
BATAM – DPD Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kepulauan Riau (Kepri) kembali menggelar ASITA Kepri Travel Mart 2026 sebagai upaya memperkuat promosi pariwisata daerah sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan hingga 30 persen.
Memasuki penyelenggaraan ketujuh, ajang tahunan ini mengusung konsep linkage tourism, yakni menghubungkan destinasi unggulan Batam, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, dan Kabupaten Bintan dalam satu rangkaian paket wisata sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung ke Batam, tetapi juga menjelajahi destinasi lain di Kepulauan Riau.
Rencana pelaksanaan kegiatan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Aston Hotel Pelita Batam, Rabu (5/8/2026), yang dihadiri Ketua DPD ASITA Kepri Eva Betty, Ketua Panitia ASITA Kepri Travel Mart 2026 Maryani, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Hasan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan Arief Sumarsono, serta pengurus dan anggota ASITA Kepri. Acara dipandu Surya Wijaya.
Ketua Panitia ASITA Kepri Travel Mart 2026, Maryani, mengatakan konsep linkage tourism menjadi strategi untuk memperluas pergerakan wisatawan ke berbagai destinasi unggulan di Kepri, khususnya kawasan wisata sejarah Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.
“Kami ingin wisatawan tidak hanya datang ke Batam. Mereka juga kami arahkan menikmati wisata sejarah di Tanjungpinang, Pulau Penyengat hingga Bintan. Semua daerah harus maju bersama,” ujar Maryani.
Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini terbagi dalam dua agenda besar. Pertama, Business to Consumer (B2C) yang akan berlangsung di Mega Mall Batam pada 15–18 Oktober 2026. Pameran tersebut akan diikuti sekitar 30 peserta yang terdiri dari hotel, biro perjalanan, pengelola destinasi wisata seperti Ranoh Island dan Kepri Coral, serta komunitas golf.
Panitia menargetkan lebih dari 10 ribu pengunjung menghadiri pameran tersebut karena berlangsung pada akhir pekan.
Agenda kedua adalah Business to Business (B2B) Travel Mart, yang mempertemukan buyer dan seller industri pariwisata dari dalam maupun luar negeri. Sekitar 100 pelaku industri ditargetkan berpartisipasi, mulai dari biro perjalanan, hotel, hingga pengelola destinasi wisata.
Maryani optimistis kegiatan ini mampu mendongkrak permintaan pasar wisata Kepri hingga 25–30 persen. Menurutnya, konsep menghadirkan buyer langsung ke Kepulauan Riau menjadi strategi promosi yang lebih efektif dibanding mengikuti berbagai pameran di luar negeri.
“Dengan cara ini pelaku usaha tidak perlu mengikuti banyak pameran di luar negeri. Buyer kami hadirkan langsung ke Kepri sehingga transaksi bisnis bisa dilakukan di sini,” katanya.
Ia berharap dukungan Pemerintah Provinsi Kepri maupun pemerintah kabupaten/kota terus diperkuat agar ASITA Kepri Travel Mart berkembang menjadi agenda pariwisata berskala internasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan, Arief Sumarsono, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bintan mendukung penuh pelaksanaan kegiatan tersebut.
Menurutnya, masuknya Bintan dalam rangkaian Travel Mart memberikan manfaat besar bagi promosi destinasi wisata daerah. Bahkan, pemerintah daerah akan mengupayakan dukungan anggaran melalui APBD Perubahan.
“Bagi kami kegiatan ini sangat penting karena mampu memperkuat promosi pariwisata dan membangun kolaborasi Batam, Bintan, serta Tanjungpinang,” ujarnya.
Arief mengungkapkan sekitar 60 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bintan masih bergantung pada sektor pariwisata, sehingga peningkatan kunjungan wisatawan menjadi prioritas utama.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Hasan, mengapresiasi konsistensi ASITA dalam menggelar Travel Mart sebagai salah satu motor promosi industri pariwisata daerah.
Ia menilai konsep linkage tourism sejalan dengan strategi Pemerintah Provinsi Kepri yang mendorong wisatawan mancanegara yang masuk melalui Batam untuk melanjutkan perjalanan ke Bintan, Tanjungpinang, Karimun hingga Lingga.
Hasan mengungkapkan, hingga Juni 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau telah mencapai sekitar 1,04 juta orang, dengan sekitar 203 ribu kunjungan terjadi hanya pada Juni. Pemerintah menargetkan total kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2,7 juta orang sepanjang 2026.
Menurutnya, pasar utama pariwisata Kepri masih berasal dari Singapura, Malaysia, China, India, dan Filipina.
“Yang harus kita rebut adalah pasar di depan mata, terutama Singapura dan Malaysia. Potensinya sangat besar,” katanya.
Hasan menambahkan, Batam harus terus diperkuat sebagai hub atau pintu masuk utama wisatawan menuju berbagai destinasi di Kepulauan Riau. Namun, pembenahan akses transportasi, fasilitas pendukung, serta pelayanan di kawasan CIQP (Customs, Immigration, Quarantine and Port) juga perlu dipercepat.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari ASITA, PHRI, media, hingga pelaku usaha pariwisata, untuk memperkuat kolaborasi promosi demi mencapai target kunjungan wisatawan tahun ini.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan ASITA, PHRI, media, dan seluruh pelaku industri menjadi kunci untuk memperkuat pariwisata Kepri,” pungkas Hasan.(*/bos)
Editor Dedy Suwadha

























