Mundur dari Timnas, Paul Pogba Tidak Terima Agama Islam Dihina oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron

670
Paul Pogba

WARTAKEPRI.co.id, PRANCIS – Gelandang andalan Timnas Prancis, Paul Pogba dikabarkan tak bisa menerima agama Islam dihina oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

Pemain yang membela Manchester United itu disebut telah memutuskan untuk berhenti membela Timnas Prancis.

Seperti dikutip The Sun, Pogba merasa sakit hati dengan ucapan Macron mengenai Islam, terkait pemenggalan guru sejarah di Paris karena mendiskusikan dan memperlihatkan gambar Nabi Muhammad.

Presiden Prancis itu menyebut Islam merupakan sumber segala aksi terorisme yang ada di dunia ini. Macron juga mengatakan peristiwa pemenanggalan tersebut sebagai penyerangan terorisme Islam.

“Persatuan dan ketegasan adalah jawaban atas aksi kejam terorisme Islam,” tutur Macron kala itu.

Pidato Syeikh al-Tayeb di Hadapan Pemuka Agama Kristen, Yahudi dan Buddha

Aksi pemenggalan kepala seorang guru di Paris menghidupkan kembali diskursus tentang Islam yang berpatutan dengan nilai-nilai Perancis, setelah ramai dikecam komunitas muslim, termasuk oleh al-Azhar.

“Sebagai seorang muslim dan Syeikh al-Azhar, saya mendeklarasikan bahwa Islam, ajaran dan Rosulnya tidak bersalah atas kejahatan keji teroris,” kata Syeikh al-Tayeb merujuk pada peristiwa pemenggalan Samuel Paty pada Jumat (16/10/2020).

Pernyataan kecaman itu dibacakan Syeikh al-Tayeb saat berpidato di hadapan pemuka agama Kristen, Yahudi dan Buddha, termasuk Paus Fransiskus dan Rabi Agung Perancis, Haim Korsia. Melansir Deutsche Welle pada Rabu (21/10/2020) mereka bertatap muka secara virtual di Bukit Capitolino, Roma, Italia, untuk sebuah deklarasi damai. Syeikh al-Tayeb juga mewanti-wanti terhadap ujaran yang merendahkan keyakinan orang lain.

“Pada saat yang sama saya menekankan bahwa penghinaan agama dan serangan terhadap simbol-simbol sucinya di bawah bendera kebebasan berekspresi adalah standar ganda intelektual dan sebuah undangan terbuka terhadap kebencian,” tegas Syeikh al-Azhar itu.

Samuel Paty yang berusia 47 tahun dibunuh oleh seorang pemuda 18 tahun asal Chechnya. Saat itu korban dalam perjalanan pulang usai mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Conflans-Sainte-Honorine, tidak jauh dari ibu kota Paris. Paty dianggap melecehkan Islam saat menunjukkan gambar katun Nabi Muhammad milik Charlie Hebdo kepada murid-muridnya.

Tidak suka dengan tindakan itu, Abdullakh Anzorov, membunuhnya dengan memenggal kepalanya, lalu mengunggah foto jenazah korban di Twitter, sebelum kemudian ia sendiri tewas dalam baku tembak dengan polisi. Menteri Dalam Negeri Perancis, Gerald Darmanin, mengumumkan telah menangkap 16 orang, termasuk seorang ustad radikal dan 4 anggota keluarga Anzorov. Menurut Darmanin, sang ustad dan ayah Abdullakh sebelumnya sudah menerbitkan fatwa mati terhadap korban.

“Para teroris ini tidak mewakili agama yang dibawa Nabi Muhammad, serupa dengan teroris di Selandia Baru yang membunuh muslim di dalam masjid yang tidak mewakili agama Yesus,” kata Syeikh al-Tayeb.

September silam Al-Azhar sendiri mengecam keputusan redaksi Charlie Hebdo dalam edisi khususnya menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad. Edisi khusus itu diluncurkan pada pembukaan sidang serangan teror terhadap kantornya di Paris pada 2015 silam.(kompas)

Komentar Anda

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO Combo Sakti Telkomsel