Spekulasi Sejarah Tentang Agama Minakhaba dan Minangkabau

Spekulasi Sejarah Tentang Agama Minakhaba dan Minangkabau
Dr Emeraldy Chatra

HARRIS BARELANG

Diperkiraan, 95 persen sejarah Minangkabau berasal dari analisis kirologi. Analisis kira-kira alias spekulatif. Tidak ada bukti kongkrit yang menjelaskan sejarah itu, baik berupa artifak maupun tulisan. Kemudian, yang dianggap sejarah tak lain hanyalah hasil imajinasi orang-orang yang kebetulan punya daya khayal tinggi.

Oleh sebab itu, tak ada salahnya kalau saya pun ikut-ikutan membuat analisis kirologi. Hemat saya, Minangkabau itu awalnya nama agama lokal, yaitu Minakhaba. Sama dengan Arat Sabulungan di Mentawai atau Pelbegu di Batak.

BACA JUGA Kekaisaran Minangcabo 1560-1680 Masehi, “Peradaban yang Hilang”

Berdasarkan analisis kirologi, agama Minakhaba mulanya dikembangkan oleh seorang pengembara dari Kerala, sebuah kota di Kerajaan Pandya (India), bernama Chetteri Vilanj satu setengah abad sebelum Masehi. Pengembara dari kasta Chetteri (setingkat ksatria) ini meninggalkan kampung halamannya untuk menyebarkan ajaran Minakhaba.

Kerajaan Pandya sudah ada sejak beberapa abad sebelum Masehi, ibukotanya bernama Korkai. Pandya merupakan kerajaan besar yang maju dan telah menjalin hubungan dagang dengan Romawi, Arab, Mesir dan Parsi.

Chetteri Vilanj dari Pandya yang kemudian dikenal sebagai Ceteri Bilang Pandai lahir dari etnis Kurichia dan Bnei Menaseh. Bnei Menaseh adalah keturunan Menaseh yang dikecilkan oleh pengikut Ezra dan Nehemiah di Palestina. Karena terdesak pengikut Menaseh meninggalkan Palestina dan menetap di Pandya.

Setelah beberapa tahun berada di Koto Batu, Ceteri Bilang kawin dengan Indojulito yang sudah melahirkan Datuak Mangguang dari suaminya terdahulu, Maharajodirajo, raja kerajaan Koto Batu. Maharajodirajo adalah seorang penganut agama Budha.

Perkawinan Ceteri Bilang dengan Indojulito melahirkan si Jatang yang setelah dewasa bergelar Datuak Parpatiah Sabatang. Datuak Mangguang kemudian diangkat sebagai raja Koto Batu menggantikan ayahnya, sekaligus sebagai seorang penghulu tinggi agama Minakhaba. Karena fungsinya sebagai penghulu tinggi Minakhaba, Datuak Mangguang lebih sering berada di Dusun Tuah (kemudian dikenal dengan nama Dusun Tuoh, lalu jadi Dusun Tuo) yang menjadi markas besar agama Minakhaba.

Agama Minakhaba yang dibawa Ceteri Bilang adalah agama yang menyembah satu tuhan yang disebut Nibhana atau Nan Bhana. Mulanya agama monoteis yang dibawa Nabi Musa ini dibawa oleh orang-orang Kanaan keturunan Menaseh dari Babilonia ke Pandya, kerajaan kuno India sekitar 400 tahun sebelum kelahiran Isa.

Keturunan Menaseh, berbeda dengan prinsip keagamaan yang dianut oleh pengikut Ezra dan Nahemiah, memiliki sikap toleran terhadap bangsa lain. Karena itu penganut agama yang disebut orang Pandya sebagai “orang Ya” atau “pengikut Musa” ini tidak bermasalah hidup di kalangan penganut Hindu di Pandya. Lagipula, orang Menaseh dapat meyakinkan orang Hindu yang menganggap dirinya keturunan Manu bahwa Musa juga keturunan Manu.

Menurut Kitab Veda, orang-orang Hindu merupakan cucu Manu yang selamat ketika terjadi banjir besar ribuan tahun lalu. Kapal Manu beserta sejumlah pengikutnya yang setia berlabuh di Puncak Himalaya, kemudian anak cucunya bertebaran ke seluruh penjuru dunia dan membangun peradaban di Harappa dan Mahenjo-Daro.

Salah satu cucu Manu, Yadu dianggap sebagai nenek moyang orang-orang Yovana dan Ya di Palestina. Musa adalah salah satu diantara keturunan Yadu. Alikasudaro (Iskandar Agung), raja Yovana yang membangun kerajaan Balkh (Bactria) di barat India juga keturunan Manu.

Meskipun demikian pengikut Menaseh tetap mempunyai aturan: kawin dengan penganut Hindu atau Budha tidak dilarang, tapi pasangan itu harus meninggalkan agamanya.

Cateri Bilang dibesarkan sebagai penganut agama Ya yang taat. Tapi ketika melihat kepatuhan pengikut Ya kepada agamanya makin lama makin menipis, dan pengaruh Hindu makin kuat terhadap penganut Ya, Cateri Bilang mengembangkan ajarannya sendiri, yaitu Minakhabaya atau Ajaran Baru Ya, yang disingkat jadi Minakhaba saja.

Kitab suci Minakhaba tetap sama dengan yang dipercaya penganut agama Ya, yaitu Tuah atau Patatah. Kitab itu berbentuk gulungan (scroll) yang hanya dimiliki oleh para penghulu tertentu, tidak boleh dibaca sembarang orang. Gulungan Tuah dipandang sangat suci dan demikian berharga, tapi “boleh” digadaikan kalau ada anak perempuan yang tidak kunjung bersuami. Artinya, kalau ada anak perempuan tidak bersuami dalam sebuah keluarga, harga diri keluarga itu sudah hancur.

Selain membaca gulungan Tuah para penghulu tertentu, yang senior, juga membaca kitab Tamu yang ditulis oleh para penganut agama Ya di Kanaan atau Palestina dalam bahasa dan tulisan Aramaik. Kitab Tamu berisi interpretasi terhadap Tuah, juga sejumlah riwayat para pewaris Hukum Musa.

Karena kesulitan membaca tulisan aslinya, kebanyakan para penghulu menerima ajaran secara lisan dari penghulu tinggi yang paham bahasa asing.

Datuak Parpatiah Sabatang adalah salah seorang penghulu tinggi yang mampu membaca tulisan Aramaik dan pernah mengembara ke India, Parsi dan Kanaan bersama saudaranya Datuak Mangguang. Kedua datuak itu menulis sendiri buku Tamu mereka dalam aksara Aramaik.

Namun kemudian terjadi perpecahan antara kedua bersaudara itu. Datuak Parpatiah Sabatang yang sejak kecil sudah terbiasa hidup di luar istana (karena dekat dengan ayahnya yang bukan bangsawan) mengembangkan ajaran baru yang ia sebut Bodi-Caniago.

Penganut ajaran Bodi-Caniago dibagi ke dalam dua komunitas berdasarkan garis keturunan ibu. Seperti halnya pada kelompok Koto dan Piliang, kelompok-kelompok itu juga disebut adat. Oleh sebab itu ada istilah adat Bodi dan adat Caniago, yang intinya sama-sama menganut ajaran agama Minakhaba.

Datuak Parpatiah Sabatang mengakui ia terpengaruh oleh prilaku Sidharta Gautama yang mengembara dan melepaskan atribut kerajaan dari dirinya. Namun Datuak Parpatiah tidak melepas Hukum Musa atau tetap beragama Minakhaba.

Orang Minakhaba

Orang Minakhaba adalah campuran antara pribumi dengan keturunan orang Kurician yang tinggal di India Selatan. Kurician adalah etnis minoritas di India selatan yang kurang dikenal. Nenek moyang orang Kurician berimigrasi sekitar lima abad sebelum kedatangan Ceteri Bilang (masih dalam zaman Neoliticum).

Imigran Kurician yang menganut matrilineal itu meneruskan pekerjaan nenek moyang mereka di India, yaitu sebagi petani. Mereka mengajari orang pribumi bercocok tanam, membuat sawah dan membangun sistem irigasi. Mereka juga membuat mejen dari batu-batu besar (menhir).

Dalam waktu dua abad populasi orang Kurician makin meningkat. Mereka menyebar kemana-mana, kawin-mawin dengan penduduk asli. Matrilineal akhirnya jadi sistem yang diterima oleh penduduk pribumi. Agama orang Kurician mulanya agama asli Tamil (pra-Hindu), tapi karena putus hubungan dengan India dan tidak dapat membangun kelembagaan agama mereka mulai melupakan agama mereka dan beralih ke animisme, seperti anutan orang pribumi.

Dua abad setelah kedatangan imigran Kurician atau sekitar tahun 180 SM datang lagi satu rombongan imigran dari India yang berasal dari Palibothra atau Pataliputra, ibukota Kerajaan Sunga (Sungha) di utara India. Imigrasi ini disebabkan orang-orang Budha ditidas oleh penguasa Sunga yang beragama Hindu. Kuil-kuil Budha di Nalanda, Bodhgaya, Sarnath dan Mathura dibakari, penganut Budha dibunuhi dengan kejam.

Akibat kekejaman yang berlangsung selama lima tahun itu banyak penganut Budha menyelamatkan diri keluar kerajaan Sunga. Orang-orang Pataliputra sering juga disebut orang-orang Batalidarah atau satu keturunan.

Rombongan yang berimigrasi ini berdarah campuran Yunani-India (disebut Yobana India. Yobana dari Yovana=Yunani (Sanskrit)) dan mengatakan diri mereka sebagai keturunan Alikasudaro (Iskandar Zulkarnain). Mulanya mereka hidup di kerajaan Mauriya yang tenang. Tapi 185 SM Pusyamitra Sungha, seorang panglima perang kerajaan Maurya membunuh rajanya: Baradrata. Mauriya runtuh, berganti menjadi kerajaan Sunga. Raja Pusyamitra Sunga yang beragama Hindu berusaha menghapus agama Budha dengan melakukan kekejaman.

Imigran dari Pataliputra itu tidak langsung berbaur dengan masyarakat, tapi membangun pemukiman di lereng gunung Marapi. Setelah berpuluh tahun mereka turun gunung dan membangun kerajaan yang dinamakan Kerajaan Koto Batu. Rajanya yang diberi gelar Maharajodirajo kawin dengan Indojulito yang nenek moyangnya keturunan Kurician.

Peninggalan penting kerajaan Koto Batu adalah pola pendidikan anak laki-laki yang dikonsentrasikan di sebuah tempat (surau). Pola ini diilhami oleh pola pendidikan di Yunani kuno, negeri nenek moyang orang-orang Batalidarah.

Orang Kurician dan pribumi umumnya berkulit gelap atau coklat tua. Sedang rombongan Maharajodirajo yang datang kemudian berkulit putih. Percampuran antara kedua etnis berbeda kulit inilah yang menentukan warna kulit orang Minakhaba kemudian hari.

Ceteri Bilang yang datang ke Koto Batu mulanya dikenal sebagai maharishi (dalam lidah lokal jadi marasai, karena badannya kurus dan terlihat tidak terurus, tapi orang tahu ia sangat sakti). Ia lalu diangkat sebagai penasehat oleh Maharajodirajo.

Ceteri Bilang sama-sama keturunan Kurician dengan Indojulito. Karena itu anak mereka, si Jatang yang kemudian bergelar Datuak Parpatiah Sabatang berkulit lebih gelap dibandingkan kakak lain ayahnya, Datuak Mangguang.

Ketika agama Minakhaba dikembangkan oleh Datuak Mangguang dan Datuak Parpatiah Sabatang tradisi matrilineal tidak dihapuskan. Mereka merasa ada kesesuaian antara adat Kurician dengan ajaran Minakhaba yang memuliakan ibu. Karena itu keduanya sepakat menjadikan matrilineal sebagai sistem resmi agama Minakhaba.(*)

Tulisan :
Dr. Emeraldy Chatra, PGDip, M.I.Kom. Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas.

Editor : Dedy Suwadha

FANINDO

Honda Capella