PIALA DUNIA – Pertandingan Piala Dunia 2026 makin seru saja. Norwegia baru saja mencatat sejarah sebagai tim Eropa pertama yang memastikan tiket ke babak 16 besar. Dari 13 wakil Eropa di fase 32 besar, dua favorit seperti Jerman dan Belanda justru sudah angkat koper lebih awal. Namanya juga bola: ada menang, ada kalah, dan kadang ada yang “mengalah”, siapa tahu.
Tiga laga berikutnya mempertemukan sesama tim Eropa, artinya tiga negara lagi dipastikan tersingkir. Dengan begitu, maksimal hanya delapan tim Benua Biru yang bertahan, dan Norwegia sudah mengunci satu tempat. Apakah tujuh sisanya mampu menyusul? Kita tunggu saja.
Dari Amerika Selatan, Brasil dan Paraguay sudah lolos. Afrika mengirim Maroko, sementara zona Concacaf diwakili tuan rumah Kanada. Afrika sendiri tampil luar biasa dengan sembilan wakil di 32 besar.
Sejauh ini baru Maroko yang aman, Pantai Gading dan Afrika Selatan sudah gugur, sedangkan Senegal, RD Kongo, Tanjung Verde, Mesir, Aljazair, dan Ghana masih berjuang.
Mesir memang paling berpeluang, tetapi sepak bola selalu penuh kejutan. Dari Asia tinggal Australia, sedangkan dari Concacaf masih ada Meksiko dan Amerika Serikat. Seru, bukan?
Peta jalan menuju final mulai terbaca. Di bagan kiri, Prancis, Portugal, atau Spanyol punya kans besar. Di bagan kanan, Argentina, Brasil, Inggris, dan Norwegia jadi favorit.
Catatannya, FIFA tidak hanya bicara prestasi. Sepak bola modern adalah bisnis sekaligus politik.
Final ideal bagi bisnis tentu menghadirkan bintang besar. Brasil punya Vinícius Jr. dan Neymar yang meski kerap jadi cadangan, basis penggemarnya tetap masif.
Argentina masih punya Lionel Messi yang di usia 41 tahun tetap magnet penonton. Inggris mengandalkan Jude Bellingham, Harry Kane, dan Marcus Rashford.
Portugal punya Cristiano Ronaldo dengan jumlah pengikut terbanyak di dunia. Prancis memamerkan Ousmane Dembélé peraih Ballon d’Or dan Kylian Mbappé yang masih muda serta dinamis.
Spanyol menaruh harapan pada Lamine Yamal, wonderkid pemilik sepatu emas kedua.
Tim lain pun tak bisa dipandang sebelah mata. Swedia, Kanada, Maroko yang kini peringkat tujuh dunia, Kroasia, Austria, Belgia, Meksiko, Amerika Serikat, Swiss, hingga Norwegia dengan Erling Haaland, semua punya peluang menciptakan kejutan.
Kalau bicara sisi komersial, final ulangan 2022 antara Prancis dan Argentina sangat mungkin terjadi. FIFA jelas diuntungkan dari sisi penonton. Skenario Portugal kontra Argentina juga menarik.
Namun teori lama berkata, tim Eropa sulit juara di benua Amerika. Jika itu berlaku, Argentina, Brasil, atau tuan rumah Amerika Serikat bisa jadi kampiun.
Semua masih terbuka. Babak 16 besar dan 8 besar nanti akan memperjelas siapa yang paling siap. Tanpa pemain top di final, penonton bisa sepi dan FIFA tentu merugi.
Sepak bola hari ini bukan sekadar prestasi, melainkan hiburan, bisnis, dan politik yang berkelindan. Saya menonton Piala Dunia sejak 1978 ketika Argentina juara. Saat itu ada Teófilo Cubillas dari Peru, juga Paolo Rossi dan Mario Kempes yang jadi idola. Dulu sepak bola terasa bahagia, indah, dan murni soal prestasi.
Memasuki era 2000-an, wajah sepak bola berubah. Penentuan tuan rumah, babak penyisihan, sampai hasil pertandingan dan VAR yang bisa tertunda beberapa detik untuk offside, semua berada dalam pusaran kepentingan tingkat tinggi. Kita tidak perlu berburuk sangka, tapi kenyataan di lapangan sering bicara begitu.
Karena itu, mari menonton bola sebagai hiburan empat tahunan. Boleh ngefans, cukup di hati, jangan sampai ke jiwa. Begadang menonton butuh energi, tapi kesehatan diri tetap nomor satu. Sebab biaya berobat tidak akan ditanggung FIFA. Cinta bola boleh, tapi mencintai diri sendiri jauh lebih penting. (*)
Tulisan Bung Buralimar
Pengamat Bola Kota Batam




























