WARTAKEPRI.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan, periode 29 Mei hingga 4 Juni 2026. Dalam laporan terbarunya, BMKG menyebut keberadaan Siklon Tropis JANGMI menjadi salah satu faktor utama yang memicu peningkatan aktivitas cuaca signifikan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer saat ini menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan akibat pengaruh sirkulasi siklonik dan perlambatan kecepatan angin di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang.
Beberapa wilayah yang diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meliputi sebagian wilayah Maluku, Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Kalimantan dan Sumatera bagian tertentu.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan genangan air, khususnya di daerah rawan saat curah hujan meningkat.
Sementara itu, kondisi cuaca di wilayah Indonesia bagian barat umumnya masih dipengaruhi aktivitas gelombang atmosfer dan kelembapan udara yang cukup tinggi sehingga tetap berpotensi menimbulkan hujan lokal pada siang hingga malam hari.
BMKG mengimbau masyarakat, nelayan, dan pengguna transportasi laut agar terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru, terutama bagi wilayah yang terdampak langsung aktivitas Siklon Tropis JANGMI.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem yang dapat terjadi sewaktu-waktu dalam beberapa hari ke depan.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
Analisis indikator iklim global terkini menunjukkan kondisi El Niño di Samudra Pasifik. Hal ini terlihat dari indeks Niño 3.4 sebesar +0,67 dan nilai SOI sebesar -12,4. Kondisi tersebut secara umum dapat berdampak pada berkurangnya potensi curah hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meskipun demikian, dinamika atmosfer skala regional masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah, khususnya di Indonesia bagian utara.
Dalam sepekan ke depan, Siklon Tropis JANGMI diprakirakan berada di sekitar Laut Filipina, sebelah utara Papua. Sistem ini berpotensi membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) dan daerah pertemuan angin (konfluensi) yang memanjang dari Samudra Pasifik utara Maluku Utara hingga utara Papua.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah sekitarnya. Selain itu, terdapat potensi pembentukan sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan yang mampu membentuk daerah konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Cina Selatan hingga Kepulauan Natuna, sehingga turut mendukung peningkatan potensi hujan di wilayah tersebut.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi bergerak menuju fase 6 (Western Pacific) sehingga kurang berpengaruh di wilayah Indonesia, dan Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
Meskipun demikian, Gelombang Rossby Ekuatorial masih diprediksi aktif yang bergerak ke arah barat dan memberikan potensi pertumbuhan awan hujan di Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian utara. Pengaruh sistem regional seperti Siklon Tropis JANGMI, sirkulasi siklonik, serta aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial tersebut perlu diwaspadai karena masih dapat meningkatkan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya bagian utara.
Potensi Hujan Sepekan ke Depan
Periode 29 – 31 Mei 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Utara, Kep. Riau, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Nihil.
- Angin Kencang: Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua Barat Daya.
Periode 1 – 4 Juni 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Kep. Riau, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
- Siaga (hujan lebat – sangat lebat): Papua Pegunungan.
- Angin Kencang: Aceh, Kalimantan Tengah, NTT, Sulawesi Selatan, dan Maluku.
Imbauan
Menghadapi potensi cuaca signifikan yang masih berpeluang terjadi dalam beberapa hari kedepan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. Pengendara kendaraan bermotor juga perlu waspada terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, yang berpotensi mengganggu kelancaran perjalanan.
Selain itu, masyarakat diimbau mewaspadai potensi pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, dan sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh, serta membatasi aktivitas di ruang terbuka saat hujan disertai angin kencang dan petir.
Untuk masyarakat pada wilayah yang sudah memasuki musim kemarau atau berada pada periode peralihan, BMKG mengimbau untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya. Selain itu, perlu dipahami bahwa musim kemarau dan periode peralihan bukan berarti tidak ada hujan. Hujan masih berpotensi terjadi, khususnya saat kondisi atmosfer masih cukup lembap. Oleh karena itu, masyarakat tetap perlu waspada akan cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Kondisi cuaca yang dinamis tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan berbagai aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti olahraga dan wisata. Oleh karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG, antara lain laman http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem.
Informasi ini akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri. (*)
Editor Dedy Suwadha
































