Ali Wasim Palsukan Tanda Tangan, Tiga Anak Nenek Khinah Hanya Bisa Menangis

246

Wartakepri.co.id, Batam – Kami tidak menyangka akan seperti ini perbuatan yang dilakukan adik tiri mama saya, terkait surat tanah yang dititipkan ibu pada Ali Wasim, yang tidak lain orang tua dari Ruslan Ali Wasim, anggota komisi 1 DPRD Batam.

“Tak terima pengakuan dan pemalsuan tanda tangan mama saya oleh Ali Wasim, yang mengaku sebagai pemilik tanah ibu saya,” kata Demnah anak tertua nenek Khinah.

Sejak saya dilahirkan bersama dua adik saya, tanah itu adalah milik kami. Hanya saja, surat itu mama titipkan  kepada Ali Wasim dan kami saksikan termasuk Pak Lebi dan Noceng dirumahnya di Teluk Bakau.

“Surat tanah itu dititipkan pada Ali Wasim, saat kami antar ke rumahbya surat tanah itu disimpan dalam bambu. Ruslan M Ali Wasim saat  itu masih sekolah,” kata Demnah anak tertua dari nenek Khinah, Sabtu (6/5/2017) di Piayu Laut Kota Batam.

Tidak habis pikir pengakuan dari Ali Wasim ini, yang mengaku pemegang kuasa dari warisan ibu. Sementara kami tiga kakak beradik yaitu Damnah, Marinah dan Enah yang dilahirkan dari perut nenek Khinah dianggap apa.

Kemarin, selesai rapat di DPRD Batam, saya menangis di pusaran makam mama, hingga semalaman tidak bisa tidur karena perlakuan Ali Wasim ini pada kami. Berulang kali saya meminta surat tanah itu pada Ali Wasim, selalu mengatakan hilang. Jika benar hilang tolong diuruskan kembali karena kami tidak ada sekolah.

Semasa hidup mama Khinah, tanah dijual pada Neli tahun 2013 atas sepengetahuan kami. Surat kesepakatan jual beli tanah kami saksikan bersama cucu mama diantaranya: Nita, Syahrul, Sarbia dan Juraini di rumah Marinah, adik saya nomor dua. Ungkap Demnah, sambil meneteskan air mata.

Niat jahat Ali Wasim ini sudah terlihat, tanda tangan mama Khinah yang dibuatkan di Notaris Eri Chandra SH itu adalah palsu. Semua surat yang dibuat Ali Wasim pada tanggal 18 Maret 1982 dan surat notaris kedua pada tanggal 19 Nopember 1992, tidak sepengetahuan mama termasuk  kami. Mama itu tidak sekolah, sehingga tanda tangan tidak bisa dan biasanya hanya pake jempol.

Ali Wasim juga membuat palsu surat warisan tanah bersama tanpa kami ketahui. Ia menandatangani dengan membawa saksi Yem dan Abdul Samad, yang tak lain adik kandung dari pak RW pemilik restoran Melayu Jawa. Dan Surat itu mereka buat pada tanggal 13 Juni 2010 silam. Ujar Damnah.

Persoalan tanah yang dijual mama pada Nely, kami ketahui  Tanah ukuran 23 x16 meter dibayar Rp 43 juta, kemudian tanah Nurul di ganti rugi sebesar Rp12 juta dengan ukuran 12x 13 meter. Lalu rumah Indra di ganti Rp17 juta, pohon kelapa ganti Rp13 juta. Sehingga total yang digantinya sebesar Rp127 juta. Tegas Enah adik nomor tiga Demnah.

Jumat (6/5/2017) dilakukan rapat dengar pendapat di komisi 1 DPRD Batam, atas pengaduan Ali Wasim, yang dihadiri oleh RW, Lurah, Camat, Polsek Sei Beduk, BPN Batam, Damnah, Enah dan Neli selaku pihak pembeli tanah. Rapat tersebut dipimpin ketua komisi 1 DPRD, Budianto, dengan anggota Harmidi, Ruslan Ali Wasim anak Ali Wasim, Jurado dan Yudi Kurnaen.

Dari RDP tersebut, sidang mendadak pun lakukan ke lokasi di Tanjung Piayu oleh komisi 1, Sabtu (7/5/2017) siang. Anggota Dewan tersebut mempertanyakan izin lahan dan izin HO, Amdal pada Neli selaku pemilik Restoran Seafood Pantai Biru Sehati. Hasilnya, berapa.orang anggota dewan menyatakan akan melakukan penghentian sementara pekerjaan proyek sebelum selesai persoalan.

Kebijakan anggota dewan tersebut mendapat respon dari Neli alias Mei dan mengatakan akan melakukan upaya hukum. Jika memang itu keputusan dewan nantinya, tolong semua restoran yang ada disekitar lokasi juga diperiksa.
Saya membangun di kampung itu, untuk.membantu perekonomian warga bukan merusak.

“Jika penghentian proyek pekerja saya akan dilakukan oleh dewan, maka restoran lain yang ada disekitar harus disamakan juga. Karena restoran lain ada merusak bakau bakau yang ada sekitar pantai,” kata Neli geram.

Kemudian Ali Wasim saat dimintai keterangannya terkait surat tanah yang dikuasainya mengatakan, bahwa nenek Khinah tidak pernah menitipkan surat tanah padanya. Karena saya ini anak tiri dari pak Gedo dan nenek Khinah anak angkatnya.

Jelas, antara saya dan nenek Khinah berbeda, sehingga yang berhak sebagai ahli waris adalah saya. Surat tanah itu di buat RT dan RW,  karena saya yang di tuakan. Sementara, Tiga anak nenek Khinah tidak berhak soal ahli waris.

Kemudian, soal adanya surat yang dibuat di kantor Notaris Eri Chandra, saya tidak tahu karena belum melihat suratnya. Jika memang ada suratnya sampai di notaris, harusnya arsipnya ada sama saya.

“Yang membuat surat itu di notaris adalah pak RT dan Lurah tapi saya ketahui. Karena dulu ada rencana perusahaan mau bangun diatas tanah itu,  mungkin surat itu yang sampe di notaris,,”kata Ali Wasim berbelit belit.

Lebih jauh Ali Wasim beralibi, bahwa nenek Khinah hanya mengelolah tanah bukan menguasai, saat itu saya beri izin untuk ditanami tumbuh tumbuhan tapi bukan untuk dijual. Tapi kalau ada yang ingin sewa atau kontrak, ya silahkan. Itu dulu saya bilang sama nenek Khinah. Kilahnya.

Sementara, dalam surat itu jelas tanda tangan Ali Wasim sendiri dengan dua saksi yaitu Jamion dan Yen. Pemalsuan tanda tangan yang dilakukannya sangat menyakiti perasaan hati kami selaku anak kandung nenek Khinah. Tutup, Damnah lagi.

(Nikson Simanjuntak )

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO DPRD ANAMBAS DPRD KARIMUN