Home Berita Utama BBM Bali 12-14 Oktober Langka, Benarkah Ada Motif Politik? Ini Fakta yang...

BBM Bali 12-14 Oktober Langka, Benarkah Ada Motif Politik? Ini Fakta yang Terungkap

Stok BBM Bali Oktober 2026
BBM Bali 12-14 Oktober Langka, Benarkah Ada Motif Politik? Ini Fakta yang Terungkap
Banner DPRD Batam 2026

BALI – Kelangkaan bahan bakar minyak ( BBM ) yang memicu antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pada pertengahan 12 -14 Oktober 2026 memunculkan pertanyaan publik. Di tengah situasi tersebut, muncul pula pertanyaan apakah gangguan pasokan ini murni persoalan distribusi atau ada kepentingan lain di baliknya.

Hingga Kamis (15/10/2026), belum ada bukti terverifikasi yang menunjukkan kelangkaan BBM di Bali sengaja direkayasa untuk kepentingan politik. Penjelasan yang disampaikan pemerintah dan Pertamina sejauh ini mengarah pada kendala distribusi, keterlambatan kapal pengangkut, serta meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, sebelumnya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas antrean BBM yang terjadi di sejumlah SPBU.

Simon menjelaskan, salah satu penyebab gangguan adalah kendala teknis pada kapal tanker saat proses bongkar muat. Kapal tersebut mengalami kesulitan terkait jangkar sehingga jadwal bongkar muat yang semula direncanakan pada Senin (12/10/2026) pukul 06.30 WITA mundur hingga sekitar pukul 22.00 WITA.

Selain itu, tingginya permintaan Pertalite turut memengaruhi ketersediaan BBM di tingkat SPBU. Perbedaan harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan penggunaan Pertalite.

Penjelasan tersebut disampaikan Simon kepada publik melalui keterangan yang diberitakan ANTARA pada 13 Oktober 2026.

Pemerintah Sebut Stok Nasional Masih Aman

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyatakan stok BBM nasional masih dalam kondisi aman. Pada Rabu (14/10/2026), ia menyebut ketahanan stok nasional berada pada kisaran 16–18 hari.

Bahlil menduga antrean panjang di Bali berkaitan dengan kendala distribusi dan menyatakan pemerintah akan melakukan koordinasi untuk menangani persoalan tersebut.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyebut ketahanan stok nasional berada pada kisaran 18–20 hari. Menurut Laode, keterlambatan kapal dan faktor cuaca menjadi tantangan dalam proses penyaluran BBM, khususnya untuk wilayah yang mengandalkan transportasi laut.

Laode juga menyatakan kapal pengangkut telah tiba dan distribusi dipercepat melalui operasional selama 24 jam.

Pertamina Tambah Pasokan 57,9 Juta Liter

Sebagai langkah pemulihan, Pertamina Patra Niaga memperkuat pasokan BBM ke Bali. Berdasarkan informasi perusahaan pada 15 Oktober 2026, tambahan pasokan yang disiapkan mencapai 57,9 juta liter untuk periode 14–17 Oktober 2026.

Pasokan tersebut terdiri atas 44,9 juta liter Pertalite dan 13 juta liter Pertamax. Pengiriman dilakukan melalui Fuel Terminal Sanggaran di Denpasar dan Integrated Terminal Manggis di Kabupaten Karangasem.

Hingga 15 Oktober 2026, sekitar 19 juta liter dari tambahan pasokan tersebut telah tiba di kedua terminal.

Pertamina Patra Niaga juga menyiagakan 108 mobil tangki dengan dukungan 465 awak serta mengoperasikan 66 SPBU di wilayah Denpasar dan Badung selama 24 jam. Penjualan BBM secara literan di sejumlah SPBU Denpasar turut dioptimalkan dengan penyaluran sekitar 5.000 liter per hari.

Benarkah Ada Motif Politik?

Pertanyaan mengenai kemungkinan motif politik di balik kelangkaan BBM, hingga saat ini, belum komentar pengamat akan ada unsur politik.

Namun, dengan kondisi ini membuktikan pemerintah Bali masih membutuhkan peran pemerintah pusat disegala bidang. Terbukti, dengan stok BBM terkendala 3 hari, membuat Pulau Bali lumpuh total.  Dan, apakah itu ada unsur politis, akan terjawab apakah Direktur Utama Pertamina akan diganti seperti halnya terjadi di Kota Batam mengalamai Blackout pada tanggal yang sama, sehingga Direktur Utama PLN juga diganti.

Publik Menunggu Layanan Kembali Normal

Gangguan pasokan BBM berdampak langsung pada aktivitas masyarakat, terutama pengendara, pekerja, pelaku usaha, dan sektor pariwisata yang bergantung pada kelancaran transportasi.

Karena itu, fokus utama penanganan adalah memastikan distribusi kembali normal, antrean berkurang, serta kebutuhan BBM masyarakat terpenuhi.

Pertamina Patra Niaga mengimbau masyarakat membeli BBM sesuai kebutuhan, tidak melakukan penimbunan, dan tidak menjual kembali BBM bersubsidi secara ilegal. Informasi mengenai layanan BBM dapat diperoleh melalui Pertamina Contact Center 135.

Dengan demikian, pertanyaan mengenai dugaan motif politik di balik kelangkaan BBM Bali masih memerlukan bukti tambahan. Fakta yang telah disampaikan pemerintah dan Pertamina sejauh ini menempatkan kendala distribusi, keterlambatan kapal, dan peningkatan permintaan sebagai faktor utama yang perlu ditelusuri. (*)

Sumber Dirangkum dari sejumlah website media.

WhasApp

Google News WartaKepri