KRI Bima Suci Peran Diplomasi Indonesia Poros Maritim Dunia

430
KRI Bima Suci
Foto 1 : KRI Bima Suci, bersandar di Pelabuhan Pas Labuh Selat Lampa-Kabupaten Natuna

WARTAKEPRI.co.id, NATUNA – Selasa pagi (28/9/2021) air Laut Natuna Utara bak cermin kaca menyambut kehadiran Para Taruna Taruni Kapal Perang Republik Indonesia (KRI ) Bima Suci bersama Satgas Operasi Kartika Jala Krida (KJK) 2021.

Bima Suci mengarungi laut Indonesia membawa misi diplomasi membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, sekaligus meningkatkan persahabatan dengan negara-negara lain di Dunia.

Sebelumnya, KRI Bima Suci telah berlayar ke perbatasan di Kecamatan Pulau Laut, Pulau strategis Indonesia. Selama sehari di sana, KRI turut menyalurkan sembako kepada Warga dan penjaga perbatasan Satgaspam Pulau Terdepan Posal Pulau Laut.

Menuju dermaga Pas labuh, Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Pulau Strategis Indonesia itu tampak Kedatangan KRI Bima Suci dikawal KRI Diponegoro-365 menjadi salah satu kapal TNI Angkatan Laut yang ditugaskan menjaga perbatasan Indonesia di kawasan Laut Natuna. Kapal perang Diponegoro ini jenis korvet.

Bahkan nelayan Maritim pesisir pantai Pulau Tiga pun turut menyambut kedatangan KRI Bima suci menggunakan pompong (perahu) mereka membentuk formasi Parade mengelilingi KRI Bima Suci.

Dari dermaga Pas labuh Kapal Bima Suci yang dibuat di Spanyol pada tahun 2017 lalu itu dengan panjang 111 Meter tampak para Patrot kebanggaan Indonesia itu disambut Komandan Lanal Ranai, Kolonel (P) Dofir dan Bupati Natuna Wan Siswandi beserta Forkopimda Natuna pada Selasa (28/09/2021).

Seketika antusias warga terpancar menyambut kehadiran kapal latih kebanggaan Indonesia. Dengan Atraksi di peragakan para Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Tingkat III Angkatan ke-68 menaiki tangga tiang layar saat latihan parade roll di atas KRI Bima Suci sembari membentuk formasi peran Parade.

Mereka berdiri dengan sikap sempurna, dan melakukan atraksi Genderang Suling (GS) Gita Jala Taruna dan salam hormat kepada Laut Natuna Utara. Aksi sontak mendapat sambutan meriah dari seluruh yang hadir menyambut Bima Suci.

Sebagai tanda penyambutan jajaran dari KRI Bima Suci menyaksikan tari persembahan Adat berupa tanda selamat datang Negeri Laut sakti Rantau bertuah disertai pengalungan bunga dan Tajak Topi Khas Melayu.

Foto 2 : Komandan Lanal Ranai bersama Komandan KRI Bima Suci di Pas Labuh Selat Lampa

Komandan Lanal Ranai Kolonel (P) Dofir telah mempersiapkan rangkaian acara turut mempromosikan Taruna Taruni KRI Bima Suci kepada anak anak sekolah di Ranai.

Kata Dofir, KRI Bima Suci juga membawa misi diplomasi yang mendukung kebijakan pemerintah membangun Indonesia sebagai poros maritim dunia, meningkatkan persahabatan dengan negara-negara lain di Dunia.

“Saya harap ke depan putra-putri Natuna ini tertarik bisa bergabung dengan TNI AL untuk memajukan Lanal Ranai dan menjaga wilayah Natuna,” kata Kolonel Dofir.

Ke depan, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi tentang berbagai persyaratan bagi para generasi muda dapat bergabung bersama TNI Angkatan Laut.

Senada disampaikan Komandan Satgas Operasi KJK 2021, Letkol Laut (P) Waluyo mengatakan tugas pokok KRI Bima Suci memberikan pelatihan praktek Kartika Jala Krida menjadi kurikulum dari lembaga TNI Angkatan Laut.

“Taruna Taruni melaksanakan praktek lapangan sesuai dengan Korp masing masing, Ada 89 taruna TNI AL yang ikut dalam pelayaran, mereka putra putri perwakilan seluruh Indonesia yang siap menjaga perairan Indonesia Poros Maritim,” ucap Letkol Waluyo kepada media ini dari atas geladak kapal.

Waluyo mengatakan, KRI Bima Suci mulai berlayar dari pelabuhan Surabaya dengan tujuan 13 lokasi pelabuhan dan pulau tertular yaitu, Surabaya, Labuan Bajau, Tual, Papua Nugini, Jayapura, Morotai, Sei Pancang, Tarakan, Natuna, Sabang, Nias, Cilacap dan pelabuhan Bali.

