Wartawan Karimun Kecam Intimidasi ke Jurnalis oleh Massa Demo dan Oknum Petugas

Wartawan Karimun Kecam Intimidasi ke Jurnalis oleh Massa Demo dan Oknum Petugas





WARTAKEPRI.co.id, KARIMUN – Sejumlah Wartawan di Tanjungbalai Karimun yang tergabung dalam beberapa organisasi seperti PWI, AJI, IJTI, dan wartawan online, pada Rabu (25/9/2019) di coastal area mengutuk keras segala bentuk kekerasan yang dilakukan kepada jurnalis.

Baik yang dilakukan aparat kepolisian maupun massa diduga peserta demo. Dengan melakukan petisi, yang mana telah membuat pernyataan yang disampaikan kepada pihak kepolisian guna meminta agar dapat mengambil tindakan terhadap kejadian tersebut.

Salah seorang jurnalis senior di bumi berazam, Ilfitra mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk solidaritas sesama wartawan. Dimana kekerasan yang dilakukan oleh polisi dan massa itu merupakan tindakan pidana sebagaimana diatur UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

“Jadi rencananya kita akan gelar orasi aksi solidaritas terkait kekerasan terhadap wartawan di beberapa daerah pada hari ini, akan tetapi ditunda mengingat ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, sehingga besok Kamis (26/9/2019) dengan jumlah wartawan sekitar 30 akan digelar dengan berjalan kaki dari Seilakam, depan morning bakery,” ungkapnya.

Dalam bekerja jurnalis memiliki hak untuk mencari, menerima, mengelola, dan menyampaikan informasi sebagaimana dijamin secara tegas dalam Pasal 4 ayat (3). Dalam Pasal 18 Ayat 1 disebutkan, setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi kerja pers, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda sebanyak Rp 500 juta.

Kejadian di Makasar dan Jakarta

Kekerasan kembali menimpa sejumlah jurnalis saat peliputan puluhan ribu mahasiswa dan aliansi masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia pada Selasa 24 September 2019. Aksi unjuk rasa Mahsiswa dan masyarakat ini menuntut pemerintah dan DPR mencabut pasal-pasal bermasalah di RKUHP dan menolak pelemahan KPK. Kericuhan pecah di Sulawesi dan Jawa.

Dalam aksi di Makassar, Sulawesi Selatan serta di depan Gedung DPR Jakarta. Tiga jurnalis di Makassar menjadi korban kekerasan oknum aparat saat melakukan peliputan. Mereka adalah Muhammad Darwin Fathir (jurnalis ANTARA), Saiful (jurnalis inilahkata.com) dan Ishak Pasabuan (jurnalis Makassar Today).

Sementara di Jakarta, empat orang jurnalis luka-luka karena menjadi korban kekerasan. Pertama, kekerasan terhadap jurnalis Kompas.com, Nibras Nada Nailufar. Ia mengalami intimidasi saat merekam perilaku petugas yang melakukan kekerasan terhadap seorang warga di kawasan Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Selasa malam.

Dalam peristiwa ini, polisi melarang korban merekam gambar dan memaksanya menghapus rekaman video kekerasan. Nibras bahkan nyaris dipukul oleh petugas.

Kedua, kekerasan terhadap jurnalis IDN Times, Vanny El Rahman. Dia dipukul dan diminta menghapus foto dan video rekamannya mengenai kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran di sekitar flyover Slipi, Jakarta.

Ketiga, kekerasan terhadap jurnalis Katadata, Tri Kurnia Yunianto oleh polisi. Tri dikeroyok, dipukul dan ditendang oleh aparat. Meski Kurnia telah menunjukkan ID Pers yang menggantung di leher dan menjelaskan sedang melakukan liputan, pelaku kekerasan tidak menghiraukan bahkan terus saja melakukan penganiayaan.

Tak hanya itu, petugas tersebut juga merampas HP Kurnia dan menghapus video yang terakhir kali direkamnya. Video itu rekaman Polisi membubarkan massa dengan menembakkan gas air mata.

Keempat, kekerasan terhadap jurnalis Metro TV, Febrian Ahmad oleh massa yang tidak diketahui. Mobil yang digunakan Febrian saat meliput wilayah Senayan dipukuli dan dirusak massa. Akibatnya, kaca mobil Metro TV bagian depan dan belakang, serta kaca jendela pecah semua.(*)

Kiriman : Aziz Maulana



PKP DREAMLAND
FANINDO
DEWAN PERS WARTAKEPRI

PEMPROV KEPRI
PEMKO BATAM
PEMKAB ANAMBAS
DPRD ANAMBAS
PEMKAB BINTAN
PEMKAB KARIMUN
PEMKAB LINGGA
DPRD
WIRARAJA