Penurunan Disektor Ini, Pertumbuhan Perekonomian Di Kepri Merosot Drastis

56

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provisi Kepulauan Riau, mengadakan press converence dalam Kajian Ekonomi Dan Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau Triwulan ke II tahun 2017, di Ballroom Grand i Hotel, Nagoya – Batam. Selasa, (10/05/2017)

Saat ini dimana pertumbuhan perekonomian di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), melambat pada triwulan I di tahun 2017 yang hanya sebesar 2,02% (yoy), lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi triwulan IV di tahun 2016 sebesar 5,24% (yoy).

Kepada Wartakepri.co.id dan awak media, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Gusti Raizal Eka Putra, mengatakan. Faktor utama yang mendorong melambatnya pertumbuhan ekonomi di Kepri dipengaruhi oleh dua sisi, pertama dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran.

“Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi didorong oleh penurunan di sektor Net Ekspor dan konsumsi pemerintah. Dari sisi penawaran perlambatan ekonomi terutama bersumber dari penurunan kinerja di sektor Industri dan Pertambangan”. Ungkapnya

Sisi Permintaan
Di Sektor Net Ekspor, dipengaruhi dari penurunan ekspor ke wilayah-wilayah​ di Indonesia, diperkirakan berupa komuditas kapal dan produk elektronik, dimana pada triwulan I di tahun 2017 sebesar 6,92%, sebelumnya pada triwulan IV ditahun 2016 sebesar 19,47%.

Sektor Konsumsi Pemerintah,​ dipengaruhi dari tertundanya pengesahan APBD dan penurunan dana bagi hasil dari pemerintahan pusat, yang mana pada triwulan I terealisasi 8,8%, lebih rendah dibanding realisasi triwulan I di tahun 2016 sebesar 12,0%, dan saat ini hampir seluruh proyek pemerintah masih tahap pengadaan/administrasi.

Sisi Penawaran
Di Sektor Industri, karena permintaan yang masih rendah khususnya pada industri kapal, besi baja dan pendukung migas, yang disebabkan belum adanya proyek-proyek baru, serta melemahnya permintaan domestik. Dimana pada triwulan I di tahun 2017 hanya sebesar 0,23%, sebelumnya di triwulan I pada tahun 2016 sebesar 4,22%.

Sektor Pertambangan, dari hasil lifting migas Kepri yang masih menurun seiring dengan harga minyak dunia masih pada Ievel rendah sementara hasil barang tambang Iainnya juga menurun, dengan kontraksi 6,63%, dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,20%.

Dan untuk perkembangan tekanan inflansi pada triwulan I di tahun 2017 sebesar 3,08%, lebih rendah dibandingkan triwulan sebesar 3,53%. Pada April 2017, Kepri mencatatkan inflasi 0,38%, meningkat dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan deflasi 0,81%.

“Dengan didorong dari kenaikkan tarif listrik PT. PLN Batam dan PT. PLN Persero. Secara tahunan, inflasi April 4,44%, masih berada pada kisaran target inflansi nasional 4% ± 1% “. Terang Gusti. (Andi Pratama)

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO DPRD ANAMBAS DPRD KARIMUN