Home Berita Utama Bank Indonesia Buka Suara Usai Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

Bank Indonesia Buka Suara Usai Rupiah Tembus Rp17.400 per Dolar AS

Dolar dan Rupiah
Dolar dan Rupiah. Foto Istimewa Dokumentesi
PANBIL MALL   Grand Mercure Batam

WARTAKEPRI.co.id, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp17.400 per dolar AS pada Selasa (5/5/2026). Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) angkat bicara dan menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, Erwin Hutapea, menyatakan bahwa bank sentral terus berada di pasar untuk memastikan pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.

Menurut BI, pelemahan rupiah saat ini tidak terjadi secara spesifik di dalam negeri, melainkan dipengaruhi faktor eksternal. Tekanan global, termasuk penguatan dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan internasional, turut menyeret mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk meredam volatilitas, BI mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari intervensi di pasar valuta asing (spot), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga intervensi pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder juga dilakukan guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

Berikut perbandingan pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir:

Tanggal Posisi Rupiah (per USD) Keterangan
4 Mei 2026 Rp17.394 Ditutup melemah
5 Mei 2026 Rp17.400 Menyentuh level psikologis baru

 

Tabel tersebut menunjukkan tren pelemahan rupiah yang berlanjut dalam dua hari terakhir, sekaligus menandai posisi terendah dalam periode terkini.

BI memastikan akan terus memantau perkembangan pasar dan mengambil langkah stabilisasi yang diperlukan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar serta mendukung ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global.

Ke depan, BI juga mengajak pelaku pasar dan masyarakat untuk tetap tenang serta tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi jangka pendek, mengingat fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat dalam menghadapi tekanan eksternal. (*)

Editor : Dedy Suwadha

WhasApp

Google News WartaKepri Banner DPRD Batam 2026