Home Karimun Dingkis, Emas Berenang Jadi Primadona Imlek di Karimun, Simbol Rezeki dan Kelimpahan

Dingkis, Emas Berenang Jadi Primadona Imlek di Karimun, Simbol Rezeki dan Kelimpahan

Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan terhadap
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan terhadap Ikan Dingkis (Siganus canaliculatus) di wilayah Kepulauan Riau, khususnya di Karimun, meningkat tajam.(Foto: Istimewa)
PANBIL IMLEK

WARTAKERI.co.id, KARIMUN – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, permintaan terhadap Ikan Dingkis (Siganus canaliculatus) di wilayah Kepulauan Riau, khususnya di Karimun, meningkat tajam.

Emas Berenang yang satu ini bukan sekadar hidangan biasa, melainkan dipercaya sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran bagi masyarakat Tionghoa.

Tak heran, harga Ikan Dingkis kerap melonjak drastis mendekati hari raya Imlek. Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun dan telah menjadi bagian dari tradisi yang mengakar kuat di wilayah pesisir Karimun.

WhasApp

“Keistimewaan Ikan Dingkis terletak pada siklus biologisnya. Ikan ini diketahui mencapai puncak masa bertelur bertepatan dengan kalender lunar, yakni sekitar bulan Januari hingga Februari atau menjelang Imlek,” terang salah seorang warga Meral, Wenjie Chua, Minggu, 1 Februari 2026.

Pada periode tersebut, kata Wenjie, perut ikan dipenuhi telur yang memberikan cita rasa gurih dengan tekstur lembut dan sensasi khas saat disantap.

“Kondisi inilah yang membuat Ikan Dingkis sangat diburu, baik untuk konsumsi keluarga maupun jamuan makan malam Imlek,” katanya.

Simbol rezeki dan kesuburan

Dalam budaya Tionghoa, kata ikan atau yu memiliki pelafalan yang mirip dengan kata yang bermakna kelebihan atau surplus.

Karena itu, menyajikan ikan saat perayaan Imlek diyakini sebagai doa agar rezeki di tahun yang baru melimpah.

“Ikan Dingkis yang sarat telur semakin memperkuat makna filosofis tersebut, melambangkan kelimpahan, kesuburan serta harapan akan kehidupan keluarga yang sejahtera dan berkelanjutan,” jelas Wenjie.

Meski perayaan Imlek dirayakan di berbagai belahan dunia, tradisi menyantap Ikan Dingkis tergolong khas di Kepulauan Riau, Singapura dan Malaysia.

“Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadikan Ikan Dingkis sebagai hidangan wajib bagi banyak keluarga Tionghoa di Kepri,” pungkasnya.

Nelayan biasanya menangkap ikan ini di perairan dangkal sekitar pulau-pulau kecil saat air laut mulai pasang menjelang Imlek.

Ketua Nelayan Terpadu Kabupaten Karimun (NTKK) Desa Pongkar, Kecamatan Tebing, Ismail mengatakan, bagi masyarakat yang ingin menyajikan Ikan Dingkis, ciri utama ikan berkualitas adalah perut yang tampak buncit dan terasa padat, menandakan ikan tersebut penuh telur.

“Harganya pun cukup mahal, bekisar antara Rp 280 hingga Rp 300 ribu per kilogramnya,” ucap Ismail.

Untuk menjaga rasa alaminya, Ismail menyebut, Ikan Dingkis umumnya dimasak dengan cara dikukus bersama jahe, kecap asin dan sedikit minyak wijen.

Meski demikian, sebagian penggemar juga memilih mengolahnya dengan cara digoreng hingga garing.

“Masyarakat disarankan membeli beberapa hari sebelum Imlek, mengingat harga ikan ini bisa menembus ratusan ribu rupiah per kilogram saat mendekati hari perayaan akibat tingginya permintaan,” katanya.

Ikan Dingkis menjadi contoh nyata bagaimana siklus alam berpadu dengan kearifan lokal dan budaya, menciptakan tradisi unik yang terus lestari.

Lebih dari sekadar santapan, ikan ini merepresentasikan harapan, doa dan optimisme menyambut Tahun Baru Imlek 2026, lebih tepatnya Tahun Kuda Api.

Penulis: Junizar
Editor: Azis

Google News WartaKepri DPRD BATAM 2025

@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O