
WARTAKEPRI.co.id BINTAN – Proses salvage atau pengangkatan kerangka kapal tanker MT. Silver Sincere di Perairan Bintan sudah hampir selesai. Kepastian itu disampaikan Direktur PT. Jasa Maritim Services Indotama, Arjmin selaku pihak yang melaksanakan pengangkatan bangkai kapal tersebut.
Menurutnya, seluruh tahapan salvage sejauh ini berjalan lancar tanpa kendala berarti di lapangan. Ia menegaskan, selama proses pengangkatan berlangsung tidak terjadi pencemaran lingkungan di sekitar lokasi kejadian.
“Proses pengerjaan pengangkatan berjalan lancar, dan mengikuti standard kerja,” katanya. Jumat, (16/10/2026).
Hal tersebut menjadi perhatian utama pihaknya mengingat lokasi bangkai kapal berada di jalur vital pelayaran dan infrastruktur bawah laut. Hasil dari proses salvage ini berupa scrap atau besi tua dan logam dari badan kapal MT Silver Sincere. Arjmin menjelaskan, seluruh material scrap tersebut rencananya akan ditempatkan di Pelabuhan Kota Segara, Tanjunguban.
Selanjutnya, material tersebut akan dilakukan proses pelelangan resmi melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Sebelum proses salvage dimulai, tim gabungan dari sejumlah instansi telah melakukan survei bawah laut terhadap bangkai kapal tanker MT Silver Sincere di Perairan Bintan, Jumat (17/7/2026) lalu.
Survei dilakukan untuk memastikan posisi dan kondisi bangkai kapal secara detail di dasar laut. Langkah itu dinilai penting karena bangkai kapal terdeteksi berada hanya sekitar 500 meter dari jaringan kabel optik dan pipa bawah laut.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu bahkan merusak infrastruktur vital nasional apabila tidak segera ditangani.
“Proses pengerjaan di segerakan, di khawatirkan Bangkai kapal terus terseret oleh arus bawah laut, yang berdampak buruk,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, kapal tanker berbendera Malaysia, MT Silver Sincere tenggelam di Perairan Bintan pada 12 Januari 2025. Delapan awak kapal berhasil diselamatkan dalam operasi evakuasi yang melibatkan MV Intan Daya 368, KN Sarotama, dan unsur Bakamla. Dari delapan kru yang dievakuasi, tujuh merupakan warga negara Indonesia (WNI) dan satu warga negara Myanmar.
Pengirim: Agus Ginting
Editor Dedy Suwadha





























