
WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Sekretaris Komisi II DPRD Kepri Wahyu Wahyudin menyampaikan Kepri butuh ada Peraturan Daerah (Perda Pariwisata) di Provinsi Kepri agar di setiap kota dan kabupaten di Kepri ada Destinasi Wisata andalan yang dikelola oleh Pemerintah. Pentingnya destinasi wisata terpadu di kota dan kabupaten agar, komunitas dan paguyuban seni serta budaya yang beragam di Kepri bisa terwadahi secara bersama.
” Contohnya di Batam, daerah sekitar Punggur Laut jadi Destinasi Wisata Kuliner dan Jembatan 1 Barelang Batam jadi destinasi wisata budaya dan seni. Begitu juga di kabupaten lain, dan pemerintah provinsi yang akan menetapkannya,” kata Wahyi Wahyudin, dalam forum diskusi bersama pengurus paguyuban, praktisi pariwisata, dan insan media di Batam, Kamis (5/12/2025).
Ditambahkan Wahyu, di Kepri juga perlunya terobosan besar di sektor pariwisata untuk menjaga daya ungkit ekonomi daerah. Bahwa target kunjungan wisatawan Kepri selama ini masih terlalu rendah, hanya berkisar 2 juta lebih per tahun, sehingga tidak menantang bagi pelaku industri.
Padahal, dengan kedekatan geografis dan akses internasional yang kuat, Kepri diyakini mampu menggandakan jumlah kunjungan dibanding masa pandemi.
“Target dua jutaan itu tidak menantang. Kalau pun dua kali lipat dari 2020, seharusnya kita bisa dorong lebih jauh. Wisman yang hadir ini punya dampak besar untuk ekonomi masyarakat,” tegas Wahyu.
Dalam forum itu, Wahyu juga membeberkan kondisi fiskal daerah. APBD Kepri tahun 2026 turun signifikan dari Rp3,9 triliun menjadi sekitar Rp3,55 triliun, bahkan nilai riilnya hanya sekitar Rp3,3 triliun setelah dikurangi beban utang sebesar Rp255 miliar.
Total penurunan mencapai lebih dari Rp600 miliar, termasuk dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“APBD kita turun drastis. Karena itu, kita butuh dukungan semua pihak agar masyarakat tetap makmur dan ekonomi tetap bergerak meski pemerintah tidak punya anggaran besar,” ujarnya.
“Yang penting masyarakat sejahtera, bukan besar kecilnya uang pemerintah,” tambahnya.
Wahyu menekankan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum penting karena Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) mulai dibahas. Dokumen itu berlaku hingga 40 tahun, sehingga masukan dari komunitas, paguyuban etnis, akademisi, dan media sangat diperlukan.
Sebelumnya, Surya Wijaya selaku Praktisi pariwisata Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sekaligus Founder Asosiasi Konsultan Pariwisata Bahari Indonesia (Aspabri) menyampaikan peran media dalam pariwisata sudah menjadi unsur Utama.
“Media bukan sekadar pelengkap. Media adalah bagian penting dari pariwisata,” ucap Surya membuka pembicaraan.
Meski dianugerahi ribuan pulau dan keberagaman etnis, Surya melihat Kepri masih tertinggal dalam satu hal. Yaitu, destinasi wisata berbasis budaya.
“Yang ramai hari ini itu hotel dan resor. Tapi itu milik swasta. Mereka punya pasar dan promosi sendiri,” tegasnya.
Menurutnya, Batam kini hanya menjadi kota singgah: “Orang Singapura datang hanya makan, belanja, selesai dan langsung pulang.” tegasnya.
Wisatawan asing yang mencari pengalaman budaya justru terbang ke Jawa atau daerah lain. Padahal, Surya mengamini
Di Kepri, tambahnya, hanya sedikit objek wisata yang dikelola dan dipromosikan berbasis budaya lokal. Ia memberi contoh Pucak Beliung, yang dikembangkan komunitas dan berhasil menarik kunjungan reguler.
“Itu saja bisa mengirim wisatawan setiap bulan. Bayangkan kalau ada banyak destinasi seperti itu,” ujarnya penuh harap. (*/r)
@wartakepri Berita Wisata – Kepri Butuh Perda Pariwisata agar Setiap Kota ada Destinasi Wisata Unggulan dan Terpadu 2025 #WisataKepri #PariwisataKepri #ForumJurnalisPariwisata #Kepri #wartakepritv ♬ original sound – WARTAKEPRI TV
Editor : Dedy Suwadha
@wartakepri Terimakasih Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura partisipasi di Ulang Tahun ke 10 Media WartaKepri.co.id , ( 22 Desember 2015 - 22 Desember 2025) #hbd❤️ #wartakepritv #kepri #batam #wartakepri.co.id ♬ Happy Birthday to You acoustic guitar - C_O
























