PEKANBARU – Perekonomian Provinsi Riau terus menunjukkan tren positif pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat Ekonomi Riau tumbuh 4,75 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dengan sektor nonmigas tampil sebagai motor utama pertumbuhan setelah mencatat kenaikan sebesar 5,70 persen.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, mengatakan pertumbuhan sektor nonmigas yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sinyal semakin kuatnya struktur ekonomi Riau di tengah tantangan ekonomi global.
“Ekonomi Riau triwulan II 2026 yang dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp340,34 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp154,55 triliun,” ujar Asep saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Riau di Pekanbaru, Rabu (5/8/2026).
Secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Riau juga mengalami pertumbuhan sebesar 1,38 persen dibandingkan triwulan I 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh membaiknya kinerja sejumlah lapangan usaha, terutama sektor transportasi dan pergudangan yang melesat 22,27 persen, disusul jasa perusahaan sebesar 11,27 persen, serta perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, yang tumbuh 7,40 persen.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian Riau juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 2,99 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan masih mengalami kontraksi masing-masing sebesar 2,44 persen dan 0,63 persen secara triwulanan.
Secara tahunan, hampir seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif. Sektor jasa perusahaan menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 15,80 persen, diikuti jasa lainnya sebesar 13,42 persen serta jasa pendidikan sebesar 11,71 persen.
Di sektor-sektor utama, pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 5,31 persen, sedangkan industri pengolahan meningkat 4,59 persen. Adapun sektor pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi tipis sebesar 0,56 persen.
Hingga semester I 2026, ekonomi Riau tercatat tumbuh 4,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor jasa lainnya sebesar 13,64 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 12,29 persen, serta jasa perusahaan sebesar 11,54 persen.
Dari sisi struktur ekonomi, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB Riau dengan kontribusi 27,88 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 26,87 persen, pertambangan dan penggalian 19,98 persen, perdagangan besar dan eceran 10,35 persen, serta konstruksi 8,86 persen. Lima sektor tersebut menyumbang 93,95 persen terhadap total perekonomian Provinsi Riau.
Sementara berdasarkan pendekatan pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 didorong oleh meningkatnya Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang tumbuh 13,08 persen. Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) meningkat 10,30 persen, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga tumbuh 7,16 persen, dan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga naik 4,60 persen.
Secara nasional, kontribusi Provinsi Riau terhadap perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 5,25 persen. Capaian tersebut menempatkan Riau sebagai provinsi dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar keenam di Indonesia sekaligus terbesar kedua di luar Pulau Jawa.
Asep menegaskan, capaian ini menunjukkan aktivitas ekonomi Riau tetap terjaga dengan baik. Penguatan sektor-sektor produktif, meningkatnya konsumsi masyarakat, serta investasi yang terus bertumbuh menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang paruh pertama 2026.
Judul ini lebih kuat dari sisi SEO karena memuat kata kunci Ekonomi Riau, Triwulan II 2026, dan Sektor Nonmigas, sehingga lebih mudah ditemukan melalui mesin pencari.(*)
Editor Dedy Suwadha



























