WARTAKEPRI.co.id, BATAM – Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, resmi memulai penataan wajah Kota Batam dengan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V, Jumat (10/7/2026).
Pembangunan bundaran yang berada di ruas jalan menuju Bandara Internasional Hang Nadim tersebut menjadi langkah awal program penataan ruang kota yang digagas BP Batam untuk menghadirkan kawasan perkotaan yang lebih indah, bersih, tertata, sekaligus memiliki identitas budaya yang kuat. Ke depan, bundaran ini diproyeksikan menjadi ikon baru yang menyambut setiap wisatawan yang datang ke Batam.
Prosesi peletakan batu pertama turut dihadiri Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, jajaran Anggota dan Deputi BP Batam, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Batam, serta pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.
Amsakar menegaskan, penataan wajah kota merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam meningkatkan kualitas kawasan perkotaan sekaligus mendukung Batam sebagai kota investasi dan destinasi internasional.
Menurutnya, Presiden Republik Indonesia berulang kali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, dan keteraturan kota agar mampu mencerminkan kemajuan suatu daerah.
“Presiden berulang kali mengingatkan agar kabupaten dan kota dirawat dengan baik. Jangan sampai kumuh, semrawut, dipenuhi reklame yang tidak tertata ataupun kabel yang mengganggu estetika kota. Karena itu, kemarin ada Gerakan Indonesia Asri dan di Batam kita laksanakan melalui Gerakan Batam Asri,” ujar Amsakar.
Ia mengatakan, pembangunan Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan menjadi awal dari penataan taman dan bundaran di berbagai titik Kota Batam.
“Untuk menjadikan kota ini indah dan bagus, salah satu ikhtiar kita adalah menata taman dan bundaran yang ada di Batam agar memiliki desain yang mencerminkan identitas daerah. Hari ini kita sedang membangun sejarah baru bagi Kota Batam,” katanya.
Amsakar menjelaskan, pembangunan bundaran tersebut terlaksana melalui kolaborasi BP Batam dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) PT Uma Graha Berkah. Dengan skema tersebut, proyek dapat direalisasikan tanpa menggunakan APBD maupun anggaran BP Batam.
Ia menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang mendukung upaya mempercantik wajah Kota Batam melalui kolaborasi tersebut.
Selain itu, BP Batam juga melibatkan Lembaga Adat Melayu Kota Batam dalam penyusunan konsep pembangunan. Berbagai masukan diberikan, mulai dari penamaan hingga penyempurnaan desain arsitektur bundaran.
Melalui proses tersebut, nama bundaran yang semula direncanakan sebagai Bundaran Hang Nadim akhirnya disepakati menjadi Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan Yang Dipertuan Muda V sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh sejarah penting di Kepulauan Riau.
Menurut Amsakar, penamaan tersebut menjadi simbol komitmen BP Batam dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dengan pelestarian sejarah dan budaya Melayu.
Secara arsitektur, tugu bundaran mengadopsi bentuk tanjak, penutup kepala tradisional Melayu yang melambangkan kehormatan, kewibawaan, dan jati diri masyarakat Melayu. Sementara unsur tepak sirih dihadirkan sebagai simbol penyambutan tamu yang mencerminkan keramahan budaya Melayu.
“Kita ingin semangat historis tetap hidup, namun pada saat yang sama Batam harus terus melangkah menjadi kota yang maju tanpa meninggalkan jati diri negerinya. Inilah yang ingin kita hadirkan melalui Bundaran Raja Ali Marhum Pulau Bayan,” jelasnya.
Melalui pembangunan ini, BP Batam berharap wajah Kota Batam semakin representatif sebagai bandar madani yang inovatif, berkelanjutan, dan berbudaya, sekaligus memperkuat daya saing daerah sebagai tujuan investasi, perdagangan, dan pariwisata nasional maupun internasional.
Sumber: Sthefani Barlian, Direktur Diseminasi Informasi dan Hubungan Antar Lembaga BP Batam.





























