
“Nah pelatihan ini ambil bagian di situ. Terlebih pada era digital, dimana serangan hoaks di platform digital yang marak. Harpannya para jurnalis mampu melakukan pengecekan dengan tools yang ada,” ujar Rini.
Rini mengaku senang dengan antusiasme peserta mengikuti pelatihan. Menurutnya pelatihan online kali ini paling meriah.
“Semoga bermanfaat dan bisa diaplikasikan di newsroom masing-masing,” pungkasnya.
Salah satu peserta, Bobi sangat senang. Menurutnya dengan pelaksanaan program cek fakta, banyak ilmu yang di dapat.
“Banyak yang tidak menyangka kalau mis informasi merupakan persoalan yang sangat rumit dengan akar masalah yang begitu kompleks,” terang Bobi.
Semula, dirinya menilai maraknya hoaks bisa diatasi jika publik mendapat informasi yang benar mengenai faktanya.
“Namun, seiring waktu, kami pun belajar bahwa menyediakan informasi yang akurat semata tidak cukup. Perlu ada pendidikan literasi yang mumpuni,” paparnya.
Selain ekosistem periksa fakta yang kuat di pelbagai daerah, kata Bobi yang sesuai dengan karakter sosial budaya masing-masing.
“Akhirnya kami menyadari bahwa melawan hoaks membutuhkan kolaborasi dan kerja cerdas banyak pihak,” tandasnya.
Kolaborasi AJI dan GNI sejak tahun 2019 hingga saat ini telah menghasilkan 105 trainer, dan sebanyak 19.155 jurnalis dan pers mahasiswa yang terjangkau pelatihan.(AJI Kota Batam/Aman)






























