Dina Sulaeman Cerita Aliran Dana Indonesia Dimanfaatkan Teroris dengan Proses Video dan Foto Hoaks

Dina Sulaeman Pakar Geopolitik Timur Tengah
Dina Sulaeman Pakar Geopolitik Timur Tengah
PKP Online

WARTAKEPRI.co.id – Bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makasar pada Minggu (28/3/2021) pagi, kembali mengagetkan bangsa Indonesia. Ragam komentar dari berbagai tokoh hingga presiden RI mengutuk aksi teroris tersebut.

Namun, komentar bagaimana sebenarnya aksi teroris di dunia ini, melalui Chanel Youtube Deddy Corbuzier menghadirkan pembicarfa geopolitik Timur Tengah ibu Dina Sulaeman. Dalam diskusi itu, sosok Dina Sulaeman menceritakan ulang apa dan mengapa negara Suriah bisa hancur akibat kepentingan politik dunia Amerika dan Eropa.

Lalu sebarapa dalam informasi dan cerita ulang dari Dina Sulaeman, simak videonya

Penasaran dengan tulisaan tulisan Dina Sulaeman ini, maka WartaKepri mencoba menelusuri alamat blog dari Dina Sulaeman dengan alamat https://dinasulaeman.wordpress.com/.

Dan, ternyata Dina Sulaeman pun membuat tulisan terkait aksi bom bunuh diri di Makassar dengan Judul: Sekali Lagi: Tentang Radikalisme dan Terorisme

Aksi teror di Makassar merupakan peringatan, bahwa PR bangsa ini masih belum selesai. Tentu kita masih perlu menunggu hasil penyelidikan polisi mengenai pelakunya. Tetapi, karena peristiwa semacam ini sudah terjadi berkali-kali, kita perlu kilas balik, apa yang sudah terjadi selama ini.

Di video ini (tersebar di jagat maya pada Desember 2016) terlihat seorang ayah secara terbuka menyuruh anak-anak perempuannya melakukan aksi bom bunuh diri di Damaskus.

Yang perlu digarisbawahi, ada dua lapisan masalah di sini:

(1) Si ayah dan ibu ini adalah orang yang teradikalisasi, salah paham pada ajaran agamanya sendiri. Artinya, ada masalah ideologi.

(2) Pemodal terorisme (pihak yang memanfaatkan teroris). Konflik Suriah ini sudah memberikan bukti bahwa di balik teroris pasti ada pemodalnya. Sedunia sudah tahu (bahkan beberapa anggota parlemen Amerika Serikat pun mengakui) bahwa gerombolan teroris di Suriah ini dibiayai dan dipersenjatai oleh Amerika Serikat dan sekutunya (Turki, Arab Saudi, Qatar, UAE, dll).

ARTINYA: untuk menangani radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya dibatasi di lapisan (1) saja (misalnya, dengan “meluruskan ideologi,” lalu dikasih modal buat usaha).

Lapisan (2) juga harus dibereskan Sumber-sumber dana dan sumber-sumber ideologis juga harus diputus. Ibaratnya, mau mengatasi banjir di sebuah kawasan di kaki gunung: bikin tembok di pinggir sungai; tapi perusahaan-perusahaan besar masih dibiarkan menebangi hutan di gunung itu. Kan sia-sia saja.

-Sumber dana: tidak mungkinlah belum diketahui siapa penyuplai dananya. Kalau masih dibiarkan, tentu karena memang ada yang berkepentingan memanfaatkan kondisi seperti ini. Sudah ada sih upaya meringkus pengepul dana untuk aktivitas terorisme, tapi big fish-nya belum “diurus”. Media-media juga masih dibiarkan menebar informasi hoax (tapi dianggap valid karena mereka ini “media terkemuka” dan dan sumber beritanya adalah media mainstream Barat).

-Sumber ideologi: gimana mau mengatasi radikalisme kalau ideologinya tidak diidentifikasi dan diungkap secara terbuka? Karena yang dilarang organisasinya saja, dengan mudah mereka ganti nama. Aktivitas jalan terus. Bahkan ustad-ustadnya juga tetap jadi pembicara di lembaga-lembaga negara.

Sambil menunggu ada tindakan yang serius dan sistematis (meski sudah sangat pesimis), kita masyarakat sipil (kaum Muslimin) bisa melakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri. Antara lain:

Pertama, ajarkan kepada anak-anak bahwa Islam adalah ajaran yang welas asih. Nabi Muhammad adalah Nabi yang sangat welas asih. Kalaupun beliau berperang, selalu atas dasar alasan yang valid (bukan atas tuduhan hoax) dan dengan etika perang yang ketat (tidak pernah membantai rakyat sipil secara membabi-buta dengan bom bunuh diri).

Kedua, waspadai pemakaian internet anak-anak. Saya menemukan kasus seorang remaja putri yang amat pintar tapi dibiarkan oleh ortunya berselancar sendirian di dunia maya, akhirnya menjadi sangat radikal. Dia bahkan punya keinginan membunuh tokoh-tokoh yang dia benci (antara lain: Bashar Assad dan Ayatullah Khamenei). Seorang teman menceritakan bahwa grup WA keponakannya (masih SMP, di sekolah Islam), sudah biasa menyebarkan foto-foto kepala terpenggal dan ujaran-ujaran kebencian.

Ketiga, mulailah dari diri sendiri. Akar radikalisme adalah ideologi takfirisme [mengkafir-kafirkan orang lain yang tidak segolongan dengannya]. Jadi, kalau ditemukan ada akun-akun yang memprovokasi (misalnya: “ini bukti kesesatan aliran xxx”) jangan langsung percaya. Sangat mungkin akun-akun itu memang berupaya memprovokasi dan menebar hate speech. Lebih baik lagi: lawanlah! Bila ada orang (ustad/zah sekalipun) yang gemar mengkafir-kafirkan atau men-share berita fitnah, proteslah.

**teriring duka dan simpati untuk para korban bom Makassar (28/3), semoga kondisi fisik dan mental para korban segera pulih kembali.

Sumber Link : https://dinasulaeman.wordpress.com/2021/03/29/sekali-lagi-tentang-radikalisme-dan-terorisme/

Editor : Redaksi WartaKepri

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel