4 Prajurit TNI Tewas Dibunuh, Tokoh Pemuda Adat Papua Kritik Para Pengiat HAM

139
Ketua Pemuda Adat Papua wilayah II Saiberi-Nabire Ali Kabiay
Ketua Pemuda Adat Papua wilayah II Saiberi-Nabire Ali Kabiay

WARTAKEPRI.co.id, PAPUA BARAT – Ketua Pemuda Adat wilayah II Saiberi-Nabire Ali Kabiay mempertanyakan integritas para pegiat hak asasi manusia (HAM) yang selama ini berkoar-koar tentang hak asasi manusia di Papua.

Pasalnya, saat empat prajurit TNI dibantai secara keji oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) tak ada seorang pun pegiat HAM yang bersuara. Empat prajurit TNI dibunuh secara keji oleh kelompok teroris separatis papua (KTSP) di pos jaga rayon militer di Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Sorong, Papua Barat, Kamis (2/9/2021).

Menurut pria yang juga menjabat Ketua DPD Pemuda Mandala Trikora Papua ini, para pegiat HAM terkesan menutup mata. Padahal manusia diciptakan sederajat.

“Coba kalau yang menjadi korban para pelaku, suara mereka bergaung bersahut-sahutan, saling menguatkan dengan menyebut telah terjadi pelanggaran HAM,” katanya. Ali Kabiay juga mengatakan sikap para pegiat HAM membuat HAM seolah-olah tidak universal.

“HAM itu milik semua golongan manusia,” katanya.

Ali geram, karena para pegiat HAM juga tidak bersuara ketika yang menjadi korban adalah warga yang berasal dari luar Papua. “Apa mereka ini pantas disebut sebagai pembela hak asasi manusia, sementara mereka sangat pilih-pilih?”

“Saya merasa sebenarnya mereka, para aktivis HAM itu, hanya mencari isu, pamor dan kepentingan kelompok tertentu saja,” katanya.

BACA JUGA Bupati dan TNI Polri Turun Tracing ke Warga Ambil Paksa Jenazah COVID-19 di RSBT Karimun

Ali kemudian menunjuk kasus pembantaian dua orang karyawan PT. Indo Papua, Rionaldo Raturoma (42) dan Dedi Imam Pamungkas (40), pada 22 Agustus lalu. “Mereka dibakar sampai hangus oleh KSTP pimpinan Tendius Gwijangge. Tak ada salah apa-apa. Mana suara mereka? Semua hanya diam seribu bahasa,” katanya.

Ali secara pribadi menyatakan berduka dan bersimpati terhadap para korban KSTP selama ini. Tidak hanya korban-korban yang terjadi Kamis (2/9) lalu, karena aksi biadab KSTP telah lama terjadi.

Menurutnya, para korban sejatinya para pahlawan, yang berani berjuang untuk membuat Papua lebih baik. Sebanyak 50 anggota KSTP diberitakan menyerang Posramil Kisor, Papua Barat, Kamis (2/9). Empat personel TNI gugur, dua lainnya mengalami luka berat. Para korban terlihat mengalami berbagai penyiksaan brutal sebelum meninggal.

Sebelumnya, dua karyawan PT Indo Papua tewas dibakar bersama mobil yang mereka tumpangi pada 22 Agustus lalu. Peristiwa lain juga terjadi awal April lalu. KSTP menembak guru honorer di SD Inpres Beoga Oktovianus Rayo dan guru SMPN 1 Beoga Yonatan Randen hingga tewas.

Penembakan dilakukan setelah KTSP membakar bangunan sekolah yang dipakai anak-anak Papua untuk belajar.

4 Anggota Tewas Tragis

Prajurit TNI Angkatan Darat yang berada di Posramil Kisor, Distrik Aifat Selatan, Maybrat, Papua Barat, diserang sekelompok orang tak dikenal (OTK) Akibatnya, empat prajurit TNI AD tewas dan seorang prajurit lainnya masih dinyatakan hilang.

Akibatnya, empat prajurit TNI AD tewas dan seorang prajurit lainnya masih dinyatakan hilang. Para prajurit itu diserang pada Kamis (2/9/2021) sekitar Pukul 03.00 WIT. Keempat anggota TNI AD yang ditemukan meninggal dunia tersebut masing-masing Serda Amrosius, Praka Dirham, Pratu Zul Ansari, dan Lettu Chb Dirman.

Keempat prajurit TNI AD tersebut diserang saat sedang tidur di Posramil Kisor. Ketiga anggota TNI AD masing-masing Serda Amrosius, Praka Dirham, Pratu Zul Ansari ditemukan dalam keadaan tewas di dalam Posramil.

Sedangkan Lettu Chb Dirman Komandan Posramil Kisor ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di dalam semak-semak belukar tak jauh dari pos. Berdasarkan informasi yang diterima masih ada satu anggota TNI AD Pratu Ikbal hingga kini dinyatakan hilang dan belum ditemukan.(*)

Dikutip dari JPNN.com

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel