Home Opini Mohamad Sinal: Di Ujung Tangga

Mohamad Sinal: Di Ujung Tangga

Mohamad Sinal
Mohamad Sinal

WARTAKEPRI.CO.ID – Di ujung tangga memasuki ruang tunggu “Batik Air” di Halim Perdana Kusuma, disambut cover buku karya Yuval Noah Harari: “Nexus”. Konteks visual dan simbolik yang memberi kesan sangat menarik. Seolah-olah hendak menjelaskan kaitan antara simbol “Nexus” dan bandara sebagai tempat transit atau koneksi antara berbagai ide dan individu.

Setelah berbincang sejenak, dengan kedua sahabat saya yang duduk bersebelahan di dalam pesawat, Mas Erick Ricardo (Direktur Lippo Sidoarjo) dan Mas Arief W. (mantan Ketua DPRD Kota Malang), timbul pertanyaan di benak saya: apakah kita masih mengendalikan informasi, ataukah justru menjadi bagian algoritma yang lebih besar?

Seperti burung merpati yang menjadi simbol di sampul tersebut, manusia sejatinya adalah pembawa pesan. Terbang di antara ruang dan waktu. Kemudian, membawa kisah-kisah yang akan membentuk masa depan.

Namun, ada ironi untuk direnungkan. Infomasi atau jaringan yang sejatinya menyatukan kita, kini perlahan menciptakan dinding-dinding baru. Meskipun telah terhubung secara digital, banyak orang mengalami keterasingan dalam kehidupan nyata karena. Hal ini disebabkan lebih banyak berinteraksi secara virtual daripada langsung.

Algoritma memfilter informasi yang kita lihat atau baca. Ia menciptakan gelembung-gelembung di mana kita hanya mendengar gema dari pikiran kita sendiri. Akibatnya, kita cenderung hanya melihat berita, opini, atau perspektif yang sejalan dengan apa yang sudah kita percayai.

Laksana pohon yang tumbuh terlalu cepat. Kita merasakan cabang-cabang informasi yang saling bertabrakan. Seolah membentuk hutan yang lebat, namun membingungkan.

Di era digital, jaringan ini berevolusi menjadi lebih luas. Bahkan lebih cepat dan mendalam. Televisi mengubah cara kita memandang dunia. Telepon menghapus batas jarak.

Kemudian, internet datang mengubah dunia menjadi satu ruang virtual yang tak terbatas. Dengan demikian, setiap manusia kini adalah simpul dalam jaringan global. Setiap unggahan di media sosial adalah gelombang kecil yang dapat mengguncang dunia.

Di era biner, kita memasuki era di mana jaringan informasi bukan lagi milik manusia semata. Mesin mulai membaca, memahami, bahkan menciptakan narasi. Dari algoritma pencarian google hingga AI, mampu menciptakan karya fiksi dan non-fiksi. Bergerak dengan kecepatan cahaya, tanpa membutuhkan manusia sebagai penghubung utama.

Harari, melalu “Nexus” mungkin ingin menunjukkan: apakah ini jalan menuju pencerahan ataukah hanya menciptakan labirin yang tak memiliki jalan keluar? Implikasi bagi kehidupan kita, seandainya “Nexus” benar-benar membahas sejarah jaringan infomasi, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik di antaranya sebagai berikut.

Informasi adalah kekuatan, tetapi juga alat kontrol. Dalam sejarah peradaban manusia, informasi memiliki kendali atas dunia. Di era modern, hal tersebut berarti bahwa kita harus lebih sadar akan siapa yang mengendalikan data kita.

Jaringan bisa menghubungkan, tetapi juga memisahkan. Internet menjanjikan keterbukaan, tetapi juga menciptakan polarisasi. Kita hidup dalam dunia yang terhubung lebih erat dari sebelumnya. Namun, paradoksnya adalah kita justru semakin terkotak-kotak dalam opini dan bias pikiran kita masing-masing.

Peran AI sebagai penjaga atau perusak informasi. Kecerdasan buatan bukan sekadar alat, tetapi entitas yang mampu memahami dan memanipulasi narasi. Bagaimana cara kita menghadapinya, akan menentukan masa depan kita sebagai mahluk yang mengandalkan informasi.

Kita berada di persimpangan sejarah atau peradaban. Dari goresan batu hingga kode biner, kita telah menempuh perjalanan panjang. Pertanyaannya adalah ke mana kita akan pergi selanjutnya? Akankah kita akan membiarkan informasi mengendalikan kita, ataukah kita yang akan tetap menjadi tuannya?

Di ujung jalan, kita dihadapkan pada pertanyaan paling fundamental: apakah kita masih bisa terbang di antara ruang dan waktu ataukah kita hanya diam dan terus menunggu. Pertanyaan tersebut mencerminkan dilema eksistensial antara bertindak dan menunggu. Menggambarkan ketidakberdayaan atau ketakutan untuk melangkah maju.

Dalam konteks sosial, pertanyaan tersebut juga mencerminkan bagaimana individu atau masyarakat menghadapi perubahan zaman. Di mana adaptasi dan inovasi menentukan apakah seseorang akan berkembang atau tertinggal. Refleksi ini mengajak kita untuk merenung: apakah akan terus bergerak dan berkembang, ataukah hanya pasrah dan membiarkan waktu menentukan segalanya?

Penulis adalah Corporate Legal Consultant, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema. 

 

Google News WartaKepri

WhasApp

Banner DPRD Batam 2026
error: Content is protected !!