Lemahnya Ekspor dan Investasi, Ternyata Sebab Lesunya Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

1330

WartaKepri.co.id, Karimun – Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik dan termasuk 16 besar ekonomi di dunia. Namun seperti yang kita ketahui bahwa salah satu faktor penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi di Indonesia yaitu melemahnya ekspor dan investasi di Indonesia.

Sejalan dengan menurunnya ekspor di Indonesia, nilai realisasi PMA (Penanaman Modal Asing) juga mengalami perlambatan, yaitu dari US$32,2 miliar pada 2017 menjadi US$30,3 miliar pada 2018, karena berbagai persoalan peraturan dan perizinan di dalam negeri yang kurang kondusif. Salah satu persoalan yang dikeluhkan investor ialah proses perizinan dan pengadaan lahan yang membutuhkan waktu dan biaya tingggi dan ini menjadi salah satu pertimbangan utama bagi calon investor. Oleh karena itu, sangat diperlukannya sebuah fasilitas perdagangan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi baik dalam hal biaya atau perizinan.

Honda Capella

Bea Cukai sebagai instansi yang memiliki tugas pokok sebagai trade facilitato r(Memberi fasilitas perdagangan) dan industrial assistance (Melindungi industri dalam negeri dari persaingan yang tidak sehat dengan industri sejenis dari luar negeri) memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan ekspor dan investasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah DJBC Khusus Kepulauan Riau, Agus Yulianto pada acara Focus Group Discussion (FGD), pada Rabu (20/11/2019) di ball room Hotel Aston Karimun, dihadapan para peserta dan juga Jajaran Forkopimda Kabupaten Karimun.

Agus menuturkan Salah satu bentuk bea cukai dalam mendukung tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia yaitu adanya fasilitas di bidang kepabeanan dan cukai yang diantaranya terdapat Kawasan Berikat dan KITE.

“Fasilitas ini mempunyai tujuanpeningkatan kecepatan waktu pemrosesan barang, kemudahan prosedur pemrosesan barang, dan pengurangan biaya sehingga dianggap fasilitas ini layak untuk dipertahankan bahkan ditingkatkan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan,” pungkasnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan, untuk mendukung perbaikan fasilitas, dibutuhkan adanya perbaikan dari sisi kinerja ekspor dan investasi pada sektor-sektor produktif juga. Apabila hal-hal tersebut di atas dapat dijalankan secara sinergis, ditambah dengan insentif-insentif yang diberikan oleh pemerintah khususnya terhadap industri penerima fasilitas kepabeanan baik KB maupun KITE, dipastikan bahwa kinerja ekspor nasional akan meningkat.

“Yang pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap pengurangan defisit neraca perdagangan,” imbuh Kakanwil yang pernah bertiga di DJBC Aceh ini.

AMA

FANINDO