Home Batam Merah Putih di Hari Tua, Catatan Seorang Purnabakti ASN Batam Untuk Negeri...

Merah Putih di Hari Tua, Catatan Seorang Purnabakti ASN Batam Untuk Negeri yang Dicintai

Analisis dan Prediksi Bang Bur Untuk Final Liga Champions 2026 PSG vs Arsenal
Bang Buralimar
Banner DPRD Batam 2026

WhasApp

Beberapa waktu lalu, ketika dua undangan dari Pemerintah Kota Batam sampai ke tangan, tumbuh rasa bahagia yang sederhana, tetapi cukup dalam. Di usia purnabakti seperti sekarang, ternyata masih ada yang mengingat.

Satu undangan datang dalam kapasitas sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia Perwakilan Kota Batam. Itu tentu sesuatu yang wajar. Setiap pimpinan organisasi lazim mendapat undangan dalam kegiatan resmi pemerintah. Namun undangan yang satu lagi terasa berbeda. Itu undangan pribadi. Nama tertulis lengkap di sana.

Sejenak terdiam membacanya. Ada rasa haru, bahagia, sekaligus sedikit tidak percaya. Ini tahun kedua mendapat kehormatan serupa. Tahun sebelumnya pun nama yang sama tercantum sebagai undangan pribadi dalam upacara peringatan kemerdekaan tingkat Kota Batam.

Sudah empat tahun masa pensiun dijalani. Sejak 2011 pun pengabdian telah berpindah dari Pemerintah Kota Batam ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Artinya, hubungan kedinasan dengan Pemerintah Kota Batam sebenarnya telah lama berakhir. Karena itu, undangan pribadi tersebut terasa seperti sebuah sapaan kecil dari masa lalu. Seolah ada pesan sederhana yang berkata, “Kami masih mengingat.”

Sebagai seorang purnabakti ASN, tentu rasa bahagia itu manusiawi. Sebab tidak setiap pensiunan masih mendapat kesempatan untuk hadir dalam suasana upacara kebangsaan. Undangan itu kemudian membawa ingatan berjalan jauh ke belakang, menyusuri lorong waktu lebih dari tiga puluh tahun pengabdian.

Hampir setiap tahun selama menjadi ASN, 17 Agustus selalu diwarnai barisan upacara. Kadang sebagai peserta, kadang sebagai panitia, kadang pula berada di balik kesibukan menyiapkan berbagai keperluan agar upacara berlangsung khidmat.

Namun sesungguhnya, rasa terhadap 17 Agustus telah tumbuh jauh sebelum mengenal dunia birokrasi. Sejak SD, SMP hingga SMA di Bagansiapiapi, kemudian ketika menempuh pendidikan di APDN Pekanbaru dan IIP Jakarta, tanggal 17 Agustus selalu memiliki suasana yang berbeda.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika Merah Putih dikibarkan. Ada kebanggaan ketika Indonesia Raya berkumandang. Ada kesadaran bahwa setiap orang, sekecil apa pun perannya, adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah bangsa.

Masa sekolah menyimpan kenangan yang sederhana. Ketika mendapat kesempatan mewakili sekolah dalam olahraga, seni, cerdas cermat dan berbagai perlombaan, ada gugup, ada semangat, ada keinginan untuk memberikan yang terbaik. Kami membawa nama sekolah dan ingin pulang dengan kemenangan.

Kami juga pernah menghias pintu gerbang dan ruang kelas menjelang 17 Agustus. Tidak ada yang memerintah. Tidak ada hadiah yang dijanjikan. Semua dilakukan karena ada kegembiraan menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.

Dahulu, suasana menyambut hari kemerdekaan terasa hampir seperti menyambut Idulfitri. Ada kegembiraan, ada haru, tetapi yang paling terasa adalah ketulusan. Sebuah kegembiraan yang lahir bukan karena kewajiban, melainkan karena rasa memiliki terhadap negeri.

Kini, ketika usia berjalan semakin jauh dan rambut mulai banyak memutih, barulah terasa bahwa kenangan-kenangan sederhana itulah yang justru paling lama tinggal di dalam hati.

Perjalanan sebagai ASN dimulai pada 1985 setelah menyelesaikan pendidikan APDN selama tiga tahun. Pernah bertugas di Kantor Gubernur Riau di Pekanbaru, kemudian di Kantor Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam.

Negara kembali memberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Ilmu Pemerintahan Jakarta hingga 1990. Setelah itu pengabdian dilanjutkan di Batam sampai 2011, sebelum berpindah ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau hingga memasuki masa pensiun pada 2022.

