Home Berita Utama Tugu Khatulistiwa Sei Tenam Lingga, Pesona Garis Nol di Bunda Tanah Melayu

Tugu Khatulistiwa Sei Tenam Lingga, Pesona Garis Nol di Bunda Tanah Melayu

Banner DPRD Batam 2026

WhasApp

WARTAKEPRI.co.id, LINGGA – Berkunjung ke Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, tak hanya menawarkan keindahan alam dan jejak sejarah Melayu. Wisatawan juga bisa merasakan pengalaman unik berdiri tepat di kawasan yang dilintasi garis khatulistiwa.

Destinasi tersebut berada di Tanjung Teludas, Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, Pulau Daik, tempat berdirinya Tugu Khatulistiwa Lingga.

Tugu ini menjadi salah satu ikon wisata geografis Lingga. Keberadaannya menandai posisi wilayah tersebut sebagai salah satu kawasan di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa.

 

 

 

Senin (10/8/2026), rombongan wartawan dari sejumlah media di Batam mengunjungi Tugu Khatulistiwa Lingga dalam agenda Road to Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi destinasi yang tengah dikembangkan sebagai salah satu daya tarik wisata di Kabupaten Lingga.

Menyentuh Garis Khatulistiwa

Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Lazuardi, mengatakan Tugu Khatulistiwa memiliki arti penting dari sisi geografis sekaligus pariwisata.

“Pertama, Tugu Khatulistiwa ini dibangun untuk membuktikan bahwa Pulau Lingga merupakan salah satu wilayah yang dilalui garis khatulistiwa. Yang kedua, tentu untuk tujuan wisatawan,” ujar Lazuardi.

Lokasinya juga relatif mudah dijangkau. Dari simpang menuju Pelabuhan Sungai Tenam, perjalanan menuju tugu sekitar dua kilometer.

Keberadaan tugu yang tidak jauh dari kawasan laut memberikan pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Pengunjung dapat menikmati suasana alam Lingga sekaligus mengenal lebih dekat garis khatulistiwa.

Di kawasan tugu, wisatawan dapat melihat penanda garis yang secara geografis membagi wilayah bumi menjadi bagian utara dan selatan.

“Ini jalur Matahari, dari barat ke timur. Di sini kita berada di tengah-tengah garis khatulistiwa,” jelas Lazuardi.

Perpaduan Geografi dan Identitas Melayu

Menariknya, Tugu Khatulistiwa Lingga tidak hanya mengangkat tema geografis. Sejumlah elemen pada bangunan tersebut juga merepresentasikan identitas Melayu.

Menurut Lazuardi, bingkai pada tugu menggambarkan peta global, sementara busur panah menunjukkan arah utara dan selatan. Di bagian tengah terdapat pasak sebagai simbol titik nol atau garis khatulistiwa.

Unsur keris juga menjadi bagian dari simbol tugu. Keris dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan identitas Melayu dan sejarah panjang Lingga yang pernah menjadi pusat Kesultanan Riau-Lingga.

Perpaduan tersebut menjadikan Tugu Khatulistiwa bukan sekadar penanda garis lintang nol derajat, tetapi juga ruang yang mempertemukan geografi, sejarah dan budaya Melayu.

Berpotensi Jadi Gerbang Wisata Lingga

Pengembangan kawasan Tugu Khatulistiwa juga didukung akses jalan yang terus dibenahi. Kondisi ini membuat lokasi tersebut semakin mudah dikunjungi wisatawan, khususnya mereka yang datang melalui Pelabuhan Sei Tenam.

“Kalau dari simpang ke sini lebih kurang dua kilometer. Dari simpang menuju pelabuhan sekitar setengah kilometer. Jadi bisa dikatakan gerbang pertama selain pelabuhan tadi adalah Tugu Khatulistiwa yang berada di Tanjung Teludas ini,” kata Lazuardi.

Saat ini, wisatawan belum dikenakan tiket masuk karena kawasan masih dalam tahap pembenahan, termasuk penyediaan sejumlah fasilitas pendukung.

“Masuk di sini gratis karena masih berbenah. Belum ada retribusi karena fasilitas juga masih dalam tahap pembenahan,” ujarnya.

Dari Wisata Geografis ke Penggerak Ekonomi

Keberadaan Tugu Khatulistiwa semakin menarik jika dikembangkan sebagai bagian dari paket wisata Lingga.

Sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Bunda Tanah Melayu, Lingga memiliki kekayaan sejarah, budaya, kuliner, kerajinan dan potensi ekonomi kreatif yang dapat dipadukan dengan wisata alam serta wisata geografis.

Wisatawan yang datang ke Tugu Khatulistiwa dapat diarahkan untuk melanjutkan perjalanan menikmati destinasi sejarah di Daik, mencicipi kuliner lokal, membeli produk UMKM, hingga mengenal lebih dekat warisan budaya Melayu.

Konsep tersebut sejalan dengan semangat Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 yang mengangkat tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan.”

Dengan pengelolaan dan promosi yang berkelanjutan, Tugu Khatulistiwa berpeluang menjadi salah satu magnet baru pariwisata Lingga.

Bukan hanya karena pengunjung dapat berdiri di kawasan garis khatulistiwa, tetapi juga karena dari tempat ini wisatawan dapat memulai perjalanan mengenal alam, sejarah dan budaya Melayu yang menjadi kekuatan Kabupaten Lingga.

Tugu Khatulistiwa Lingga pada akhirnya menjadi simbol pertemuan antara garis nol derajat dengan identitas Bunda Tanah Melayu.

Sebuah destinasi yang menawarkan pengalaman sederhana namun unik: berdiri di garis khatulistiwa, menikmati pesona Pulau Daik, sekaligus menelusuri jejak panjang sejarah Melayu di Kabupaten Lingga. (*)

@wartakepri Liputan Khusus Road To Gebyar Melayu Pesisir di Lingga 10-12 Agustus 2026 #lingga #kepri #airterjunresun #tiktoklive ♬ suara asli – WartaKepri.co.id

Naskah Qori/AriraNews

Editor Dedy Suwadha

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026