Belajar dari Nama Andrew Tani, James Gwee, and MRA – WartaKepri.co.id
17 views

Belajar dari Nama Andrew Tani, James Gwee, and MRA

Agung-Setiyo-Wibowo-ok_edit





Babak baru hubungan antar bangsa di Asia Tenggara telah ditabuh sejak 31 Desember 2015. Sebuah hari bersejarah yang menandai dimulainya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kendati gaungnya mungkin belum begitu terdengar di kalangan masyarakat akar rumput, pelan tapi pasti setiap warga di kawasan ini akan merasakan dampaknya.

Salah satu aspek yang ditakuti oleh kalangan profesional tanah air ialah implementasi Mutual Recognition Arrangement (MRA). Sebuah kesepakatan yang jika “berjalan sebagaimana mestinya” memungkinkan profesional terampil terstandarisasi bekerja lintas batas negara.

Fobia tersebut bisa jadi berlebihan bagi sebagian kalangan. Namun tidak bagi saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai insinyur, arsitek, tenaga pariwisata, akuntan, dokter gigi, tenaga survei, praktisi medis dan perawat. Pasalnya, delapan profesi itu telah ditetapkan sebagai “proyek percobaan”

Kalau menengok sejarah, sejatinya migrasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan rakyat Asia Tenggara. Dari dulu nenek moyang kita telah terbiasa berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya tanpa dipusingkan oleh sekat-sekat administrasi negara. Mereka berinteraksi dengan dunia luar untuk kehidupan yang lebih baik. Entah untuk berniaga, memperdalam agama, hingga sekedar berpetualang.

Di Negeri Sembilan Malaysia, kita bisa saksikan saudara-saudara kita perantau Sumatera Barat yang masih mempertahankan adat-istiadat Minangkabau. Satu fakta yang diperkuat dengan adanya Kota Kembar Bukittinggi dan Seremban.

Di Mindanao Filipina, keturunan Indonesia menempati urutan kelima terbesar warga tempatan kelahiran luar negara. Mereka datang dari pulau-pulau kecil di Sulawesi Utara.

Di Singapura, tidak kurang dari 200.000 orang yang tercatat sebagai WNI. Jumlah itu belum termasuk orang-orang yang telah berpindah kewarganegaraan. Yang menarik, pencipta lagu kebangsaan Majulah Singapura jugalah orang Indonesia yang bernama Zubir Said dari Pulau Sumatera.

Pasca Kolonial

Setelah era penjajahan berlalu, interaksi warga antarbangsa di Asia Tenggara tidaklah surut. Yang terjadi justru sebaliknya. Hanya saja, sekat-sekat administrasi negara makin dirasakan dampaknya. Mobilitas warga lintas bantas negara mulai memakai “dokumen ajaib” bernama paspor.

Di zaman Soeharto misalnya. Saudara-saudara kita dari Jawa (atas permintaan Mahathir Mohamad) didatangkan untuk memenuhi kurangnya tenaga kerja di sektor perkebunan, konstruksi, hingga penata laksana rumah tangga di Semenanjung Malaya. Sementara itu saudara-saudara kita dari

Pulau Flores dan sekitarnya mengisi kurangnya SDM tempatan di Sarawak dan Sabah. Cerita itu senada dengan orang-orang Burma, Kamboja, dan Laos yang mengisi pos-pos ketenagakerjaan di Thailand. Sektor-sektor yang tidak diminati oleh warga lokal dengan pendidikan atau keterampilan lebih tinggi.

Kendati berasaskan mutualisme, bukan serta merta migrasi di Asia Tenggara sepi dari masalah. Setiap tahun berita-berita kekerasan terhadap buruh migran Indonesia di negeri jiran tidak pernah absen. Isu senada dengan buruh migran Filipina di Singapura, buruh migran Myanmar di Thailand, hingga para penglaju Malaysia di Singapura.

Semua isu itu dibungkus dalam balutan pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia. Satu isu yang memecah ASEAN menjadi dua kubu: negara pengirim dan negara penerima migran.

Jika dicermati lebih jauh, isu migrasi di Asia Tenggara masih didominasi oleh pekerja informal. Mereka adalah kelompok pekerja dengan keterampilan maupun pendidikan rendah yang lekat dengan 3D: dirty, dangerous, and difficult. Dalam artian mereka membanting tulang di sektor-sektor yang tidak jauh dari yang namanya kotor, bahaya, dan sulit. Karakteristik pekerjaan yang sangat kontras dengan MRA dengan “kerah putih”-nya.

Kesempatan Sama

Di era digital seperti sekarang ini, seluruh masyarakat Asia Tenggara memiliki kesempatan yang sama. Dengan begitu, pilihan pekerjaan orang Indonesia di negeri jiran tidak lagi monoton sebagai penata laksana rumah tangga, kuli bangunan, atau buruh perkebunan kelapa sawit.

Gen Y terpelajar dan terdidik bisa memperebutkan pekerjaan-pekerjaan bonafit di perusahaan-perusahaan multinasional di Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok, atau Ho Chi Minh City. Sementara itu, para pelaku UMKM bisa memasarkan produk dan jasa terbaiknya dengan lebih mudah ke Penang, Makati, Chiang Mai, Bandar Seri Begawan, hingga Vientiane.

Mungkin kita dapat belajar lebih banyak dengan migran-migran sukses kenamaan. Mulai dari Merry Riana, Andrew Tani, hingga James Gwee. Merry pernah berjaya di Negeri Singa melalui layanan perencanaan keuangan yang mengantarkannya sebagai Miliarder di usia 26 tahun.

Pencapaian yang belakangan mengantarkannya sebagai penulis dan motivator perempuan terkemuka di Asia. Sementara itu Andrew yang merantau dari Manila ke Jakarta di usia 20an kini justru dikenal sebagai “Mr. Corporate Culture” dengan konsep Organizing for Business Excellence (ORBEX) yang mendunia.

Cerita senada dialami oleh James Gwee dari Singapura yang justru berkibar di tanah air berkat bisnis pelatihannya di bidang penjualan, pengembangan diri, leadership, hingga service excellence. Rekam jejak gemilang yang membuatnya dikenal sebagai Indonesia’s Favourite Trainer & Speaker.

Bisa jadi apa yang dialami oleh Merry Riana, Andrew Tani dan James Gwee terdengar biasa saja bagi Anda. Namun di era yang kian terhubung ini, kita makin disadarkan bahwa semua orang memiliki kesempatan sama. Mungkin hanya masalah konteks dan cara pandang yang membedakannya.

Tak peduli di mana dilahirkan dan apa latar belakang pendidikan Anda, globalisasi membuka peluang yang tidak ada batasnya. Begitu halnya dengan MRA, cita-cita luhur Masyarakat Ekonomi ASEAN. Yang perlu diingat, saingan kita sekarang bukan lagi dengan teman-teman satu almamater, satu kota, apalagi satu negara.

Namun, sudah meluas ke lingkup regional dan global. Hanya mereka yang mau mempersiapkan dan mampu mengejar kesempatanlah yang paling berpeluang untuk mereguk apa yang dinamakan dengan keberhasilan.(*)
Agung Setiyo Wibowo
Dosen FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji, Tanjungpinang.
Dapat dihubungi di www.agungwibowo. com dan berkicau di @grandsaint.



PKP DREAMLAND
FANINDO
WIRARAJA
DEWAN PERS WARTAKEPRI

Pendapat Anda

17 views