
WARTAKEPRI.co.id, TANJUNGPINANG – Pekerja jasa angkutan laut tradisional atau boat ( pompong ) di Tanjungpinang mengeluhkan semakin sepinya penumpang dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi sepi sudah terlihat jelang Imlek 2026 kemarin hingga awal Maret 2026.
Penurunan jumlah pengunjung, baik wisatawan domestik maupun mancanegara, dinilai berdampak langsung terhadap pendapatan para nakhoda dan awak pompong yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata bahari di ibu kota Kepulauan Riau tersebut.
SR seorang nakhoda boat (pompong) setempat yang enggan disebutkan namanya mengatakan, kondisi saat ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika aktivitas wisata di perairan Tanjungpinang masih ramai.
“Semakin hari semakin sepi pengunjung atau penumpang. Sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dulu aktivitas kapal di laut sangat aktif,” ujar SR yang engan namanyaa dipublikasi, Sabtu (7/3/2026).
Menurutnya, sepinya wisatawan membuat banyak pelaku transportasi laut kesulitan mendapatkan penghasilan. Padahal, jasa pompong selama ini menjadi salah satu moda transportasi yang melayani wisatawan yang ingin menikmati keindahan laut maupun berkunjung ke pulau-pulau sekitar Tanjungpinang.
Ia berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah nyata untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata sehingga kota ini tidak mengalami “mati suri” sebagai destinasi wisata.
“Semoga ke depan Kota Tanjungpinang bisa kembali seperti dulu, ramai pengunjung dan pariwisatanya hidup lagi,” katanya.
Pariwisata Bahari Tanjungpinang
Sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang memiliki sejarah panjang sebagai kota pelabuhan dan jalur perdagangan di kawasan Selat Malaka. Sejak masa Kesultanan Riau-Lingga, wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas maritim, perdagangan, serta pertemuan berbagai budaya di kawasan Melayu.
Dalam perkembangannya, kota ini juga dikenal sebagai gerbang wisata sejarah dan budaya Melayu. Sejumlah destinasi seperti Pulau Penyengat yang sarat nilai sejarah, serta kawasan pesisir yang indah, pernah menjadi daya tarik utama wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pada masa kejayaannya, aktivitas transportasi laut menggunakan pompong sangat ramai, melayani wisatawan yang ingin berkeliling perairan, memancing, hingga mengunjungi pulau-pulau kecil di sekitar Tanjungpinang.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, pelaku usaha transportasi laut menilai kunjungan wisatawan cenderung menurun. Kondisi tersebut membuat aktivitas di pelabuhan kecil maupun kawasan pesisir tidak lagi seramai sebelumnya.
Satu satunya harapan akan ramai penumpang lagi saat libur lebaran Idul Fitri pada akhir Maret 2026 nanti. Semoga Pemko Tanjungpinang memanfaatkannya.
(Yadi)





