“Setelah di Ranai kita akan melanjutkan ke etape selanjutnya, sesuai rencana akan ke Sabang,” sebutnya.

Pelayaran tahun 2021 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, situasi pademi Covid-19 membatasi kegiatan, dimana yang dulunya para taruna dibawa berlayar sampai luar negeri. Sekarang cukup berlayar di perairan Nusantara Indonesia.

“Karena pertimbangan pandemi masih tinggi, rencana pelayaran KRI Bima Suci mengikuti festival di Rusia tahun ini dibatalkan. Pimpinan TNI AL memutuskan berlayar cukup dalam negeri,” terangnya.

Kewaspadaan pencegahan penularan pandemi Covid-19 tetap diterapkan selama berlayar, tempat rekreasi para taruna diubah menjadi ruangan isolasi ditambah satu ruangan khusus untuk laboratorium PCR portable.

Foto 3 : Apel Sambutan KRI Bima Suci, saat bersandar di Pelabuhan Pas Labuh Selat LampaKabupaten Natuna

“Kita harus siap menghadapi situasi berbahaya di luar dari persoalan teknis pelayaran apapun bentuknya, termasuk menghadapi Covid-19,” beber Letkol Waluyo.

Sementara itu, Perwira Pelaksana Pelatihan (Palaklat) Kartika Jaya Krida, Letkol Laut (P) Pungky Kurniawan, mengatakan pelayaran KRI Bima Suci dimulai Senin 26 Juli 2021 sampai dengan 02 November 2021.

“Selama berlayar 99 hari, taruna AAL angkatan ke 68 bekali ilmu pengetahuan pelayaran astronomi,” sebutnya.

Pelajaran astronomi di era teknologi tetap diperlukan sebagai pengetahuan dasar, sebab ketika teknologi peralatan navigasi mengalami kerusakan, maka ilmu astronomi dapat digunakan dalam menentukan posisi dan mengambil tindakan.

Benda-benda angkasa adalah petunjuk sebuah pelayaran, lewat benda inilah, biasanya pelaut menentukan tindakan apa yang harus diambil, cara tradisional seperti ini tetap diperlukan melengkapi pengetahuan diluar teknologi digital.

“Mesti KRI Bima Suci tidak berlayar keluar negeri, tapi kapal kita berlayar di sisi luar sambil pemanfaatan ilmu astronomi membawa benda benda angkasa,” terangnya.

Foto 4 : Moh Abdi Suhufan Dari Destructive Fishing Watch (DFW) Koordinator Nasional
DFW Indonesia dan data dari peneliti DFW Indonesia

Makna Maritim

Dari berbagai sumber informasi serta diperkuat Moh Abdi Suhufan Dari Destructive Fishing Watch (DFW) Koordinator Nasional DFW Indonesia dan data dari peneliti DFW Indonesia, Arifuddin menerangkan bahwa, Negara maritim adalah julukan untuk negara yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan. Kita sejatinya sering mendengar bahwa Negara Indonesia adalah negara maritim. Tapi apakah kita benar-benar sudah memahami apa itu negara maritim beserta seluk beluknya? Berikut penjelasannya disalin penulis diolah dari berbagai informasi yang mudah di akses dari publik.

Pengertian Negara Maritim

Peneliti DFW Indonesia, Arifuddin mengatakan, Secara sederhana, negara maritim diartikan sebagai negara yang dikelilingi laut atau perairan yang luas. Negara maritim adalah suatu negara yang memiliki area laut yang lebih luas dari pada daratan sebagai bagian dari wilayahnya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa negara ini terbentuk dari beberapa pulau yang jumlahnya tidak sedikit, atau disebut juga negara kepulauan.

Suatu negara dikatakan sebagai negara maritim apabila memiliki garis pantai yang panjang. Berdasarkan pengertian tersebut, terdapat beberapa negara maritim di dunia.

Contoh Negara maritim antara lain adalah Kanada, Indonesia, Papua Nugini, Jepang, Selandia Baru, dan masih banyak lagi. Negara-negara tersebut memiliki garis pantai yang panjang serta wilayah perairan yang lebih luas daripada daratan.

“Dilihat dari panjang garis pantainya, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Kanada. Memiliki garis pantai mencapai 202.800 kilometer, Kanada tercatat sebagai pemilik garis pantai terpanjang di dunia. Kemudian, Indonesia berada di peringkat kedua dengan garis pantai sepanjang 108.000 kilometer, ” ujar Dia.

