Dampak BDR kah? Pelajar SMP Dinikahkan Karena Pergi Pacaran Seharian

972

WARTAKEPRI.co.id – Pernikahan sejoli remaja S (15) dan NH (12) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), viral di media sosial. Kedua muda-mudi itu menikah saat masih SMP atau tepatnya Madrasah Tsanawiyah. Diusut lebih jauh, keduanya dinikahkan karena telat pulang dari jalan-jalan.

Kisah sejoli S dan NH berawal dari orang tua NH tidak bisa menerima putrinya pulang terlambat usai seharian pergi dengan S. Pasangan ini tinggal di Desa Pengenjek dan Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.

NH sempat diantar pulang ke rumah. Tapi orang tuanya tidak menerima dengan alasan NH akan kembali juga karena keduanya saling mencintai.

“Saya sempat sarankan agar anak ini dipisah dulu karena masih anak di bawah umur dan orang tua NH tetap ngotot. Setelah empat hari saya datangi Kadus asal NH ini dan kadus di sana juga menyampaikan agar nikah di bawah tangan saja,” kata Ehsan pada wartawan, Rabu (16/9/2020).

Karena tak ada titik temu saat itu, Ehsan selaku kadus sempat menghilang dan tidak mengurus lagi. Namun, kakak dari S tiba-tiba pergi ke rumah keluarga mempelai perempuan dan sepakat untuk menikahkan kedua anak itu. Pernikahan S dan NH dilangsungkan pada Sabtu (12/9) kemarin.

“Saya juga tidak hadir saat pernikahan berlangsung. Padahal saya sudah berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi,” jelasnya.

Penjelasan Kemenag Lombok

Menanggapi itu, Kepala Dusun (Kadus) Montong, Desa Pengenjek, Ehsan membenarkan cerita sejoli ini. Kedua sejoli ini pergi berdua pada siang hari dan pulang sekitar pukul 18.30 WITA.

Kepala Kantor Kementerian Agama Lombok Tengah Jalalus Sayuty menyebut pernikahan pasangan di bawah umur itu tidak bisa dicatat dalam aplikasi SIMKAH (Sistem Informasi Manajemen Nikah).

“Secara aturan untuk bisa dicatat dan masuk SIMKAH minimal usia 19 tahun untuk laki-laki dan perempuan,” ungkapnya saat dihubungi detikcom, Kamis (17/9/2020).

“Dan itu (pernikahannya) tanpa diketahui KUA,” tambahnya.

Jalalus menjelaskan pernikahan sepasang remaja SMP yang berawal karena terlambat pulang ke rumah itu tidak diperbolehkan oleh hukum dan undang-undang. Meski begitu, pihaknya tidak berani mengambil sikap terhadap kasus tersebut.

“Secara aturan perundang undangan, sudah jelas tidak boleh, karena masih di bawah umur usianya. Untuk itu, jika dia mau dicatat di SIMKAH, maka harus dia minta dispensasi ke Pengadilan Agama Loteng,” ujarnya.

Jalalus mengatakan terjadinya pernikahan terhadap anak di bawah umur ini diakibatkan sistem belajar dari rumah.

“Sangat disayangkan di usia sekolah yang seharusnya masih belajar. Ini juga salah satu akibat belajar di rumah (BDR),” cetusnya.(detik.com)

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO DPRD ANAMBAS DPRD KARIMUN