ISLAMABAD – Pernyataan keras Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, yang menyebut Israel sebagai “kanker” memicu polemik internasional, terutama menjelang perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat.
Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Asif di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah. Ia juga menyebut Israel sebagai “kutukan bagi umat manusia”, yang kemudian memancing reaksi keras dari pemerintah Israel.
Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, langsung mengecam pernyataan itu. Mereka menilai ucapan tersebut tidak pantas dilontarkan, apalagi oleh pejabat negara yang tengah berperan dalam upaya mediasi perdamaian.
“Pernyataan seperti itu tidak dapat ditoleransi, terlebih dari negara yang mengklaim sebagai mediator,” demikian tanggapan resmi pihak Israel.
Ketegangan ini muncul di saat Pakistan tengah memainkan peran penting sebagai tuan rumah dan mediator dalam perundingan damai antara Iran dan AS. Upaya diplomasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian negosiasi untuk meredakan konflik besar yang pecah sejak awal 2026.
BACA JUGA Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Kapten Zulmi Aditya, Total 3 TNI Gugur
Konflik itu sendiri dipicu oleh serangan militer gabungan AS dan Israel ke Iran, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan.
Di tengah situasi yang sensitif ini, pernyataan Asif dinilai berpotensi memperkeruh suasana dan mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung. Bahkan, laporan menyebut unggahan tersebut sempat dihapus setelah menuai kritik luas dari berbagai pihak.
Sementara itu, Pakistan tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga peran sebagai mediator netral. Negara tersebut sebelumnya aktif mendorong gencatan senjata sementara antara Iran dan AS, meski implementasinya di lapangan masih diwarnai pelanggaran.
Situasi ini mencerminkan kompleksitas geopolitik di Timur Tengah, di mana pernyataan politik dapat berdampak luas terhadap stabilitas kawasan, termasuk peluang tercapainya perdamaian antara pihak-pihak yang bertikai. (*)
Sumber : Kompas.com
Editor : Dedy Suwadha






























