Home Entertainment ATB Cemaskan Masih Adanya Aktifitas Bangunan dan Penebangan Pohon Sekitar Waduk

ATB Cemaskan Masih Adanya Aktifitas Bangunan dan Penebangan Pohon Sekitar Waduk

Air Batam Hulu
Waduk Air Batam

WhasApp

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Pihak Adiya Tirta Batam sangat menghandalkan keberadaan Waduk penampung air yang akan menyuplai air ke konsumennya. Saat ini ATB memiliki lima Waduk di Nongsa, Sei Ladi, Mukakuning, Sei Harapan dan Duriangkang.

Waduk ini merupakan salah satu solusi yang dapat meminimalisir resiko kelangkaan air. Sebagaimana kita ketahui bersama, kelangkaan air bersih menjadi ancaman yang paling mengerikan untuk kelangsungan hidup dunia saat ini.

Keberlangsungan pasokan air ini akan terus terjaga tidak saja tugas dari pemerintah daerah dan BP Batam, tapi juga dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk tidak menyalahgunakan lahan sekitar waduk untuk kepentingan yang bukan pada tempatnya.

Seperti banyaknya aktivitas alih fungsi lahan yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas air baku yang tersedia. Gangguan air dalam waduk juga dipengaruhi oleh banyaknya tumbuhan eceng gondok. Ketahanan waduk juga didukung oleh berfungsinya daerah tangkapan air (Catchment Area).

Apabila daerah resapan air dirusak, tentunya tidak akan berfungsi maksimal dalam menyerap air hujan. Sementara pohon-pohon dilokasi tangkapan air sudah mulai dirusak, bahkan tidak sedikit perumahan-perumahan liar muncul di area resapan air.

Penebangan pohon yang dilakukan secara ilegal pun sangat mempengaruhi daerah resapan air. Hujan akan turun apabila banyak area hijau/hutan diarea waduk, bayangkan daerah resapan sudah tidak berfungsi lagi, tentunya akan mempengaruhi usia waduk.

Sehingga daerah tangkapan air di sekitar waduk harus steril dari bangunan. Pepohonan juga harus diperbanyak dan perambahan hutan atau ilegal logging harus dihentikan. Saat ini jumlah rumah liar di sekitar waduk terus meningkat.

Bahkan beberapa bangunannya sudah permanen. Untuk membuat rumah liar tersebut, ada juga yang menebang pohon. Bahkan ada yang membakar hutan di sekitar waduk.

Jika kebiasaan buruk tersebut diteruskan, maka tidak akan lagi mempunyai sumber daya air yang dapat diwariskan untuk anak cucu nanti.

Maka dari itu, sejak saat ini, kita perlu berpikir keras untuk menemukan solusi dalam mengatasi peristiwa kelangkaan air ini.

Mengingat Batam merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia. Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam (saat ini bernama BP Batam), kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk dan dalam tempo 40 tahun penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat.

Kini, berdasarkan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam per 2015, jumlah penduduk Batam sudah mencapai 1.164.352 jiwa.

Mari kita selamatkan waduk dengan menjaga wilayah sekitar waduk terdhindar dari aktivitas ilegal demi anak dan cucu nanti.(corporate communication ATB)

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026