Home Berita Utama Inflasi Kepri Mei 2026 Melandai, Harga Cabai dan Sayuran Masih Jadi Pemicu...

Inflasi Kepri Mei 2026 Melandai, Harga Cabai dan Sayuran Masih Jadi Pemicu Utama

BI Kepri dan Inflasi Kepri Ekonomi Kepri
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau. Foto Dokumentasi
Banner DPRD Batam 2026

WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Laju inflasi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Mei 2026 masih berlanjut, meski menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Mei 2026 mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 0,43 persen.

Secara tahunan, inflasi Kepri mencapai 3,92 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 3,06 persen. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 3,08 persen.

Perkembangan Inflasi Kepri Mei 2026

Indikator April 2026 Mei 2026
Inflasi Bulanan (mtm) Kepri 0,43% 0,38%
Inflasi Tahunan (yoy) Kepri 3,06% 3,92%
Inflasi Nasional (yoy) – 3,08%
Selisih Kepri terhadap Nasional – +0,84 poin

 

Di wilayah Sumatera, Kepri tercatat sebagai provinsi dengan inflasi tertinggi keempat setelah Aceh, Sumatera Utara, dan Riau.

Inflasi Tertinggi di Sumatera

Provinsi Inflasi Tahunan (yoy)
Aceh 5,12%
Sumatera Utara 4,35%
Riau 3,95%
Kepulauan Riau 3,92%

 

Sementara itu, seluruh daerah penghitungan IHK di Kepri mencatat inflasi selama Mei 2026.

Inflasi Kabupaten/Kota di Kepri

Daerah Inflasi Mei 2026 (mtm)
Kabupaten Karimun 0,63%
Kota Tanjungpinang 0,59%
Kota Batam 0,33%

 

Cabai dan Sayuran Jadi Penyumbang Utama

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kenaikan sebesar 1,27 persen (mtm) dan memberikan andil inflasi 0,37 persen.

Kenaikan harga terutama terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura seperti:

  • Cabai merah
  • Tomat
  • Sawi hijau
  • Ketimun

Peningkatan harga tersebut dipicu berakhirnya masa panen raya di wilayah Sumatera bagian utara sehingga pasokan mulai berkurang.

Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan ini dipengaruhi dampak rambatan harga energi global yang mendorong penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

Kelompok Pengeluaran Penyumbang Inflasi

Kelompok Pengeluaran Inflasi/Deflasi Andil
Makanan, Minuman dan Tembakau 1,27% 0,37%
Transportasi 0,25% 0,03%
Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya -1,35% -0,10%

 

Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi 1,35 persen. Penurunan harga emas perhiasan seiring koreksi harga emas global menjadi faktor utama penyebab deflasi pada kelompok ini.

TPID Perkuat Pengendalian Harga

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus memperkuat koordinasi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Berbagai langkah yang telah dilakukan sepanjang Mei 2026 antara lain:

  1. High Level Meeting (HLM) TPID Kepri dan Kota Tanjungpinang.
  2. Publikasi iklan layanan masyarakat terkait inflasi.
  3. Edukasi dan sosialisasi pengendalian inflasi kepada masyarakat.
  4. Operasi pasar dan pasar murah di Kabupaten Lingga, Kota Tanjungpinang, dan Kabupaten Karimun.
  5. Capacity Building TPID se-Kepri serta penguatan kelembagaan klaster pangan.

Risiko Inflasi Juni 2026 Perlu Diwaspadai

Memasuki Juni 2026, Bank Indonesia mengidentifikasi sejumlah faktor yang berpotensi mendorong inflasi, antara lain:

Faktor Risiko Dampak Potensial
El Nino lemah hingga moderat Gangguan produksi pangan
Kenaikan harga energi global Penyesuaian BBM, LPG dan biaya logistik
Berakhirnya musim panen Sumatera Utara Kenaikan harga hortikultura

 

Meski demikian, terdapat faktor yang diperkirakan dapat menahan tekanan inflasi, yakni berlanjutnya normalisasi harga emas perhiasan.

Target Inflasi Tetap Terjaga

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony P. Widijarto, menegaskan bahwa Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi melalui peningkatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi.

Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi Kepri tetap terkendali hingga akhir tahun 2026 dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen, sekaligus mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. (*)

Editor Dedy Suwadha

WhasApp

Google News WartaKepri