Hilangkan Diskriminasi Ras, PSMTI ‎Harus Terbuka Bagi Siapapun

297
SEMARANG, WARTAKEPRI.co.id – Pengusaha dan aktivis perlindungan anak, Dewi Susilo Budiharjo terpilih sebagai Ketua umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng periode 2016-2021.
Dewi terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) kedua PSMTI Jateng di Setos (Semarang Town Square), Sabtu (30/1/2016) sore, yang dihadiri oleh 13 pengurus cabang (pencak).

Dalam sidang pleno yang dipimpin ketua panitia Suharjo Tan, Dewi yang sebelumnya ketua PSMTI Kota Semarang ini didaulat oleh seluruh pengcab yang hadir untuk memimpin roda organisasi itu selama lima tahun ke depan.

Pengcab yang hadir yakni Pekalongan, Pemalang, Kota Semarang, Kudus, Pati, Lasem, Kota Salatiga, Magelang, Kebumen, Gombong, Banyumas, Cilacap, dan Jepara.

Ketua PSMTI sebelumnya, Budi Purnomo (Hoo Liem) meminta pengurus baru kreatif membuat acara agar mampu menggalang dana bagi organisasi.
Selama 12 tahun menjabat ketua sejak 2004 silam, menurut Hoo Liem, praktis pendanaan organisasi keluar dari kantong pribadinya.

Sedangkan, ketua umum terpilih Dewi Susilo Budiharjo menyatakan, keberadaan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) di Indonesia, dan khususnya di Provinsi Jawa Tengah, sebagai salah satu wadah persaudaraan masyarakat Tionghoa, menjadi sangat strategis, baik dalam menghimpun seluruh masyarakat Tionghoa maupun memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan di daerah ini.

” Saya berkomitmen menjadikan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) sebagai organisasi yang inklusif. Bukan organisasi eksklusif yang hanya untuk kalangan Tionghoa semata. Organisasi ini harus pula menjadi organisasi yang terbuka dan berguna untuk seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, PSMTI hadir untuk memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang lebih baik,” tegas Dewi.

Hal itu sejalan dengan visinya yakni menghidupkan PSMTI agar dikenal oleh masyarakat, sehingga tidak ada diskriminasi ras karena kita adalah Indonesia.

Dewi lebih jauh mengatakan, sesuai misi yang dicanangkannya, untuk menggerakan roda organisasi, pengurus PSMTI Jawa Tengah memiliki tugas yang harus segera dijalankan, yakni membenahi struktur dan administrasi PSMTI, membuka cabang PMSTI di seluruh Jawa Tengah hingga ke di tingkat kecamatan, serta mendirikan koperasi bagi anggota.

“Untuk itu, tidak ada kata santai atau main-main, melainkan harus bekerja keras, bersama-sama bahu-membahu menghidupkan dan membesarkan organisasi ini. Kerja keras, perjuangan, dan keberpihakan dalam menjalankan organisasi ini, bukan hanya berguna bagi masyarakat keturunan Tionghoa saja, melainkan harus memberikan manfaat bagi masyarakat luas di Jawa Tengah,” tegasnya.

Dia juga mengingatkan, untuk tidak lagi menjadi kelompok minoritas yang eksklusif, namun harus mau membuka diri dan berbaur dengan elemen masyarakat yang lain, tanpa memandang latar belakang suku/etnis, agama, keyakinan, materi, dan lain-lain.

” Kini bukan zamannya lagi ada minoritas atau mayoritas, etnis Tionghoa atau non-Tionghoa, kaya atau miskin, hitam atau putih, Jawa atau luar Jawa. Sekarang, yang ada, kita telah bersatu, menjadi Indonesia yang satu, kendati berbeda-beda suku, etnis, agama dan golongan,” tandasnya disambut tepukan riuh peserta musyawarah provinsi‎.(beritasatu)
 
 
DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel