
WARTAKEPRI.co.id, TANJUNGPINANG – Pawai Taaruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XII Tingkat Provinsi Kepulauan Riau resmi dimulai, Sabtu (4/7/2026). Lebih dari 4.000 peserta dari tujuh kabupaten/kota se-Kepri memadati kawasan Tepi Laut Tanjungpinang, menandai dimulainya rangkaian syiar Islam terbesar di provinsi tersebut.
Pawai yang dipusatkan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri itu menampilkan atraksi seni budaya dan kekhasan masing-masing daerah. Rute dimulai dari Pelataran Tugu Sirih, melintasi Jalan Hang Tuah, dan berakhir di panggung utama depan Gedung LAM. Ribuan masyarakat tampak antusias menyaksikan penampilan setiap kontingen di sepanjang rute.
Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, mengapresiasi antusiasme peserta dan kerja keras panitia. “Peserta dari Tanjungpinang sekitar 2.500 orang, Bintan hampir 2.000 orang. Totalnya lebih dari 4.000 peserta. Luar biasa.
Mudah-mudahan semangat seperti ini dapat terus dipertahankan dari tahun ke tahun. Tanjungpinang sebagai tuan rumah sangat luar biasa,” ujarnya.
Bagi Pemerintah Kota Tanjungpinang, MTQ XII dimaknai melampaui seremoni keagamaan. Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, menegaskan momentum ini harus memberi dampak konkret terhadap ekonomi masyarakat. Kehadiran ribuan kafilah, ofisial, dan pengunjung dipandang sebagai stimulus bagi pelaku usaha lokal.
BACA JUGA Wabup Karimun Tutup MTQ Tingkat Desa Gemuruh 2026, Harapkan Lahir Masyarakat Qur’ani
“Saya berharap Kota Tanjungpinang sebagai tuan rumah bukan sekadar menjadi tempat pelaksanaan seremoni, tetapi juga mampu memberikan dampak positif dengan menggeliatkan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Lis. Ia menambahkan, sentra UMKM yang baru direlokasi Pemkot diharapkan menjadi magnet bagi tamu selama MTQ berlangsung.
Secara filosofis, penyelenggaraan MTQ XII di Tanjungpinang merepresentasikan tiga dimensi sekaligus: teologis sebagai pembinaan generasi Qurani, kultural sebagai upaya pelestarian khazanah Melayu, dan ekonomis sebagai katalis pertumbuhan sektor pariwisata dan UMKM daerah.
Perhelatan ini menempatkan Tanjungpinang tidak hanya sebagai panggung spiritual, tetapi juga ruang dialektika antara tradisi dan pembangunan ekonomi berbasis keramaian. (Yadi)




