Lebih jauh disampaikan, Sedangkan dilihat dari luas wilayahnya, Indonesia memiliki perbandingan luas wilayah perairan dan daratan mencapai 71 persen banding 29 persen. Dari total luas wilayah Indonesia, mencakup 5.193.250 km2, dan 71 persennya yaitu 3.273.810 km2 berupa perairan.

“Hal itulah yang membuat Indonesia layak disebut sebagai negara maritim. Terlebih lagi, kemaritiman Indonesia didukung oleh jumlah pulau yang masuk dalam wilayahnya mencapai 17.504 pulau, membuat Indonesia termasuk dalam 15 besar negara maritim di dunia,” papar
Arifuddin.

Ciri Ciri Negara Maritim

Seperti yang telah dijelaskan di atas, negara maritim berkaitan dengan perbandingan luas wilayah perairan dan daratan di suatu negara. Negara maritim mudah dikenali melalui berbagai ciri-ciri seperti berikut ini.

1. Kawasan Laut yang Luat

Suatu negara termasuk dalam golongan negara maritim apabila memiliki kawasan laut yang luas. Secara umum, negara maritim memiliki perbandingan luas wilayah berupa laut dan perairan hingga 2:3 lebih besar daripada daratan.

2. Memiliki Banyak Pulau

Pada umumnya, negara maritim terdiri dari banyak pulau sehingga disebut juga sebagai negara kepulauan. Pulau-pulau tersebut mendukung panjangnya garis pantai, serta perbandingan luas wilayah daratan dan perairan suatu negara.

3. Dikelilingi oleh Laut dan Perairan

Berdasarkan ciri pertama dan kedua, secara otomatis dapat dikatakan bahwa negara maritim memiliki pulau yang dikelilingi oleh laut dan perairan. Batas negara berupa laut dan perairan juga akan menambah luasnya wilayah laut pada suatu negara, sehingga layak disebut negara maritim.

4. Mata Pencaharian Penduduk Berhubungan dengan Laut

Panjangnya garis pantai dan luasnya wilayah laut berpengaruh pada mata pencaharian masyarakat. Sebagai negara yang memiliki laut yang lebih luas, tentu sebagian besar masyarakat negara maritim banyak bekerja di aspek kelautan, seperti nelayan, pelaut, dan lain sebagainya.

5. Sumber Daya Laut yang Besar

Wilayah berupa laut dan perairan memiliki sumber daya yang sangat kaya dan beragam. Hal ini menjadi ciri khas negara maritim sebagai negara yang memiliki wilayah laut yang luas. Negara maritim kaya akan sumber daya laut berupa alam, energy, mineral, dan berbagai sumber daya lain.

Kemaritiman Indonesia

Masih Kata Arifuddin, Dilihat dari penampakan geografisnya, Indonesia memiliki luas lautan dua pertiga lebih besar daripada daratan. Bentang alamnya yang berupa kepulauan juga berpengaruh pada kondisi kemaritiman, sehingga menduduki peringkat kedua negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.

Kemaritiman Indonesia juga didukung dengan kepastian batas wilayah kedaulatan negara berupa perairan yang berbatasan dengan 10 negara. Negara-negara tersebut meliputi Malaysia (sebagian Laut Wilayah, Landas Kontinen), Singapura (sebagian Laut Wilayah), dan Thailand (Landas Kontinen).

Kemudian termasuk juga Filipina (ZEE), Vietnam (Landas Kontinen), India (Landas Kontinen), Timor Leste (Laut Wilayah, Landas Kontinen), Papua Nugini ( ZEE, Landas Kontinen), Palau (ZEE, Landas Kontinen), serta Australia (ZEE, Landas Kontinen).

Letak Indonesia berada di titik silang, yaitu antara Benua Asia dan Benua Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Ini membuat Indonesia disebut memiliki posisi strategis dalam aspek ekonomi dan militer.

Secara hukum, Indonesia ditetapkan sebagai negara kepulauan sekaligus maritim terdapat pada United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) pasal 46-47 ayat 1. Sehingga secara kondisi geografis, politik, ekonomi dan sejarah dunia, Indonesia telah memenuhi syarat menjadi negara maritim.

Pendukung Negara Maritim

Konsep negara maritim yang mengacu pada pemanfaatan sumber daya alam kelautan secara maksimal untuk mencapai kemakmuran negara dan kepentingan rakyat didukung dengan pilar penyangga. Ada empat pilar penyangga Negara maritim, yaitu perdagangan, pelayaran, industri, dan kekuatan maritim.

Di Indonesia, pilar penyangga kemaritiman negara berkaitan erat dengan sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan. Keterkaitan akan hal-hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

Sistem Politik

Banyaknya jumlah pulau di Indonesia membutuhkan hal yang dapat menjamin keutuhan pulau-pulau tersebut sebagai satu kesatuan negara. Sistem politik yang bertugas menjamin hal ini berpengaruh hingga daerah perbatasan, pedalaman terluar dan terpencil di Indonesia.