Lebih dari tiga puluh tahun tentu bukan perjalanan yang selalu mudah. Ada keberhasilan dan kegagalan, ada hari-hari ringan dan ada pula masa ketika pekerjaan terasa berat. Namun ketika menoleh ke belakang, yang paling kuat justru rasa syukur.

Syukur pernah diberi kesempatan menjadi ASN. Lebih dari itu, syukur karena negara pernah memberikan kesempatan untuk belajar ketika keluarga belum mampu membiayai pendidikan tinggi. Diterima di APDN, kemudian melanjutkan pendidikan ke IIP Jakarta atas biaya pemerintah, bukan sekadar sebuah fasilitas. Itu adalah kepercayaan dan utang budi yang tidak mungkin lunas hanya dengan kata-kata.

Mungkin karena itulah undangan pribadi dari Pemerintah Kota Batam terasa begitu menyentuh. Seperti sebuah jabat tangan dari masa lalu. Seperti pengingat bahwa jabatan boleh berakhir, tetapi jejak pengabdian tidak selalu ikut hilang.

Sempat terbayang untuk membuka kembali lemari, mencari pakaian sipil lengkap yang dahulu begitu akrab dengan perjalanan kedinasan. Dasi masih tersisa. Sepatu pantofel pun ditemukan, meskipun bertahun-tahun tidak lagi menyentuh kaki.

Persoalannya kemudian sederhana dan sedikit menggelikan: celana jas sudah tidak lagi matching dengan jasnya. Empat tahun tidak digunakan, celana yang dahulu menjadi pasangannya lebih sering dipakai untuk kegiatan sehari-hari. Maklum, setelah pensiun, membeli pakaian baru bukan lagi prioritas. Yang ada dipakai sampai warnanya mulai berbeda.

Tersenyum melihat kenyataan kecil itu. Ah, siapa pula yang akan terlalu memperhatikan seorang pensiunan? Tidak matching pun tidak masalah. Yang penting bukan pakaian, melainkan niat untuk memenuhi undangan dan kembali merasakan suasana 17 Agustus.

Namun akhirnya muncul keraguan: datang atau tidak?

Kalau tidak datang, terasa kurang enak karena ada kewajiban moral untuk menghormati undangan. Tetapi kalau datang, ada pula rasa sungkan. Bertemu kawan-kawan dan adik-adik yang masih aktif bekerja, terlintas pertanyaan yang sebenarnya mungkin hanya lahir dari pikiran sendiri: “Sudah pensiun, kok masih datang? Belum move on?”

Begitulah manusia. Kadang yang paling melelahkan bukan perjalanan menuju suatu tempat, melainkan percakapan panjang di dalam kepala sendiri.

Namun pada 17 Agustus 2026, seluruh keraguan itu akhirnya selesai bukan karena keputusan untuk datang, melainkan karena keadaan membuat langkah tertahan di rumah. Upacara akhirnya disaksikan melalui layar televisi.

Tidak ada lapangan. Tidak ada barisan. Tidak ada sepatu pantofel. Tidak ada jas dan celana yang warnanya sudah tidak serasi.

Tetapi justru dari ruang sederhana itu muncul kesadaran yang lebih dalam: cinta kepada negeri ternyata tidak selalu harus dibuktikan dengan berdiri di lapangan upacara.

Kadang ia cukup hadir dalam diam. Dalam dada yang bergetar ketika Indonesia Raya dinyanyikan. Dalam mata yang berkaca-kaca ketika Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang. Dalam doa agar negeri ini tetap utuh, kuat dan menjadi rumah yang baik bagi anak cucu.

Pesan-pesan WhatsApp dari sahabat dan teman yang saling mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia pun berdatangan. Rumah terasa tenang. Tubuh mungkin tidak hadir di lapangan, tetapi hati tetap bisa ikut berdiri.

Pada usia seperti ini, kemerdekaan terasa semakin jauh maknanya dari sekadar upacara. Kemerdekaan adalah perjalanan panjang yang harus terus dijaga, dirawat dan disempurnakan.

Kita boleh berbeda pilihan dan pendapat. Kita boleh kecewa kepada pemerintah. Kita boleh menyampaikan kritik dan menuntut perbaikan. Mencintai negeri bukan berarti harus mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Justru karena mencintai, kita ingin Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik.

Menjelang peringatan kemerdekaan tahun ini, terdengar berbagai suara kegelisahan dari banyak penjuru. Ada kritik, tuntutan dan kekecewaan terhadap persoalan yang belum selesai. Suara-suara itu adalah bagian dari kehidupan demokrasi. Yang diperlukan adalah ruang dialog yang jujur dan perhatian yang sungguh-sungguh, agar riak-riak itu tidak berubah menjadi gelombang yang memisahkan.

