Joe Biden Emosi Terkait Kekerasan Militer di Myanmar, Jenderal Min Aung Gelar Acara Makan Malam Mewah

Myanmar Bloomberg
PKP Online

WARTAKEPRI.co.id, MYANMAR – Presiden Amerika Serikat Joe Biden kemarin mengomentari pertumpahan darah yang terjadi dalam unjuk rasa menentang kudeta militer di Myanmar. Aparat keamanan Myanmar sedikitnya sudah membunuh 100 orang, termasuk tujuh anak pada Sabtu lalu.

“Itu parah sekali. Sangat biadab dan dari laporan yang saya terima, orang-orang seharusnya tidak perlu sampai dibunuh,” kata Biden dalam jumpa pers di kampung halamannya di Delaware, seperti dilansir laman NDTV, Minggu (28/3/2021).

Pembunuhan ratusan demonstran dan anak-anak itu terjadi bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata di Myanmar.

Uni Eropa menyebut pertumpahan darah itu “sangat tidak pantas”.

“Jauh dari upacara perayaan, militer Myanmar kemarin justru membuat hari itu menjadi hari penuh horor dan memalukan,” kata Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrel dalam pernyataan.

Kecaman ini disampaikan setelah 12 menteri pertahanan, termasuk dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan Australia mengutuk tindakan militer Myanmar.

“Militer profesional harusnya mengikuti standar internasional dan bertanggung jawab untuk melindungi–bukan menyakiti–rakyat,” kata pernyataan bersama para menhan.

“Kami mendesak Angkatan Bersenjata Myanmar untuk menghentikan kekerasan dan berupaya mengembalikan kehormatan dan kepercayaan rakyat Myanmar yang sudah menderita karena tindakan mereka.”

Menurut kelompok pemantau lokal, korban tewas sejak unjuk rasa menentang kudeta militer pada 1 Februari sudah mencapai 423 orang.

Media Lansir Jenderal Min Aung Hlaing Gelar Acara Makan Malam Mewah

Pemimpin junta militer Myanmar Jenderal Min Aung Hlaing menggelar acara makan malam mewah Sabtu lalu bertepatan dengan Hari Angkatan Bersenjata di saat pasukannya dilaporkan menembak mati lebih dari 100 orang demonstran. Di hari yang sama juga ribuan warga di pedesaan di perbatasan Thailand harus mengungsi karena serangan udara jet-jet tempur militer Myanmar.

Dilansir dari laman CNN, Senin (29/3/2021), sejumlah foto beredar di media sosial memperlihatkan sang pemimpin junta militer itu mengenakan pakaian putih dengan dasi dan jaket penuh lencana berjalan di karpet merah sambil memberi salam kepada hadirin yang datang kemudian duduk untuk menyantap makanan di Hari Angkatan Bersenjata.

Peringatan Hari Angkatan Bersenjata ini menandai perlawanan militer terhadap pendudukan Jepang di masa Perang Dunia Kedua dan junta juga menggelar parade militer di hari itu. Sabtu kemarin juga adalah hari Tabaung, akhir dari perhitungan kalender bulan di Myanmar dan menjadi hari penting bagi Buddhisme yang biasa dirayakan dengan festival dan kunjungan ke pagoda.

Namun di Myanmar, hari itu menjadi hari paling berdarah sejak kudeta militer 1 Februari. Sedikitnya 114 orang tewas diterjang peluru militer, termasuk anak-anak, di 44 kota di seantero negeri, kata media independen Myanmar Now.

Dalam pidatonya di parade militer Sabtu kemarin, Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan militer akan melindungi rakyat dan menjunjung demokrasi.

Di saat warga berduka atas jatuhnya korban kemarin, kekerasan masih berlanjut. Reuters melaporkan aparat keamanan menembaki kerumunan orang di pemakaman mahasiswa 20 tahun bernama Thae Maung Maung di Bago dekat Ibu Kota Yangon. Insiden itu membuat kerumunan warga kocar-kacir menyelamatkan diri.(*)

Sumber : Merdeka.com
Editor : Dedy Suwadha

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel