Nurdin Basirun : Perguruan Tinggi Islam Bukanlah Sebuah Tempat Pelarian

450

WARTAKEPRI.co.id, BINTANР Gubernur Kepulauan Riau H. Nurdin Basirun memberi kuliah umum kepada mahasiswa baru Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sultan Abdurrahman (SAR) Kepri di Jalan Lintas Barat, KM 19, Kelurahan Toapaya Asri, Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan, Senin (5/9/2016).

Kuliah umum Gubernur ini disampaikan dihadapan sekitar 105 mahasiswa baru tahun ajaran 2016_2017 dengan tema ‘Peran Perguruan Tinggi Agama Islam dalam mendukung visi dan misi Pemerintah Provinsi Kepri’.

Dalam materi kuliahnya Gubernur menyampaikan bahwa konektivitas hati masih tetap menjadi yang paling utama dalam mewujudkan apa yang tertuang dalam tema kuliah pada saat ini. Karena tanpa adanya konektivitas hati, maka tidak akan mungkin perguruan tinggi Islam bisa berperan dengan baik pula dalam mewujudkan visi dan misi Pemprov Kepri.

Honda Capella

Nurdin menegaskan, perguruan tinggi Islam bukanlah sebuah tempat pelarian, bukan pula tempatnya orang-orang yang sedang putus asa. Atau bahkan ada yang berasumsi daripada tidak kuliah.

“Kita harus berfikir bahwa perguruan tinggi Islam ini adalah memang sebuah tujuan, dan bukan tempat pelarian. Dan para mahasiswa harus bangga kuliah di STAI. Kita tahu bahwa di kampus umum tidak ada disiplin ilmu yg mewajibkan bangun subuh dan shalat tahajud. Namun saya yakin anak-anak STAI melakukan itu. Dan itulah awal dari peran yg ditunjukkan perguruan tinggi Islam dalam mewujudkan visi dan misi Kepri ini sesuai adalah dengan tema kuliah kita pada kesempatan ini,” kata Nurdin.

Lebih lanjut, Nurdin juga mendukung upaya STAI untuk menjadi Perguruan Tinggi Negeri Islam di Kepri. Karena dengan demikian, maka akan semakin menumbuhkan semangat para pemuda di Kepri untuk menggali ilmu Agama di kampus ini nantinya.

Tidak hanya itu, kedepan STAI juga diharapkan mampu bersaing di tingkat global. Menjawab bahwa perguruan tinggi Islam memang bukan tempat pelarian semata, namun memang sebuah tujuan utama dalam pendidikan.

Sebelum mengakhiri materi kuliahnya, Gubernur juga mengingatkan mahasiswa akan bahaya narkoba yang saat ini telah masuk keseluruh elemen masyarakat. Bahkan dikalangan anak kiyai, anak polisi dan sebagainya.

“Satu hal yang kita harus mewaspadainya dan sebisa mungkin menghindarinya adalah masalah narkoba. Narkoba ini sangat jahat dan masuk ke berbagai elemen dan lapisan masyarakat. Bahkan telah masuk di kalangan anak kiyai dan sebagainya. Adik-adik jangan sampai terjerumus kedalamnya,” tutup Nurdin.

Sementara itu Ketua STAI Sultan Abdurrahman Kepri Drs. H. Razali Jaya dalam pidatonya mengatakan, jika kampus STAI dibangun menggunakan dana APBD Kepri masing-masing 2012, 2013 dan 2014. Dan ditambah lagi dari APBD di tahun 2015 untuk kelengkapan meubeler. Adapun lahan tempat membangunnya adalah merupakan lahan dari Pemerintah Kabupaten Bintan.

Sejauh ini STAI telah mewisuda mahasiswanya sebanyak dua kali, dan tahun ini akan dilakukan wisudah yang ke-3 untuk mahasiswa sebanyak 82 orang.

Adapun jumlah mahasiwa yang sedang menempuh pendidikan di STAI Sultan Abdurrahman saat ini berjumlah 527 orang, dengan rincian 421 mahasiswa lama dan 105 mahasiwa baru.

Dan di STAI sendiri ada 4 program studi utama, masing-masing Manajemen Pendidikan Islam (MAI), Ekonomi Syariah/Ekonomi Islam (EI), Ahwalu Syahsiyah (AS) serta Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT).

“Saat ini kita sedang berupaya untuk menjadikan kampus ini berstatus Negeri. Ada dua Provinsi di Indonesia yang belum memiliki perguruan tinggi agama Islam Negeri, yakni Kepri dan Kalimantan Utara. Oleh sebab itu kami berharap semoga usaha kami ini bisa terwujud dan kami sangat membutuhkan dukungan dari Pemerintah Provinsi Kepri dan instansi terkait lainnya,” kata Razali Jata. (r/Basor/Humas)

FANINDO