Strategi KKN Mahasiswa Unhas di Kepri dan Kaltara Diganti dengan Metode Zoom

110
Zoom KKN Hasanudin dengan Pemprov Kepri

WARTAKEPRI.co.id – KKN Posko Kalimantan Utara-Kepulauan Riau (Kaltara-Kepri), mengadakan Web Seminar bertema, Strategi dan Tantangan dalam menghadapi Era Adaptasi Kehidupan Baru. Kegiatan ini berlangsung via Zoom dan Live Youtube, Minggu, (26/07/2020).

Acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Kepulauan Riau diwakili oleh Asisten II bidang perekonomian dan pembangunan Drs. H. Syamsul Bahrum, AMP., M.Si, Ph.D.

Materi diawali dengan pemaparan dari Direktur Pendidikan Unhas, Dr Ida Leida yang menjelaskan metode dan tantangan pendidikan di dalam adaptasi kebiasaan baru. Ia menyebut adaptasi kebiasaan baru di saat pandemi dilakukan dengan tetap bekerja, belajar, dan beraktivitas produktif.

Ia pun menyampaikan tentang pola pembelajaran, khususnya pendidikan perguruan tinggi tahun ajaran 2020/2021, seperti di Unhas yang akan tetap berjalan, dan kuliah perdana pun disebutnya akan dimulai 18 Agustus 2020 secara daring.

“Metodenya yaitu pembelajaran semua zona, pelaksanaanya tetap daring untuk teori. Sedangkan untuk praktek tetap diusahakan daring. Kalau misalnya sulit seperti praktik Kesehatan dan Teknik, harus dipindahkan ke akhir semester,” lanjutnya.

PKPONLINE PKP DREAMLAND

Ia pun melanjutkan dengan membahas aspek penting pendidikan, yaitu dengan partisipasi aktif dari keluarga atau masyarakat. Lebih jauh, dosen Unhas ini juga menjelaskan beberapa pergeseran yang terjadi di dunia pendidikan selama masa pandemi. Seperti ruang belajar yang lebih bebas.

“Sekarang kegiatan belajar bisa dilakukan di ruang pribadi seperti kamar, atau ruang keluarga. Sekarang pun tidak perlu menggunakan kendaraan untuk ke kampus, dan sebagainya. Jadi ini bukan tentang bagaimana tempat atau gedungnya, tapi bagaimana pembelajaran tetap bisa berjalan,” jelasnya.

Semua metode pembelajaran pun dikatakannya berubah menjadi online learning. Dulu dosen menjadi pengajar dan memberi tugas, namun karena online learning maka dosen harus menjadi penggerak bagi mahasiswa untuk belajar secara independent dan mandiri. Jika SKS dulu diukur dengan berapa jam belajar di kelas, maka kali ini kata Ida Leida, harus diubah menjadi jam kegiatan, bukan lagi jam belajar.

Evaluasi pembelajaran pun dikatakannya harus dilakukan, untuk memantau perkembangan peserta didik, dan bukan untuk menetapkan seorang peserta didik itu mampu atau tidak mampu. Baginya penilaian formatif seperti demonstrasi tugas kuantitatif, penyelesaian masalah, atau membuat laporan proyek sosial lebih tepat untuk mengukur kemajuan belajar peserta didik.

Kemudian ia melanjutkan terkait tantangan yang dihadapi dalam adaptasi kebiasaan baru. Termasuk tantangan yang dihadapi Unhas.

“Tantangan dunia pendidikan di adaptasi kebiasaan baru, yang pertama adalah keterbatasan penguasaan teknologi informasi oleh pendidik dan peserta didik, sarana dan prasarana yang kurang memadai, akses internet yang terbatas, dan kurang siapnya penyediaan anggaran pemerintah,” jelasnya.

Langkah-langkah strategis yang telah ditempuh Unhas pun tak luput disebutkannya. “Seperti Unhas yang telah menerbitkan SK Rektor yang menyatakan bekerja di rumah, perkuliahan daring, keringanan UKT, adaptasi pembuatan teknologi seperti teknologi cuci tangan, wisuda daring, adaptasi dengan dosen-dosen untuk rapid test, UTBK dengan melakukan standar Covid-19, mencoba mensterilisasi gedung dengan desinfektan di seluruh Unhas,” tutupnya.

Sesi selanjutnya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kepulauan Riau, H Syamsul Bahrum PHD, yang juga pemateri. Ia ikut membahas mengenai langkah adaptasi new normal khusus penerapan di Provinsi Kepulauan Riau. Ia menyebut tindakan pemerintah saat ini adalah adopsi, adaptasi dan meningkatkan keamanan dan kenyamanan.

“Beberapa konsep kebijakan pemerintah seperti percepatan penanganan covid, dan yang difokuskan adalah konsen mengamankan ekonomi, karena melihat banyak sekali yang berusia produktif dibandingkan dengan anak-anak atau lansia,” jelasnya.

Di tengah pemberian materi, Ia pun memberi quote dengan mengatakan “Kita bisa menghidupkan ekonomi yang mati, tapi tidak bisa menghidupkan orang yang mati,”

Sesi terakhir, penyampaian Walikota Tarakan, dr Khairul MKes yang merupakan narasumber terakhir. Ia mengatakan Tarakan sudah melakukan PSBB mulai 26 April dan berakhir 31 Juli. Pembatasan ini dikatakannya akan dibuka secara parsial seperti memulai dari kantor pemerintahan, rumah-rumah ibadah, restoran,hotel, kemudian tempat pendidikan.

“Kami harap setelah 2 bulan kelonggaran, hingga 1 Agustus nanti sudah masuk new normal life, mereka akan menjadikan disiplin ini sebagai kebutuhan. Pelonggaran itu untuk mendisiplinkan masyarakat kita, kalau masih tidak menerapkan protokol kesehatan dan melanggar, kita akan hukum. Karena kunci keberhasilan penanganan covid adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Terakhir, ia menyarankan agar selalu bersikap hati-hati dan waspada terhadap siapapun. “Saat bertemu seseorang kita harus menerapkan asas praduga bersalah, semua orang harus dicurigai sampai nanti keluar hasil bahwa ia negatif,” pungkasnya.(*)

Kiriman : Wahyu Iqbal Maulana, mahasiswa Universitas Hasanuddin yang KKN di Kepulauan Riau

Komentar Anda

Polling Bakal Pasangan Calon Gubernur Kepri Periode Agustus 2020 versi WartaKepri.co.id

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO