Pengamat Nilai Video SBY Turun Gunung Sinyal SBY vs Moeldoko Kalau Mau Ambil Demokrat

SBY dan Moeldoko
SBY dan Moeldoko. Foto Net

HARRIS BARELANG

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Kisruh Partai Demokrat kembali memanas setelah Ketua Majelis Tinggi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ”turun gunung”. SBY ikut angkat bicara soal upaya pelengseran anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadi ketua umum melalui tayangan video.

Presiden keenam RI itu dalam video berdurasi kurang lebih setengah jam itu sempat menyebut Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko ingin merebut Partai Demokrat tanpa sepengatahuan Presiden Jokowi.

Ibarat berbalas pantun, pernyataan SBY ditanggapi Moeldoko. Mantan Panglima TNI itu menyatakan mengira masalah internal PD sudah selesai, ternyata belum. Melalui pernyataan itu, Moeldoko ingin menunjukkan selama ini dirinya diam, sehingga jangan coba-coba menekan dirinya.

Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam menilai, ada perang urat saraf antara SBY dan Moeldoko. Ibarat dua pendekar yang sedang mengasah senjata dan kanuragan menjelang pertarungan dalam serial sandiwara kolosal radio.

Menurut dia, isu kudeta yang diembuskan AHY justru menimbulkan kerugian citra terhadap anak sulung SBY itu. Munculnya sejumlah tokoh mantan anggota makin menyudutkan posisi AHY dan sekaligus mengganggu legitimasinya sebagai ketua umum Partai Demokrat.

BACA JUGA Forum Pendiri Demokrat Ungkap Sejumlah Kader Keberatan Dimintai Iuran di Era AHY

“Sentimen negatif publik kepada AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) merupakan pukulan telak, bukan saja dari eksternal partai demokrat namun banyak tokoh tokoh PD yang juga membuka suara,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (26/2/2021).

Dalam situasi ini, SBY selaku pinisepuh partai sekaligus orang tua AHY, merasa gerah. Itu sebabnya keluar pernyataannya melalui tayangan video tersebut.

“SBY ingin menyampaikan kepada publik kalau apa yang disampaikan AHY benar adanya dan bukan hanya skema lucu lucuan. Hal itu juga memberikan sinyal kepada Moeldoko bahwa dialah lawan Moeldoko kalau mau ambil Demokrat, bukan AHY. Tetapi, Moeldoko pun menjawab dengan pernyataan bahwa dia bisa saja melawan SBY akan yakin bakal menang,” ujar dia.

Arman mengatakan, tinggal pertanyaannya apakah itu akan dilakukan Moeldoko? Dia melihat, nampaknya masih ditimang-timang dulu, bisa saja masih mengukur seberapa besar kans Moeldoko jika ikut bertarung di 2024 nanti. Jangan sampai energi terbuang sia-sia karena Moeldoko sendiri sudah terlanjur dituding orang yang akan untuk merebut PD dari tangan AHY.

Untuk itu, Arman menyarankan kepada Moeldoko atau tokoh lain yang ingin bertarung di 2024 agar melakukan pemetaan politik dan kemudian memutuskan segera mencari perahu politik menuju 2024.

“Siapapun bisa menang tergantung dari strategi pertarungan karena pilpres sekarang adalah ranah tak bertuan, belum ada matahari tunggal. Siapa cepat dia dapat siapa tepat dia menang,” katanya.(*)

Dipublis: Warta Ekonomi
Editor : Dedy Suwadha
SBY dan Moeldoko

FANINDO

Honda Capella