Sistem Ekonomi

Sistem ekonomi sangat berpengaruh pada peningkatan penghasilan negara maritim dari sektor perdagangan melalui laut baik berupa impor maupun ekspor. Hal ini memicu berkembangnya usaha industri dan jasa maritim.

Sistem Sosial dan Budaya

Negara maritim yang terdiri dari banyak pulau membuat adanya keragaman budaya masyarakatnya. Hal ini disatukan dengan sistem sosial budaya yang menjunjung harkat dan martabat manusia, kemajemukan etnik, budaya dan agama, sehingga memicu kecintaan masyarakat terhadap laut sebagai pemisah pulau.

Sistem Pertahanan dan Keamanan

Negara maritim didukung dengan adanya pilar pertahanan dan keamanan agar kedaulatan negara meliputi wilayah laut kedaulatan dan laut yurisdiksi nasional tetap terjaga sesuai hukum yang berlaku. Di Indonesia, sistem ini berlaku di wilayah, darat, laut, dan udara, dari Sabang sampai Merauke.

Visi Misi Negara Maritim

Arti negara maritim nampaknya kurang bermakna jika tidak didukung dengan suatu tindak lanjut dari negara untuk menunjukkan potensi kemaritimannya. Tindak lanjut suatu negara dalam menyikapi bentang alamnya dicerminkan melalui visi misi yang sesuai.

Visi kemaritiman Indonesia dirumuskan secara gamblang dengan menyatakan, “Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan ciri negara maritim”. Dalam visi tersebut dinyatakan pula bahwa kemaritiman Indonesia ditopang oleh beberapa hal.

Hal-hal yang menopang visi Indonesia sebagai negara maritim adalah kekuatan politik, ekonomi, Info sosial dan budaya, serta pertahanan dan keamanan rakyat. Di sini negara berkuasa penuh atas laut dan semua yang ada di dalamnya.

Destructive Fishing Watch (DFW) Koordinator Nasional DFW Indonesia Moh Abdi Sufan menilai, Untuk mencapai visi tersebut, negara harus melakukan misi yang mengarah pada ketercapaian visi. Misi maritim Indonesia dilakukan dengan membangun kekuatan maritim secara nyata. Kekuatan maritim yang dimaksud berkaitan dengan aspek-aspek yang disebutkan dalam visinya.

Foto 5 Kapal Tangkapan TNI AL di Pelabuhan Sabang Mawang Kecamatan Pulau Tiga,
(05/10/2021)

Ilegal Fishing

Memasuki tahun 2021, praktik penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur atau IUU fishing masih menjadi ancaman kelestarian sumberdaya laut Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari keberadaan kapal ikan asing yang melakukan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal di wilayah perairan Indonesia.

Instansi dan aparat penegak hukum yang berwenang dalam penanganan tindak pidana perikanan mesti memperkuat koordinasi, meningkatkan intensitas pengawasan, mendorong penegakan hukum bagi pelaku kejahatan tindak pidana perikanan dan membenahi tata kelola perikanan.

Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan mengatakan, pihaknya mencatat bahwa sepanjang bulan Januari 2021, aparat berwenang berhasil menangkap 9 kapal ikan yang melakukan kegiatan IUU fishing di wilayah laut Indonesia.

“Sepanjang Januari 2021, kapal pengawas milik Bakamla RI, PSDKP-KKP dan TNI AL berhasil menangkap 9 kapal yang terdiri dari 8 kapal ikan asing dan 1 kapal ikan dalam negeri yang melakukan penangkapan ilegal,” kata Abdi kepada Wartakepri.co.id belum lama ini.

Dari 9 kapal tersebut sambung Abdi, mayoritas tertangkap di Selat Malaka ketika melakukan pencurian ikan.

“Kapal ikan asing yang tertangkap terdiri 7 kapal berbendera Malaysia dan 1 kapal berbendera Taiwan tertangkap di Laut Natuna. Sementara itu, 1 kapal berbendera Indonesia yang tertangkap karena menggunakan alat tangkap jenis trawl,” kata Abdi.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa dari penangkapan tersebut, tercatat sekitar 40 orang awak kapal perikanan berhasil diamankan dan barang bukti ikan hasil kejahatan mencapai 23 ton.

“Ironisnya, 17 orang awak kapal perikanan yang tertangkap tersebut adalah warga negara Indonesia yang bekerja di kapal ikan Malaysia dan Taiwan,” pungkas Abdi. (*)

Laporan Riky Rinovsky

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!
PKP HIMALAYA DEWAN PERS WARTAKEPRI FANINDO PEMKO BATAM Combo Sakti Telkomsel