WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Menekan angka kematian ibu merupakan salah satu tujuan dari Millenium Development Goal (MDG). Namun fakta saat ini Natuna, kematian ibu melahirkan juga masih terjadi.
Hak ini terungkap dari perbincangan singkat di sampaikan Tok Samiri, warga Kecamatan Serasan kab Natuna dijumpai Wartakepri.co.id Ranai Kabupaten Natuna (4/8/2016.)
Selain mampu dalam pengobatan alternatif ia juga profesi Nelayan dan kerap membantu warga untuk persalinan.
Usianya sudah 58 tahun namun masih sangat energik, sejak muda dia aktif di berbagai kegiatan sosial ke masyarakat bahkan sangat banyak sudah sangat banyak dibantu dari tangan dingin Samiri.
Samiri bersedia dimintai tolong kapanpun. “Kalau ada yang mau melahirkan, (ketuk) saja pintu rumah saya, kapanpun saya datang,” katanya.
Samiri datang dengan ‘tangan kosong’ alias tak ada alat apapun yang dibawanya.
Keluarga yang membutuhkan bantuan menyiapkan air hangat, sepotong tali untuk ikat tali pusar bayi dan silet untuk memotong tali pusar.
Dia tidak pernah mengharapkan imbalan dari orang-orang yang ditolongnya. “Nanti tuhan yang balas,” katanya.
Sumiri selalu dipangil membantu Bidan hanya satu yang diharapkan agar puskesmas Serasan dapat dibekali alat vakum untuk persalinan hingga kini alat tersebut belum tersedia di puskesmas.
Padahal kata Samiri , Serasan cukup tinggi tingkat kematian ibu hamil karena sangat minim sarana alat pendukung persalinan.
Tok Samiri mengatakan, bulan puasa bulan 2016 lalu, di wilayah Serasan tercatat ada lima orang ibu hamil mengalami gagal melahirkan.
” Ada bayi meninggal sejak dalam kandungan. Kondisi janin diduga kurang mendapat sarana pendukung di puskesmas,” kata Samiri.
Samiri kerap dipangil warga untuk diminta bantuan tenaga sukarela warga bersama Bidan puskesmas setempat dia sangat telaten membantu warga.
Bukan hanya mampu dalam persalinan dia juga piawai menyembuhkan patah tulang ilmu itu diperoleh dari orangtua turun temurun.
Berbagai macam kasus patah tulang pernah ditanganinya hingga sembuh. Mulai pasien yang baru saja patah sampai yang sudah menahun.
“Ada yang baru, ada yang sudah satu tahun patah baru mereka datang berobat,” tutur Tok Sumiri.
Semua bisa disembuhkan, namun waktu tergantung dari tingkat kesulitan, hingga kemauan dari pasien untuk mematuhi peraturan yang diberikan.
Menangapi fenomena tinggi angka kematian ibu hamil, Bupati Natuna Hamid Rizal tidak menampik angka kematian ibu saat melahirkan masih cukup tinggi di Natuna hingga tahun 2015 lalu.
Kejadian itu katanya, disebabkan banyak faktor, diantaranya masih kurangnya dokter dan bidan di setiap kecamatan.
“ Dokter kurang, jumlah bidan juga perlu ditambah. Menjadi indikator masih tingginya kematian ibu melahirkan,” kata Hamid kemarin.
Lanjutnya, selain permasalahan di atas stok obat di Natuna harus tambah.
Tidak hanya itu, kata Hamid, peralatan medis untuk membantu persalinan ibu melahirkan di Natuna masih sangat terbatas. Termasuk di rumah sakit tipe C milik daerah saat ini.
” Peralatan medis juga kurang, terutama di puskesmas. Persalinan lebih sering di rumah sakit dibanding di Puskemas, apalagi Puskemas pembantu, jauh lebih tidak mendukung,” kata Hamid.
Persoalan angka kematian ibu melahirkan di Natuna, juga disebabkan kurang wawasan ibu dan kurangnya mendapat pertolongan tenaga medis karena masih banyak dibantu dukun kampung, terutama di desa pelosok.
” Kita telah mengusulkan dengan kementerian kesehatan RI agar dapat perhatian prioritas kesehatan untuk warga pulau pulau masih minim saran dan prasarana penunjang medis jauh rentan kendali pusat kita natuna,” tutup Hamid. (rikirinov)
@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O


























