Film Non-Fiksi “Dok Nak” dari Anambas Tembus Ajang Festival FFM ke-7 Tahun 2021

324
Film Non-Fiksi Dok Nak dari Anambas Tembus Ajang
Film Non-Fiksi Dok Nak dari Anambas Tembus Ajang

WARTAKEPRI.co.id, ANAMBAS – Penggiat seni per Filman di Kepulauan Anambas Provinsi Kepulauan Riau kembali menorehkan prestasi di tingkat Nasional khususnya di bidang sinematografi, setelah komunitas AOK Production lolos dalam pemilihan proposal film non fiksi dalam ajang Festival Film Puskat Ruedi Hofmann Media Award (FFP) ke-7 tahun 2021, dilaksanakan oleh Studio Audio Visual Puskat (SAV Puskat) yang berpusat di Yogyakarta.

Hari sabtu dan minggu kemarin, (27-28 November 2021) kita mulai melakukan produksi film non-fiksi ‘Dok Nak-Tantangan Pejuang Kesehatan di Pulau Terluar’, yang mana ‘Dok Nak’ atau Ndok Nak merupakan bahasa melayu Anambas berarti ‘tidak mau’, mempresentasikan penolakan yang dilakukan oleh warga desa di Kepulauan Anambas atas program Vaksinasi Massal Covid-19 yang dilakukan oleh Pemerintah.

“Proses produksi kita lakukan bersama para narasumber terkait, seperti Camat, Bhabinkamtibmas dan tenaga Kesehatan Puskesmas Kute Siantan serta beberapa warga masyarakat di Desa Batu Ampar Kecamatan Kute Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas. Ini merupakan rangkaian kegiatan dari timeline yang telah ditetapkan oleh panitia pelaksana FFP yang mendanai film dokumenter ini,” ungkap Solehuddin Nawawi selaku manager dari AOK Production, yang merupakan akronim dari bahasa Melayu Anambas, Ade Ojok Keje (Ada Saja Kerja).

Proses pra produksi film ini dimulai dengan kegiatan Workshop Film bersama narasumber dan kru produksi pada tanggal 11 November 2021 di kantor Camat Kute Siantan, kemudian dilajutkan dengan bimbingan pengembangan naskah bersama pendamping dari panitia.

“Awalnya kami tidak menyangka bahwa proposal film yang kami ajukan diterima oleh panitia SAV Puskat. Alasannya, pertama kami tidak punya pengalaman membuat proposal film. Kedua, para pesertanya berasal dari seluruh Indonesia dan sudah punya pengalaman lebih baik dari kami. Namun Alhamdulillah, saat beberapa proposal terpilih masuk dalam proses pitching di hadapan dewan juri, kami menjadi salah satu tim dari dua peserta yang terpilih untuk lanjut tahap berikutnya, yakni memproduksi film non fiksi yang dibiayai oleh SAV Puskat,” tambah Solehuddin, yang juga menjadi penulis naskah dan sutradara film non-fiksi ini.

BACA JUGA Angelina Jolie Hadiri Premier FILM Terbaru yang Dibintangi Bersama ke Lima Anaknya

Dari pendaftaran peserta Festival Film Puskat ke-7 yang dibuka sejak tanggal 3 September hingga 3 Oktober 2021 dengan tema “Stories of The Survivors, The Reborn of Solidarity”, terpilih 43 karya di babak penyisihan awal dari seluruh Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan 9 karya film fiksi dan non-fiksi untuk menjalani forum pitching bersama dewan juri dan perwakilan panitia Festival Film Puskat pada tanggal 2 november 2021, dan akhirnya, terpilih 2 film fiksi dan 2 film non fiksi untuk mendapatkan pendanaan 15 juta rupiah untuk memproduksi film pendek ini, yang dimulai sejak tanggal 10 november hingga 20 Desember 2021.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada SAV Puskat Yogyakarta yang telah memilih dan membiayai produksi film pendek non-fiksi kepada komunitas kecil pelaku seni visual daerah seperti kami, karena selama ini, saat membuat film-film pendek atau dokumenter, kami menggunakan biaya sendiri tanpa ada sponsor dari manapun, harapan pertama kami, kepada rekan-rekan pelaku sinematografi, terus bersemangat untuk mengeksplor potensi alam, seni, budaya dan kultur daerah dalam bentuk film pendek atau panjang ke dunia luar, dan kedua, kami berharap kepada pemerintah daerah, instansi terkait dan perusahaan-perusahan di daerah, memberikan kontribusi dan dukungan nyata kepada para komunitas pelaku seni di daerah, terutama di bidang sinematografi, agar lebih produktif menghasilkan karya-karyanya,” tutupnya. (Rama)

DEWAN PERS WARTAKEPRI

FANINDO

FANINDO

PKP HIMALAYA