WARTAKEPRI.co.id, NATUNA-Kepala Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau, Lagat Parroha Patar Siadari, kunjungan kerja ke Natuna untuk menindaklanjuti sejumlah laporan masyarakat masuk meja kerjanya.
Ombudsman akan menyikapi terkait aduan masyarakat, terutama berkenaan dengan pelayanan publik.
Dia mengaku sangat terkejut mahalnya harga tiket Batam-Natuna, begitu juga sebaliknya. Hal ini diperkuat dengan adanya laporan masyarakat kepadanya.
Patar sudah 3 hari di Natuna, ia merasa harga tiket pesawat relatif mahal. Padahal, jarak tempuh Natuna-Batam tidak terlalu jauh sama antara Batam ke Jakarta.
“Kami akan telusuri secepatnya merespon keluhan masyarakat ini ”, ujarnya ketika berkunjung ke kantor AJOI Natuna, Jumat, (26/10/2018).
Selain itu, ia juga akan menindaklanjuti beberapa laporan lainnya. Diantaranya soal pembangunan sekolah, Vaksin Rubela,masalah suplai minyak di Kecamatan Midai, pembangunan jalan di Pulau Tiga, dan pembangunan pelabuhan RoRo.
Ia menghimbau kepada masyarakat, agar tidak sungkan untuk melaporkan segala bentuk pelanggaran yang dilakukan Kementerian/Lembaga/Dinas/Instansi (KLDI). Terutama bidang pelayanan publik.di web https://ombudsman.go.id
Sebagai pelayan Publik, Patar menilai tidak bisa lepas dari media. Oleh sebab itu, sebelum pulang ke Provinsi Kepri, Ia menyempatkan diri berkunjung Ke Kantor Aliansi Jurnalistik Onilne Indonesia Kabupaten Natuna.
Patar di sambut baik oleh pengurus serta Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) AJO Indonesia Kabupaten Natuna, Roy Parlin Sianipar.
Kunjungan ke kantor Pers Natuna guna mempererat tali silaturahmi dengan insan pers. “Di berbagai daerah, saya selalu dekat dengan media massa,” sebutnya sambil berdiskusi bersama awak media.
Tempat terpisah Pegiat wisata Natuna, Hendri Lim menyebut harga tiket yang tinggi ini menjadi salah satu kendala bagi kemajuan pembangunan di Natuna di hampir semua sektor.
“Kalau harga tiket bisa murah, saya rasa gerakan pembangunan ini akan terasa lebih ringan dijalankan terutama di sektor pariwisata,” sebutnya belum lama ini.
Sambung Hendri , idealnya harga tiket dari dan ke Natuna dapat disamakan dengan harga tiket rute Batam – Jakarta atau Batam – Medan.
Alasannya karena waktu tempuh penerbangan Batam – Natuna hampir sama dengan waktu tempuh Batam-Jakarta.
“Paling tidak harga tiketnya di bawah Rp1 juta, biar sama kayak Jakarta-Batam. Kalau ini bisa direalisasiakan, saya rasa beban pembangunan jadi agak berkurang,” ungkapnya.
Menurutnya, sektor pariwisata di Natuna sejatinya bisa bergerak dengan cepat karena banyak pihak yang berminat menikmati alam dan keindahan Natuna apalagi Natuna akan di jadikan sebagai Geopark Nasional.
Hanya saja untuk saat ini kebanyakan minat kunjungan ke Natuna itu banyak diurungkan dan dialihkan ke tempat lain karena hitungan ekonomisnya yang terlalu tinggi.
“Banyak orang mau berlibur ke Natuna. Tapi karena lihat harga tiketnya sampai Rp. 1, 4 juta bahkan capai Rp 1,8 juta mereka mengurungkan niatnya. Mereka lebih memilih ke luar negeri ketimbang ke Natuna karena ongkosnya lebih murah,” sebutnya menggambarkan.
Dengan begitu Ia mengusulkan kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan di Natuna agar dapat duduk bersama membahas persoalan ini.
“Baiknya sekarang ada semacam kelompok kecil yang beranggotakan dari pemerintah dan instansi terkait plus pengusaha-pengusaha yang memiliki kemampuan lebih untuk membahas persoalan ini guna mendapatkan solusi,” tutupnya.(*)
Editor : Riky Rinovsky






























