JAKARTA – Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia pada triwulan IV-2023 tetap kokoh meskipun dihadapkan pada risiko perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Keberhasilan ini diperoleh berkat ketangguhan perekonomian dan sistem keuangan dalam negeri, serta sinergi yang kuat dari Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Dalam Rapat Berkala KSSK I-2024 pada Senin (29/01), Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyampaikan komitmen untuk memperkuat koordinasi, sinergi, dan kewaspadaan terhadap risiko global di tahun 2024.
Tantangan yang dihadapi mencakup perlambatan ekonomi di sejumlah negara utama, meningkatnya tensi geopolitik, dan tekanan fiskal di banyak negara.
Dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap resilien, didukung oleh permintaan domestik yang kuat. Sampai Triwulan III-2023, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,05% (ytd), dengan konsumsi dan investasi sebagai pendorong utama.
Tanda-tanda positif juga terlihat pada Triwulan IV-2023, tercermin dalam angka PMI manufaktur yang ekspansif, surplus neraca perdagangan, serta indikator dini lainnya.
Stabilitas nilai tukar Rupiah terjaga dengan baik berkat kebijakan stabilisasi Bank Indonesia. Nilai tukar Rupiah menguat pada akhir Desember 2023, didukung oleh kebijakan yang konsisten dan masuknya aliran portofolio asing. Ke depan, Rupiah diperkirakan tetap stabil dan cenderung menguat, didukung oleh meredanya ketidakpastian global.
Inflasi terkendali dalam kisaran sasaran, dengan IHK Desember 2023 sebesar 2,61% yoy. Langkah-langkah konsisten dari Bank Indonesia dan kerjasama erat dengan Pemerintah membantu menjaga stabilitas harga.
Kinerja APBN 2023 kuat, meskipun dihadapkan pada penurunan harga komoditas dan kondisi ekonomi global yang sulit. Realisasi Pendapatan Negara melampaui target, dengan penerimaan perpajakan yang tumbuh 5,9% yoy. Keseimbangan primer surplus, dan rasio utang Pemerintah turun menjadi 38,6% PDB.
Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate
Bank Indonesia, melalui kebijakan moneter pro-stabilitas, mempertahankan BI-Rate pada level 6,00%. Langkah-langkah ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali. Stimulus makroprudensial juga ditingkatkan untuk mendukung kredit perbankan dan pertumbuhan ekonomi.
Di sektor jasa keuangan, perbankan Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 27,69%. Kredit perbankan tumbuh positif, dan likuiditas perbankan dalam level yang memadai. Demikian pula, pasar modal domestik menunjukkan kinerja positif, dengan IHSG tumbuh 6,16% ytd.
Industri perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun juga mengalami peningkatan, mencerminkan permodalan yang kuat dan manajemen risiko yang baik. Perusahaan Modal Ventura, fintech P2P lending, dan lembaga pembiayaan lainnya juga mengalami perkembangan positif.
OJK terus memperkuat regulasi di sektor keuangan, dengan fokus pada literasi dan inklusi keuangan, pengawasan perilaku pasar, perlindungan konsumen, dan pemberantasan aktivitas keuangan ilegal. Peta Jalan Pengawasan Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan edukasi pelindungan konsumen menjadi prioritas.
LPS menjaga stabilitas sistem keuangan melalui peranannya dalam penjaminan simpanan dan penanganan bank gagal. Implementasi Sistem Pemantau Risiko (SPR) semakin ditingkatkan untuk mendeteksi potensi risiko sistemik lebih awal.
Dalam konteks eksternal, ketegangan perdagangan global masih menjadi risiko utama. KSSK berkomitmen untuk menghadapi tantangan ini dengan memperkuat kerja sama regional dan internasional, serta menjaga keberlanjutan reformasi struktural di dalam negeri.
Meskipun kondisi ekonomi global menjadi tantangan, Indonesia tetap mampu mempertahankan stabilitas sistem keuangan secara umum. Koordinasi yang efektif antara lembaga-lembaga terkait, kebijakan yang tepat, dan ketangguhan ekonomi domestik menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ini. Ke depan, kewaspadaan terus ditingkatkan untuk mengantisipasi dan merespons dinamika ekonomi global yang berubah-ubah. (*)
Sumber: KSSK
Editor: Denni Risman





























