WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Ramadhani Alfitra balita berusia 11 bulan warga Desa Ceruk Kecamatan Bunguran Timur Laut yang diduga menderita penyakit tulang rapuh dan dirawat di RSCM Jakarta.
Dalam 11 hari perawatan di rumah sakit, hingga saat belum dapat dipastikan penyakit apa yang dialami Rahmadani anak dari pasangan Iwan Hermawan (27) Zaharo (27).
” Pihak rumah sakit belum dapat memastikan penyakit apa di derita balita, kita semua berdoa semoga diberikan kekuatan selalu menyertai ananda Ramadhani,” ungkap Ngesti Yuni Suprapti Wakil Bupati Natuna menyempatkan menjenguk Ramadani di RSCM Jakarta, Senin (18/7/2016).
Diagnosa sudah dilakukan oleh 5 dokter RSCM dokter anak, Dokter THT, Dokter kulit, Dokter tulang, Dokter bedah, dimana sampai hari ini masih menunggu hasil.
” Keputusan para dokter analisa sementara pihak Dokter kerapuhan tulang kaki dan Ada penonjolan tulang di sebelan lengan kiri atas,” tutur Ngesti Yuni Suprapti kepada wartakepri.co.id, (20/7/2016).
Ngesti yuni mengatakan bahwa “Rahmadani, saat ini sangat semangat seperti anak anak yang lain hanya saja kaki saja saat ini anatomi tulang agak lemah, untuk kedua tangan juga lemah masih.
Sementara iwan, orang tua Rahmadani dihubungi wartakepri.co.id keseharian hanya pekerja tidak tetap serabutan di Natuna, memohon agar sakit di rasakan anaknya segera pulih.
” Anak saya udah sebelas hari di rawat rumah sakit RSCM Jakarta melalui jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) Natuna Allhamdulilah sangat terbantu dan medapatkan perlakuan sangat baik pihak dokter seluruhnya perawatan di tanggung pemda Natuna,” kata Iwan.
Pihak dokter sudah melakukan tindakan dengan cek seluruh anatomi tubuh anak saya dan hasil di bawa ke laboratorium untuk mengetahui penyakit apa, melalui bon surve belum memutuskan apa dialami anak saya.tutup Iwan.
Seperti dikutip dari laman Kompas.com. bahwa penyakit tulang kerap dipersepsikan sebagai bagian terkuat yang menyusun rangka dan struktur. Meski memang begitu adanya, ternyata hal ini tidaklah berlaku sama. Terutama pada penderita kerapuhan tulang (ostogenesis imperfecta/OI).
Tulang para penderita OI sangat tipis dan rapuh serta memiliki kepadatan mineral yang rendah. Tulang penderita OI umumnya sangat mudah patah di lokasi manapun tanpa adanya benturan. Hal ini dikarenakan minimnya produksi kolagen yang merupakan penyusun tulang akibat mutasi gen. Akibatnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan terus berlangsung seumur hidup.
Selain tulang yang mudah patah, OI memiliki beberapa gejala penentu lainnya. “Biasanya sklera (bagian putih mata) penderita berwarna biru atau abu, penderita juga mengalami gangguan petumbuhan gigi, otot, sendi, pendengaran, dan berperawakan pendek,” kata ahli kesehatan tulang dari Royal Children Hospital, Melbourne, Australia, Dr. Margaret Zacharin. Warna sklera mata merupakan akibat dari minimnya produksi kolagen.(ricky/kompas)































