Longsor Intai Bandar Dunia Madani, ABI: 50 Persen Cut and Fill di Batam Tak Berizin

Cut and Fill
Bencana longsor terjadi di kawasan Kavling Sei Tering 1, RT 3 RW 6, Melcem, Batu Ampar, Kota Batam, dampak curah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Bandar Dunia Madani. Dugaan ABI, lebih dari 50 persen cut and fill di Batam tak berizin.(Foto: Istimewa)

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Curah hujan dengan intensitas tinggi yang melanda Kota Batam, Kepulauan Riau, sudah cukup untuk membuktikan, berapa daya tahan pulau ini menahan terjangan air.

Batam seperti keledai yang dipacu bak kuda tunggangan penghuninya. Keledai memang tergolong hewan pengangkut yang tahan membawa beban, namun untuk melaju dengan cepat tentunya tidak dapat disamakan dengan kekuatan kuda.

Pendiri Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan menyebut, sebagai daratan yang luasnya tak lebih dari 500 kilometer persegi, daya tampung dan daya dukung lingkungan pulau Batam sangatlah rendah.

KPU KEPRI

“Hal ini semakin diperparah dengan pembangunan yang tidak memiliki izin lengkap,” ucap Hendrik Rabu (8/3/2023).

Ibarat naik kendaraan, kata Hendrik sudah tidak punya SIM, terus ditanya STNK malah cuma bilang, “saya punya Form Pabean”.

Form Pabean menurutnya hanyalah data masuknya barang dari Kepabeanan. Bahkan BPKB pun mereka tidak punya, begitulah ibaratnya sebagian besar pelaku pembangunan di Batam.

“Bisa dibayangkan apa jadinya pembangunan yang tanpa dilengkapi dokumen adalah sama dengan pengendara kendaraan yang tidak memiliki SIM dan surat lengkap kendaraaan,” ujarnya.

Kecakapan berkendaraan masih kata Hendrik sangat mempengaruhi keselamatan pengemudi maupun pengguna jalan lainnya, ditambah lagi menghilangkan pendapatan negara dari sektor perpajakan.

Ketika terjadi kecelakaan pembangunan lalu siapa yang disalahkan?

“Kejadian longsornya bukit dan tanah di beberapa titik di Kecamatan Sei Beduk, khususnya daerah Bukit Kemuning, Nusa Indah, serta Bukit Sentosa dan sekitarnya merupakan bukti nyata bahwa kekacauan pembangunan telah membawa bencana bagi masyarakat luas,” beber Hendrik.

Timbunan tanah akibat longsor memenuhi jalan, hingga menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas. Korbanya puluhan bahkan ratusan jiwa.

Tak hanya sampai disitu, menurutnya ketidakadaan drainase proyek membuat sebagian besar tanah yang telah menjadi lumpur tersebut mengarah ke waduk Duriangkang yang jaraknya hanya beberapa ratus meter.

Banjir yang kerap melanda Kota Batam juga dipicu kurangnya Daerah Tangkapan Air (DTA), akibat alih fungsi hutan dan pembangunan (cut an fill), tanpa mengindahkan regulasi.

“Sebagai DAM yang memasok 70 persen kebutuhan air di Kota Batam, maka sendimentasi lumpur akan mendangkalkan waduk dan mempengaruhi volume dan kualitas air,” paparnya.

Dalam pantauan Akar Bhumi Indonesia sendiri, kata Hendrik pemotongan (cut) bukit diarea tersebut sebagian besar ditimbun (fill) di Piayu Laut dan Buana Garden Tanjung Piayu.

“Kedua lokasi tersebut sekarang dalam aduan ABI ke Gakkum KLHK RI. Aktivitas pengangkutan tanah menuju lokasi timbun pun telah merusak beberapa ruas jalan, baik yang menuju Piayu Laut, yakni Jalan S. Parman maupun jalan raya Kampung Bagan,” tutur Hendrik.

Sehingga kata Hendrik Over Tonase transportasi telah membuat jalan-jalan tersebut berlobang dan aspalnya bergeser.

Tak hanya sampai disitu, ungkap Hendrik akibatnya banjir berlumpur, bersampah akibat cut and fill serta reklamasi telah merusak pesisir hingga mengganggu kehidupan nelayan yang menggantungkan hidup pada laut.

“Dugaan ABI, lebih dari 50 persen cut and fill di Batam tak berizin. Sehingga dipastikan akan menimbulkan dampak lingkungan, sosial serta ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah,” ketusnya.

Tidak hanya itu saja, bahkan kata Hendrik dapat menimbulkan masalah hukum jika ada pihak yang mengajukan class action kepada pemerintah Kota Batam, BP Batam atau kepada perusahaan terkait.

“Mari kita bersama-sama menyadari dan memahami, bahwa Kota Batam butuh perlakuan yang lebih baik dan benar dari pemerintah, dunia usaha maupun seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya.(Aman/ABI)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

GALERI 24 PKP EXPO