WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Di tengah duka mendalam akibat banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, sebuah gerakan kemanusiaan berbasis literasi muncul membawa secercah harapan.
Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) menggelar aksi “Panggung Solidaritas, Senandung Doa untuk Sumatera” pada Minggu, 21 Desember 2025.
Panggung solidaritas, senandung doa untuk Sumatera digelar sebagai langkah nyata pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana.
Data BNPB per 20 Desember 2025 menunjukkan dampak bencana yang sangat memilukan, di mana sebanyak 1.090 jiwa meninggal dunia dan lebih dari 510 ribu warga terpaksa mengungsi.
Di tengah reruntuhan, infrastruktur literasi pun turut hancur, buku-buku tertimbun lumpur dan bangunan TBM hanyut tersapu air.
Fokus pada pemulihan mental anak (Dukungan Psikososial)
Ketua Pengurus Pusat Forum TBM, Opik menjelaskan, berbeda dengan bantuan logistik pada umumnya, Forum TBM menitikberatkan misinya pada dukungan psikososial berbasis literasi.
“Langkah ini diambil karena trauma pascabencana seringkali meninggalkan luka batin yang dalam, terutama bagi anak-anak di pengungsian,” terang Opik.
Opik menyebut, melalui donasi yang terkumpul, Forum TBM menjalankan program Reading Healing.
“Membaca nyaring, membacakan cerita yang menenangkan untuk mengalihkan trauma,” katanya.
“Story Sharing, memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka,” tambah Opik.
Tidak hanya itu saja, pihaknya juga telah melakukan terapi kreatif. Melalui aktivitas menulis, menggambar dan permainan literasi untuk mengembalikan keceriaan.
“Sudut baca darurat, dengan menyediakan akses buku di tenda-tenda pengungsian agar pendidikan anak tidak terhenti total.
Solidaritas tanpa batas dari seluruh nusantara
Opik menambahkan, aksi kemanusiaan ini menjadi bukti kuatnya tali persaudaraan antarpegiat literasi.
“Dari Papua hingga Aceh, para relawan bersatu dalam panggung virtual untuk memberikan dukungan moral dan material,” pungkasnya.
Ruang baca boleh tenggelam, tapi kata Opik semangat literasi dan tekad para penggeraknya tidak boleh ikut karam.
“Panggung ini menampilkan kolaborasi seni yang sarat pesan lingkungan, mulai dari pertunjukan Wayang Kali dengan lakon “Lele Gugat” hingga doa lintas agama yang dipimpin oleh perwakilan dari berbagai wilayah Indonesia,” imbuhnya.
Hal ini kata Opik menegaskan bahwa bencana di Sumatera adalah duka bagi seluruh bangsa.
Apresiasi untuk para relawan
Keberhasilan misi ini masih kata Opik digerakkan oleh dedikasi Tim Kreatif Divisi Program PP Forum TBM dan para sukarelawan yang bekerja tanpa lelah di balik layar.
“Mereka memastikan pesan kemanusiaan ini tersampaikan secara luas melalui kanal digital, mengetuk pintu hati masyarakat untuk ikut peduli,” ungkap Opik.
Ia berujar bahwa, perjuangan belum usai. Forum TBM kini membuka gelombang donasi berikutnya yang akan difokuskan pada perbaikan fisik bangunan TBM yang rusak.
Pendistribusian buku pengganti untuk mengisi rak-rak yang kosong akibat bencana.
“Mari bersama-sama memulihkan ekosistem literasi di Sumatera. Setiap dukungan kita merupakan investasi bagi masa depan anak-anak di wilayah terdampak,” tandasnya.
Azis Maulana





























