Home Batam Dampak Perang Iran Mulai Terasa ke Pariwisata Kepri, Dimulai Harga Tiket Kapal

Dampak Perang Iran Mulai Terasa ke Pariwisata Kepri, Dimulai Harga Tiket Kapal

Dampak Perang Iran Mulai Terasa ke Pariwisata Kepri, Dimulai Harga Tiket Kapal
Surya Wijaya Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisat Kepri, saat menyambut tamu Turis dari Singapura. Foto Istimewa
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

WARTAKEPRI.co.id – Dampak konflik yang melibatkan Iran mulai memberikan efek berantai terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Di sektor pariwisata, sejumlah pelaku industri mulai mengingatkan adanya potensi dampak terhadap daerah perbatasan seperti Batam yang selama ini sangat bergantung pada kunjungan wisatawan mancanegara.

Sebagai salah satu pusat ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau, Batam memiliki peran penting dalam sektor pariwisata regional. Kota ini dikenal sebagai destinasi utama wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan pernah dijuluki “Singapura van Riouwarchipel” karena posisinya yang strategis dalam jalur ekonomi dan perdagangan.

Selama bulan Ramadan, penurunan kunjungan wisatawan mancanegara sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, jumlah wisatawan dari Singapura dan Malaysia memang cenderung menurun karena aktivitas masyarakat di kedua negara tersebut juga berfokus pada ibadah dan kegiatan keluarga.

Namun di balik kondisi yang dianggap normal tersebut, mulai muncul tanda-tanda yang patut diwaspadai. Sejumlah pelaku industri pariwisata menilai dampak konflik global dapat memicu efek domino yang berpengaruh terhadap pergerakan wisatawan di kawasan ini.

Hal itu terlihat dari pengalaman kunjungan kerja ke Johor, Malaysia, baru-baru ini. Biasanya, bazar Ramadan di Malaysia menjadi pusat keramaian masyarakat yang berburu takjil, perlengkapan Lebaran, hingga kebutuhan mudik sejak awal Ramadan. Tradisi ini selalu menghadirkan suasana meriah yang menandai datangnya Hari Raya.

Namun tahun ini, suasana tersebut terlihat berbeda. Pemerintah Malaysia mengimbau masyarakat untuk lebih berhemat dan membatasi pengeluaran. Kebijakan itu diambil menyusul rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu oleh ketidakstabilan ekonomi global akibat konflik yang sedang berlangsung.

Kondisi tersebut tentu berpotensi berdampak pada Batam sebagai wilayah yang sangat dekat secara geografis dengan Malaysia dan Singapura. Ketergantungan pada wisatawan dari dua negara tersebut membuat dinamika ekonomi mereka ikut memengaruhi sektor pariwisata Batam.

Padahal, pada akhir 2025 lalu pemerintah daerah sempat mencatat pencapaian menggembirakan dalam jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam dan Kepulauan Riau. Capaian itu bahkan menjadi dasar penetapan target yang cukup ambisius pada 2026.

Kota Batam menargetkan kunjungan sekitar 1,7 juta wisatawan mancanegara, sementara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menargetkan sekitar 2,7 juta kunjungan sepanjang tahun ini.

Namun perkembangan terbaru menunjukkan tanda awal tekanan di sektor transportasi laut. Operator kapal feri rute Singapura mengumumkan penyesuaian biaya layanan mulai 12 Maret. Penumpang yang berangkat dari Singapura akan dikenakan tambahan biaya sebesar 6,5 dolar Singapura, sementara penumpang dari Batam dikenakan tambahan sekitar Rp65.000.

Kenaikan biaya ini dipicu oleh meningkatnya harga energi global, yang menjadi salah satu dampak langsung dari konflik geopolitik. Pelaku industri kini menunggu apakah operator feri rute Malaysia juga akan mengambil langkah serupa.

Menghadapi situasi tersebut, pelaku pariwisata menilai Batam perlu fokus menjaga daya tarik destinasi agar tetap kompetitif. Mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem pariwisata secara menyeluruh.

Ekosistem pariwisata yang dimaksud mencakup keterpaduan antara berbagai komponen, mulai dari atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung, hingga keterlibatan masyarakat lokal. Semua unsur tersebut harus berjalan selaras dengan dukungan pemerintah dan sektor swasta untuk menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Saat ini, sejumlah pelaku industri menilai ada beberapa mata rantai dalam ekosistem tersebut yang mulai melemah akibat kurangnya pengawasan dan koordinasi. Kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi daya saing destinasi jika tidak segera diperbaiki.

Apalagi, regulasi terbaru di sektor pariwisata melalui Undang‑Undang Nomor 18 Tahun 2025 tentang Pariwisata dinilai membuka ruang kebebasan berusaha yang lebih luas. Di satu sisi hal ini memberi peluang bagi pelaku usaha, namun di sisi lain juga menuntut peran pemerintah untuk memastikan pengelolaan sektor pariwisata tetap berjalan tertib dan berkelanjutan.

Para pelaku industri berharap pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan dapat menjaga stabilitas dan kualitas ekosistem pariwisata Batam. Dengan demikian, kota ini tetap mampu menarik wisatawan meski di tengah tekanan ekonomi global yang mulai terasa.(*)

Opini Surya Wijaya
Direktur Eksekutif Forum Jurnalis Pariwisat Kepri

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026

WhasApp