayoritas pelanggan dari Toko Indo merupakan WNI yang tinggal di Singapura.

Ada yang sebagai TKW, ada yang sebagai profesional, ada yang tinggal tetap di sana sebagai permanent resident, lalu pelajar dan juga orang Indonesia yang sudah menjadi warga negara Singapura.

” Ada yang rawat inap di Singapura, dan bahkan turis Indonesia di Singapura selalu ada setiap hari berbelanja. Alasannhya, lidah Indonesia, jadi makan seleranya tetap produk Indonesia,” ungkap Evelin.

Untuk jenis produk yang digemari turis selain Indonesia adalah produk kerupuk udang. Biasanya digemari oleh turis dari Filipina jadi oleh oleh dibawa ke Filipina. Lalu orang China dan bule Eropa biasanya memborong permen Tolak Angin kemasan.

” Ini oleh oleh yang tidak ada di negara mereka. Permen ini banyak khasiatnya. Selain itu, orang orang eropa juga menyukai kerupuk emping,” tambah Evelin.

Sedangkan, terkait tips agar produk UMKKM Indonesia bisa masuk pasar Singapura diantanya, pelaku UMUM mengenai produk sendiri dan apakah produknya bisa diterima pembeli Singapura. Selain itu, bagaimana kemasannya dibuat serta harus memperhatikan kadarluarsa atau expired. Buatkan produk kadarluarsa yang tahunan, jangan belaku hanya bulanan. Karena dijamin tidak akan dilirik pasar.

” Walau kita tahun rasa dan kualitasnya sangat yakin enak dan digemari di Singapura. Tidak akan dipilih, karena kita tidak bisa mengimpor ke Singpura setiap bulan. Kami Toko Indo memasukan barang impor dari Indonesia cuma direct import melalui peti kemas perusahaan lain. Jadi tidak bisa langsung. Makanya diperhatikan kemasan dan kadarluasnya. Dan, jangan sampai kadarluarsanya belum habis, produknya sudah berubah warna dan bentuk,” tegas Evelin.

Langkah langkah UMKM Global

Nisa Azizah, Asissten Manajer di Departemen Ekonomi Keuangan Bidang Inklusif dan Hijau Bank Indonesia pusat menjelaskan semakin banyak UMKM Ekspor, maka memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk menjadi UMKM Ekspor itu, pihak Bank Indonesia fokus pada tiga hal. Pertama dari sisi produksinya, kedua dari sisi manajeman usahanya dan ketiga yang cukup penting adalah adalah akses pasar.

” Akses pasar itu, dimana banyak UMKM belum terinformasi mengenai brand atau produk apa yang lagi dibutuhkan di negara luar. Tepatnya, banyak produk UMKM kita dalam negeri tidak sesuai dengan kebutuhan pasar luar negeri. Itulah peran dan tugas Bank Indonesia, dan kita ada program Karya Kreatif Indonesia untuk mendorong UMKM berdaya ekspor,” kata Nisa Azizzah.

Data Bank Indonesia, saat ini mitra Ekspor mencapai 431 UMKM dan masih didominasi di pulau Jawa. Untuk di Kepri pertumbuhan transaksi UMKM Ekspor tercatat ada Rp 1,4 miliar. Nilai yang fantastis dan akan bisa bertambah melihat peluang pasar masih terbuka di Singapura dan Malaysia.

Langkah langkah UMKM Global, satu diantaranya pengusaha harus tahu dari sisi logistiknya.

“Kami di Bank Indonesia sarankan, ketika mau usaha anda mau ekspor, harus menyusun pemetaaan dulu apakah produk kita masuk klasifikasi sudah ditengah tengah atau masih UMKM rintisan atau lagi semangat semangatnya,” terang Azizah.

Langkah kedua, setelah melewati batasan pertama, baru persiapan produk apakah produk dibuat memenuhi permintaan global. Terpenting, kembali kita dapat memeta peta produk lain di negara tujuan ekspor kita. Karena setiap negara punya tingkat daya beli berbeda.

Dan, sebelum memproduksi produk dalam jumlah banyak, pastikan lagi etika dan regulasi di negara tujuannya. Langkah promosi produk melalui digitaliasi produk yang juga BI akan bantu mempromosikannya.

Langkah keenam tentu laporan keuangan dan manajeman produk, serta terakhir adalah harus ada kontrak atau perjanjian Kerjasama dengan jangka waktu disepakati dengan bayer luar negeri.

Lolos Uji Produk

Kehadiran even Gebyar Melayu Pesisir tahun 2025 memberi berkah dan peluang usaha baru bagi pelaku UMKM Vika yang memproduksi jamu kemasan botol di Batam.

Produk jamu kemasan botol yang diproduksinya telah diterima oleh pasar Batam, dan dipajang di Pasar Food SNL Food di Kota Batam, berhasil diterima untuk dibantu proses pemasaran di tingkat nasional dan selanjutnya akan dibimbing menjadi produk UMKM ekspor.

Produk minuman jahe botol dikemas 250 militer hingga 1 liter. Penjualan di toko cukup baik bisa 100 botol sehari.

Dalam Talk Show, Vika pun bercerita kalau produk minuman kami ternyata jadi pilihan pembeli warga Singapura dan Malaysia. Ada yang beli sebagai kebutuhan pribadi dan juga ada yang menjadi oleh oleh. Ini peluang, minuman ini bisa dipasarkan ke Singapura.

Kepada WartaKepri, Vika menargetkan minumannya bisa diekspor ke negera Singapura atau Malaysia, maka kegiatan GMP dari BI Kepri ini sangat membantu.

” Sudah bisnis placing dengan pak Bonnie dan smeco. Alhamdulilah smesco terima produk saya untuk dibawa ke Kuningan Jakarta. Di sana nanti kami dibimbing untuk pemasaran dan penggembangan produk. Semoga target menjadi mitra UMKM dengan lisensi ekspor dapat terwujud dalam waktu cepat,” harapan Vika.

Peran BI Kepri

Kepala BI Perwakilan Kepri Rony Widijarto sebelumnya menjelasakan bahwa GMP 2025 ini mengangkat tema Akselerasi Ekspor Menuju Kemandirian Ekonomi yang berkelanjutan. GMP sudah menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk memperluas pasar, serta mendorong produk daerah bisa bersaing di mancanegara.

Pihaknya BI juga menegaskan, GMP 2025 memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan UMKM ke pasar global.

Oleh karena itu, semua pencapaiannya terus ditingkatkan. Mengingat, UMKM di Kepri ini memiliki nilai strategis. Dimana UMKM ini mampu menyerap peningkatan tenaga kerja cukup signifikan hingga 99 persen. Dan, BI akan terus mendorong UMKM terhubung pada produk-produk pasar global atau ekspor.

Melihat keseriusan Bank Indonesia Kepri di Batam, jika anda Pelaku UMKM tahun 2025 ini belum tembus pasar Ekspor, mari bersama menunggu even GMP tahun 2026. Sembari menunggu, Anda pelaku UMKM persiapkan dan tingkatkan serta penuhi syarat syarat menjadi pelaku UMKM Ekspor. (*)

Tulisan dan Foto Dedy Suwadha

WhasApp

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026