Pemerintah tidak harus menjawab setiap kegelisahan dengan suara yang lebih keras. Tidak semua kritik adalah ancaman. Tidak semua suara yang terdengar sumbang harus dibungkam. Kadang suara yang fals justru sedang menunjukkan bahwa ada nada yang belum tepat.

Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tanggap, cepat, adil dan memiliki hati. Dengarkan suara rakyat sebelum ia berubah menjadi teriakan. Temui mereka yang merasa tidak didengar. Sebab zaman berubah, dan cara berkomunikasi dengan rakyat pun harus berubah.

Indonesia terlalu besar untuk dibangun hanya dengan satu suara. Negeri ini adalah sebuah orkestra raksasa yang terdiri atas jutaan nada. Ada yang tinggi, ada yang rendah. Ada yang lembut, ada yang keras. Ada yang terdengar indah, ada pula yang sesekali sumbang.

Tugas seorang dirigen bukan mematikan suara yang fals, melainkan mendengar, mengatur dan menyatukan seluruh nada agar pada akhirnya menjadi sebuah simfoni yang indah.

Begitulah seharusnya Indonesia dirawat. Bukan dengan membungkam perbedaan, tetapi dengan merajutnya. Bukan dengan menghapus kritik, tetapi menjadikannya cermin. Bukan dengan memperlebar jarak, tetapi memperbanyak jembatan.

Dari rumah, sebagai seorang purnabakti yang pernah puluhan tahun berdiri dalam barisan, ada satu pelajaran sederhana yang kembali terasa: seseorang boleh pensiun dari jabatan, tetapi tidak pernah boleh pensiun dari mencintai negeri.

Jabatan berakhir. Seragam dilepas. Kartu pegawai disimpan. Tetapi rasa memiliki kepada Indonesia semestinya tidak pernah ikut pensiun.

Mungkin tidak lagi berdiri di lapangan. Mungkin tidak lagi mengenakan jas dan dasi. Tetapi Merah Putih tetap dapat tegak di dalam dada.

Dan di usia senja, ambisi berlebihan memang tidak lagi diperlukan. Jabatan dan pangkat telah menjadi bagian dari masa lalu. Yang lebih penting adalah menikmati sisa perjalanan dengan tenang, bersyukur, tetap berkarya sebisanya, dan memberikan sesuatu yang berguna meskipun kecil.

Ada yang mengatakan kehidupan justru baru dimulai pada usia 60 tahun. Mungkin benar. Sebab pada usia itu, seseorang mulai memahami bahwa hidup bukan lagi tentang seberapa tinggi pernah berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang masih dapat ditinggalkan.

Terima kasih Indonesia.

Terima kasih kepada negeri yang pernah memberikan kesempatan ketika keluarga belum mampu memberikannya. Terima kasih kepada tanah yang menerima langkah-langkah kecil sejak Bagansiapiapi, Pekanbaru, Batam, Jakarta hingga Kepulauan Riau. Terima kasih kepada guru, sahabat, atasan, rekan kerja dan semua orang baik yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang ini.

Negeri ini bukan sekadar tempat kita dilahirkan. Ia adalah rumah tempat kita belajar menjadi manusia. Tempat kenangan ditanam. Tempat anak-anak dan cucu-cucu menggantungkan masa depan.

Kelak, ketika seluruh perjalanan selesai, kita ingin pulang ke tanah yang sama. Negeri tempat lahir, tempat tumbuh dan membesar, tempat pernah berkarya dalam suka dan duka, tempat pernah jatuh lalu bangkit, tempat belajar tentang pengabdian, dan tempat hati ingin berlindung di hari tua.

Jika suatu hari Tuhan memanggil pulang, biarlah cinta kepada negeri ini menjadi salah satu hal yang tetap tinggal setelah jabatan, pangkat dan nama tak lagi berarti.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Panjang umur negeriku. Semoga Merah Putih tetap berkibar bukan hanya di tiang-tiang upacara, tetapi juga di dalam hati setiap anak bangsa.

Indonesia, rumah kita bersama. Indonesia, tempat lahir beta. Indonesia, tempat tumbuh dan berkarya. Indonesia pula tempat berlindung di hari tua.

Dan jika kelak langkah ini benar-benar berhenti, semoga doa untuk negeri tetap mengalir dalam sunyi. Sebab boleh jadi nama seseorang perlahan hilang dari ingatan manusia, tetapi cinta kepada tanah air tidak harus ikut menghilang.

Dirgahayu Indonesia. Merdeka.

Tulisan Bang Buralimar
Pengamat Olahraga dan Ketua Badan Wakaf Indonesia Perwakilan Kota Batam

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026