Bersama Zuriat Raja, Ustadz Abdul Somad Ziarah ke Pulau Penyengat

579
Ustadz Abdul Somad di Pulau Penyengat Tanjungpinang
Ustadz Abdul Somad di Pulau Penyengat Tanjungpinang

WARTAKEPRI.co.id, TANJUNGPINANG – Ustadz Abdul Somad (UAS), Jumat (28/5/2021), mengajak istri Ustadzah Fatimah Az Zahrah, ziarah ke makam Raja-Raja yang ada di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Ditemani Raja Malik, zuriat dari Raja-raja di Pulau Penyengat, pertama-tama UAS dibawa ziarah ke makam Raja Haji Fisabillah yang berada di atas bukit.

Selanjutnya ziarah ke makam Habib Syekh bin Habib Alwi Asseggaf, yang pernah menjadi mufti kerajaan Melayu Riau Lingga, yang berada di komplek makam Raja Haji.

BACA JUGA Ustaz Abdul Somad Resmi Nikahi Fatimah Az Zahra, Berawal Dijodohkan Kiai Pesantren

Selanjutnya, menaiki becak motor, UAS beserta istri ziarah ke komplek makam Raja Ali Haji, pengarang Gurindam Duabelas yang mahsyur itu.

Di dalam komplek makam itu, selain makam Raja-raja Kerajaan Riau Lingga, ada juga makam Engku Putri Raja Hamidah. Beliau istri dari Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dan pernah pemegang Regalia Kerajaan Riau Lingga.

Sebelum kembali ke Batam, barsama sejarawan Melayu, Aswandi Syahri, UAS juga menyempatkan singgah ke Pusat Maklumat Budaya Melayu yang berisikan naskah-naskah lama yang pernah di tulis semasa Kerajaan Riau Lingga berkuasa.

Sejarah Pulau Penyengat

Masjid Raya Sultan Riau ini dibangun pada 1803 dengan menggunakan bahan kayu. Masjid ini merupakan bagian dari kelengkapan yang dihadirkan Sultan Mahmud Riayat Syah 3 ketika menghadiahkan pulau Penyengat ini untuk istrinya Raja Hamidah.

Masjid ini kemudian diubah menjadi bahan beton pada 1832 pada masa masjid beton masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda ke-7 Raja Abdul Rahman. Ketika itu, ia ingin membuat masjid megah sehingga diajaklah masyarakat penyengat bergotong-royong membangun masjid ini.

“Sering kita dengar masjid ini terbuat dari putih telur. Konon ceritanya, saking banyaknya telur yang dibagikan masyarakat dalam pembangunan masjid ini, oleh pekerja India yang datang dari Singapura disarankan putih telur sebagai bahan bangunan untuk merekatkan pasir, karena di tempat mereka putih telur digunakan untuk itu,” kata Nurlatifa.

Sampai saat ini, ada empat buah peninggalan yang bersejarah yang berada di masjid hingga saat ini. Diantaranya adalah satu buah mimbar yang dipesan oleh Raja Abdul Rahman.

Peninggalan kedua lampu utama masjid yang dikenal dengan lampu Kraun yang merupakan hadiah dari kerajaan Prusia. “Saat itu ada misonaris protestan yang tinggal di wilayah ini, merasa terkesan dengan perlakuan baik dan toleran dari pihak kerajaan, dia senang dan saat kembali ke Prusia dia menceritakan kepada raja Prusia, dia diperintahkan untuk memberikan hadiah lampu Kraun ini,” kata Nurlatifa lagi.

Peninggalan lainnya adalah Al-quran tulisan tangan yang buat oleh seorang putra asli Penyengat sendiri. Putra penyengat yang diketahui bernama Abdul Rahman ini menyelesaikan penulisan Al-quran ini pada tahun 1867. Gaya tulisannya dikenal dengan gaya penulisan turki, sehingga ia dijuluki Abdul Rahman Istanbul.

Di masjid ini juga ada dua buah lemari milik Yang Dipertuan Muda ke-10 Raja Muhammad Ahmadi. Saat itu ia mengirimkan beberapa guru ke Timur Tengah untuk mencari kitab pengetahuan. Kitab-kitab tersebut kemudian disimpan di dua buah lemari ini. Pada bagian pintu lemari berwarna hitam ini terdapat potongan ayat Al-quran, tepatnya surat Alkahfi ayat 46. Ayat ini memiliki arti jika anak-anak dan harta adalah perhiasan dunia.

Terakhir, di Masjid ini ada tanah yang diambil dari Mekah yang sampai saat ini menjadi kearifan lokal masyarakat Penyengat.

“Saat ada anak baru lahir, kakinya akan diinjakan ke tanah ini dengan harapan kelak mereka juga bisa sampai ke Mekah,” kata Nurlatifa lagi.

Situs masjid ini, kata Nurlatifa lagi, biasanya ramai dikunjungi oleh masyarakat pada akhir pekan. Tidak hanya mereka yang berasal dari Kepri dan daerah lain di Indonesia saja, tetapi juga didatangi oleh masyarakat dari negara tetangga Malaysia, Singapura, dan negara-negara lainnya.(*)

Editor : Dedy Suwadha

DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel