
ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menanggapi keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait penggalian di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa yang sebelumnya ia singgung dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat beberapa hari lalu.
Dalam pidatonya, Erdoğan menegaskan bahwa Yerusalem bukan hanya kehormatan bagi umat Muslim, tetapi juga bagi seluruh dunia. Ia menyebut langkah Netanyahu mencoba mengaitkan dirinya dengan “prasasti Silwan” sebagai upaya memanipulasi sejarah.
“Netanyahu tanpa malu-malu mencoba menghubungkan dirinya dengan prasasti Silwan. Apakah Sultan Abdul Hamid yang memberikannya kepada Anda? Kami, keturunan Sultan, tidak akan memberikan Netanyahu bahkan satu batu pun dari Yerusalem,” tegas Erdoğan, Sabtu (20/9/2025).
Erdoğan menekankan bahwa bangsa Turki memiliki ikatan sejarah yang panjang dengan Yerusalem, bukan sebagai penjajah, melainkan penguasa sah yang melindungi wilayah tersebut selama berabad-abad.
“Kami bukan tamu di sini dan kami bukan penjajah. Kami adalah penguasa wilayah ini selama seribu tahun dan akan tetap demikian hingga akhir zaman,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa kekuasaan Ottoman di kawasan tersebut berlangsung ratusan tahun, jauh lebih lama dibandingkan kehadiran Israel yang baru berdiri dalam beberapa generasi terakhir. “Kami berkuasa selama ratusan tahun di wilayah yang baru dijangkau lawan kami dua atau tiga generasi lalu,” kata Erdoğan.
Presiden Turki itu menegaskan, Ankara tidak akan pernah mengizinkan siapa pun menodai kesucian Yerusalem. Ia menambahkan bahwa Turki memiliki rekam jejak panjang dalam menjaga dan melindungi kota tersebut. “Turki telah melayani Yerusalem dan melindunginya selama 400 tahun,” tuturnya.
Pernyataan Erdoğan ini semakin mempertegas posisi Turki sebagai salah satu negara yang paling vokal menentang langkah Israel di Yerusalem, khususnya terkait status Masjid Al-Aqsa yang kerap menjadi titik ketegangan antara Israel dan Palestina.
Netanyahu Sindir Presiden Erdoğan Terkait Silwan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyindir keras pernyataan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan yang sebelumnya mengecam dirinya terkait penggalian di bawah Masjid Al-Aqsa dan klaim atas “prasasti Silwan.”
Dalam keterangannya, Netanyahu menyebut komentar Erdoğan sebagai bentuk “distorsi sejarah” dan menegaskan bahwa keterikatan bangsa Yahudi dengan Yerusalem jauh lebih tua daripada kekuasaan Ottoman. (*)
Editor : Dedy Suwadha
Amerika Veto “Gagalkan” Resolusi DK PBB soal Untuk Gencatan Senjata di Gaza

























