Oleh Mohamad Sinal
Suatu ketika, D. Zawawi Imron, penyair si “Celurit. Emas” berkisah tentang Bindara Ali. Ia seorang guru ngaji di desa Nyabakan Barat, Sumenep, Madura. Mungkin, ia adalah salah satu dari sedikit orang yang memahami bahwa cinta Tuhan bukan sekadar konsep yang harus diperdebatkan.
Pada tahun 1970, kemarau panjang menyelimuti desa tersebut. Sungai-sungai mengering, tanah retak-retak, dan pepohonan meranggas kehilangan daya. Orang-orang di desa berjuang mencari air untuk bertahan hidup.
Di tengah keterbatasan itu, Bindara Ali melakukan sesuatu menurut banyak orang mungkin tampak ganjil. Ia membawa air dalam pecahan piring, dalam belahan buah kelapa, dalam mangkuk yang telah usang. Lalu, ia meletakkannya di tepi belukar, di bawah pohon-pohon yang hampir mati, di tanah yang retak karena kehausan.
Orang-orang di sekitarnya merasa heran. Beberapa bahkan tertawa kecil, menganggapnya berlebihan. “Mengapa kau lakukan ini, Bindara? Bukankah kita sendiri kekurangan air?” tanya seseorang kepadanya. Bindara Ali hanya tersenyum, senyum yang mengandung samudra ketenangan.
“Lihatlah sungai yang kering ini. Binatang-binatang itu juga merasakan dahaga, sama seperti kita. Jika kita bisa berusaha mencari air, bagaimana dengan mereka? Aku hanya ingin berbagi sedikit dari apa yang kita punya, agar mereka pun bisa merasakan kasih sayang-Nya.”
Jawaban itu membuat beberapa orang menggelengkan kepala. Namun bagi yang peka, kata-katanya seperti air yang menyejukkan jiwa. Bindara Ali tidak hanya melihat kehidupan dari sudut pandang manusia.
Ia memahami bahwa setiap makhluk yang bernapas adalah bagian dari keseimbangan semesta. Dalam pandangannya, kasih sayang Tuhan bukan hanya milik mereka yang berakal. Namun, juga milik yang bersayap, yang melata, dan bersuara dalam sunyinya malam.
Di balik kisah tersebut, ada keindahan yang tak terucapkan dalam kasih sayang yang tak berbatas. Seperti angin yang menyentuh lembut wajah tanpa perlu diminta. Seperti embun yang jatuh tanpa gaduh. Seperti senyum seorang ibu yang tak mengharap balasan.
Cinta Tuhan pun demikian adanya. Ia tidak selalu harus diterangkan dengan kata-kata yang panjang. Tidak pula selalu harus dicari dalam kitab-kitab tebal atau ruang-ruang pengajian yang megah.
Terkadang, cinta Tuhan begitu dekat, begitu nyata, ia hanya perlu dirasakan. Bindara Ali, tidak menjelaskan cinta Tuhan dengan lantang. Tidak mengajari dengan kata-kata tinggi yang berkilau.
Ia menunjukkannya dalam keseharian, dalam gerak-geriknya yang sederhana, dalam tatapannya yang penuh kelembutan. Baginya, cinta Tuhan adalah kehadiran yang membasuh jiwa. Memberi makna pada kehidupan, menghadirkan kesejukan di hati yang gersang.
Hidup bagi Bindara Ali bukanlah tentang berapa banyak yang bisa ia miliki, tetapi tentang seberapa banyak yang bisa ia bagikan. Ia tidak membutuhkan panggung, tidak mengharapkan tepuk tangan, dan tidak menuntut balasan. Baginya, melihat burung-burung kembali bernyanyi di pagi hari adalah kebahagiaan.
Mendengar suara jengkerik di malam yang lengang adalah lantunan tasbih yang tersembunyi. Menyaksikan daun-daun menari ditiup angin adalah pertanda bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam segala sesuatu. Tetapi zaman telah berubah, dunia semakin bising. orang-orang lebih sibuk memperdebatkan ketuhanan daripada menghayatinya.
Mereka ingin menemukan Tuhan dalam kata-kata. Dalam dalil-dalil yang tak berujung, dan pertengkaran tentang siapa yang paling benar. Padahal, Tuhan tidak perlu dicari sejauh itu.
Tuhan hadir dalam gerimis yang jatuh di jendela. Dalam hembusan angin yang membelai wajah. Dalam kilau matahari yang menyapu embun pagi.
Bindara Ali mengajarkan bahwa cinta Tuhan tidak harus diucapkan. Tidak harus diumumkan, tidak harus diperlihatkan dengan keagungan. Cinta Tuhan cukup hadir dalam kelembutan, dalam kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih.
Cinta Tuhan hadir dalam keheningan yang penuh makna. Ia tidak butuh sorak-sorai, tidak perlu pengakuan. Seperti air yang mengalir tanpa perlu dipaksa, seperti angin yang bergerak tanpa perlu diarahkan.
Kini, kisah Bindara Ali tinggal menjadi kenangan. Namun, ajarannya tetap hidup dalam mereka yang bersedia mendengar suara semesta. Dalam riuhnya dunia yang penuh dengan kepentingan.
Masih adakah yang bersedia menyisihkan sedikit kebaikan bagi makhluk lain? Masih adakah yang ingin memahami cinta Tuhan dalam tindakan kecil yang penuh kasih? Masih adakah yang bisa melihat keindahan dalam suara burung, gerak dedaunan, dan diamnya malam yang penuh doa?
Cinta Tuhan tidak pernah rumit. Ia sesederhana memberi seteguk air kepada yang haus. Sesederhana mendengar rintihan sunyi yang tak terucapkan. Sesederhana memahami bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi tentang kebersamaan dengan semua yang bernyawa.
Tidak perlu menjelaskan cinta Tuhan dalam kata-kata yang tinggi, cukup tunjukkan dalam tindakan yang berarti. Dalam keheningan yang penuh makna, cinta Tuhan menjadi sesuatu yang tidak perlu dijelaskan. Sebab, ia sudah begitu nyata, begitu terasa, bagi mereka yang bersedia merasakannya.
*Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
























